Sejak saat itu, hubunganku dengan Freya bertambah dekat. Aku tidak lagi menganggap dia seperti lalat atau sejenis makhluk yang menganggu ketenangan. Malahan aku merasa tidak nyaman jika ia tidak berada di dekatku. Dulunya, ke mana pun aku pergi ia selalu ikut. Sekarang kebalik, ke mana dia pergi, aku mengikutinya, tapi hanya sebatas di sekolah dan jalan-jalan di luar. Pokoknya kami berdua selalu nempel deh. Aku juga sudah berani menggandeng tangannya di depan publik, juga memeluknya bahkan mengecupnya. Namun sayangnya aku tidak pernah berani lagi menyentuh bibirnya sejak malam itu. Tanpa sadar aku bisa merasa malu, itu salah satu alasan. Alasan yang satu lagi, sampai saat ini aku belum tahu, kami ini pacaran... atau tidak?
Aku tidak pernah tahu jawabannya. Karena meski aku sudah terbuka total untuknya, Freya malah terlihat aneh. Ia tidak ingin nempel-nempel terus denganku, selalu merasa keberatan jika disentuh olehku. Ia memang tidak pernah mengatakan secara langsung kalau ia keberatan. Aku mengetahuinya dari mimik wajahnya yang entah kenapa terlihat sangat tersiksa, sangat tertekan. Aku sangat ingin tahu kenapa, tapi ia tidak pernah mau mengatakannya meski kutanya beribu-ribu kali, seperti saat ini.
Seperti biasa, pada jam istirahat aku menempelkan bokongku ke bangku perpustakaan dan membaca buku, sekalian menunggu kedatangan Freya di sebelahku. Tapi anehnya, sudah kutunggu 10 menit, ia tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Merasa tidak sabaran, akhirnya pertama kali seumur hidup aku yang pergi mencari orang. Dengan berat hati kututup bukuku lalu beranjak pergi dari perpustakaan.
Kebetulan, baru saja aku keluar dari pepustakaan, aku berpapasan dengan Thomas. Aku langsung saja bertanya padanya, "Hei, apa kau ada lihat Freya?"
Thomas dengan wajah seperti habis lihat hantu menjawab pertanyaanku, "Aa.. e.. di.. dia di.. k..kantin.. dia di kantin, ya, di kantin."
Tanpa sadar aku nyengir. "Ok, terima kasih, Tom," ucapku sambil berlalu, tidak lupa memerhatikannya yang serasa menciut itu. Oh ya, lupa kuberitahu. Sejak Freya mengumumkan hubungan palsu kami waktu itu, ia tidak pernah mengangguku lagi. Dan di tambah dengan isu aku mendapatkan beasiswa perguruan tinggi, ia, Brian, dan lainnya yang suka mengangguku langsung menciut di dekatku, merasa takut. Temanku juga tambah banyak, guru-guru mulai bersosialisasi denganku seperti biasa, tanpa ada raut benci lagi. Aku menyukai keadaan yang damai seperti ini.
Tanpa membuang waktu, aku segera melaju menuju kantin, dan kulihat ia sedang duduk sendirian di ujung tanpa ada makanan atau minuman di atas mejanya. Matanya menerawang entah ke mana. Aku mendekatinya.
"Hei."
Ia yang mendengar suaraku langsung menoleh ke arahku setelah tersentak sekali. Sepertinya baru kembali dari lamunannya. "Oh, kamu, Elwin."
Aku duduk di hadapannya. "Sedang apa?" tanyaku.
Ia menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa," jawabnya pelan, "kau mencariku?"
"Kenapa kau tidak mencariku ke perpustakaan?" tanyaku balik. Rasanya janggal tidak lagi memanggil dengan gue-elo.
Aku dapat menangkap ia mengerut alisnya sekilas. "Tidak kok. Aku hanya sedang tidak ingin."
Aku mempertajam tatapanku padanya. "Kau menghindariku?" tanyaku yang tepat sasaran. Ia membisu mendadak. Aku menggenggam tangannya yang bebas di meja itu. "Freya.."
Ia mengerutkan kedua alisnya lagi. "Jangan, Win. Sini banyak orang. Malu kan kalau dilihat?"
Bukannya melepaskan tanganku, aku justru meremas tangannya dengan kedua tanganku. "Tidak perlu khawatir. Siapa juga yang tidak tahu kalau kita adalah pasangan sekarang? Menurut pengumumanmu waktu itu?" ujarku lalu mengecup tangannya itu. "Kenapa kau menghindariku, Frey? Apa aku berbuat salah?"
Sesaat diam, ia lalu mengenggam tautan tangan kita dengan tangannya yang satu lagi. "Tidak kok, Win. Mana mungkin aku menghindarimu? Aku tidak akan mungkin menghindari orang yang kusukai."
Aku tersenyum mendengar jawabannya lalu melepaskan tautan tanganku beralih pindah duduk di sampingnya, merangkulnya. "Ujian sudah dekat. Setelah lulus nanti, apa kau sudah memutuskan ke perguruan mana?"
Ia menggeleng dengan pelan. "Belum," jawabnya.
"Kalau begitu, apa kau mau satu universitas denganku?"
Ia lama membisu setelah pertanyaan itu. Sampai akhirnya ia tetap tidak menjawabku, hanya tersenyum kecil saja. Aku balas tersenyum padanya. "Kuanggap itu sebagai iya," lanjutku lalu menyandarkan kepalaku di pundaknya.
***
Waktu berlalu dengan cepat. Baru saja aku mengatakannya, ujian sudah tiba. Di hari-hari ujian ini aku tidak bertemu dengan Freya. Kami masing-masing fokus untuk belajar sendiri dan tidak saling bertelepon ataupun sms-an agar tidak menganggu konsentrasi. Jadi bisa dibilang, 4 hari itu sangat sulit kulewati tanpa melihat sosok Freya.
Ujian selesai dan kami semua hanya tinggal menunggu hari pengumuman. Sebelum hari pengumuman tiba, sekiranya ada waktu 2 mingguan yang kosong tanpa kerjaan. Sudah banyak kali aku berusaha menghubungi Freya melalui kontak apapun yang ada, mulai dari telepon, sms, email, twitter, dan lain sebagainya. Namun sejak mulai ujian sampai hari ini, aku mempunyai info nihil tentang dirinya. Mau berapa ribu kalipun aku berusaha dan berusaha mencarinya, aku tetap tidak tahu dimana dirinya, sampai kudatangi rumahnya pun ia tidak ada. Aku resah dan bingung. Berhari-hari aku mencarinya sampai aku putus asa dan menunggu saja sampai hari pengumuman tiba.
Hari-hari berlewat serasa abad-abad berlewat. Setelah penantian yang panjang, hari pengumuman telah tiba. Ini adalah pengumuman yang positif. 100% dari sekolah kita lulus semua. Dari ujung ke ujung semua siswa yang hadir senangnya bukan main. Masing-masing dari mereka mulai mencoret-coret seragam mereka. Momen seperti ini sudah ditunggu-tunggu oleh semuanya, sayangnya tidak denganku. Aku tidak bahagia, aku juga tidak mencoret seragamku. Aku hanya berdiri sendirian sambil melamun. Freya tidak ada.
Aku kehilangan Freya.
**********************************************************************************************
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
General Fiction(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
