Malam itu berakhir, hubungan kami menjadi lebih dekat. Sekarang Julina sudah tidak segan-segan lagi memeluk maupun menciumku di depan umum. Meskipun suasana sedang ramai atau serius, jika ia mau ia tidak akan ragu menunjukkan kasih sayangnya padaku, walaupun aku yang sebagai cowoknya yang segan sih. Tapi tidak apa deh, aku tidak rugi juga. Namun sepertinya dengan begitu, kepopularitasku jadi menurun. Benar deh, pernah sekali waktu Julina menciumku, aku menangkap beberapa cewek yang berdiri tak jauh dari kami memasang wajah yang sangat kesal dan ingin menangis lalu berlari menjauh. Haish, susah juga jadi cowok popular (narsis betul).
Tidak hanya hubunganku dengan Julina yang berubah, hubunganku dengan Jacky dan Clyndie juga berubah. Tidak hanya sebagai teman, Jacky sepertinya sudah menganggapku sebagai saudara atas keberhasilan yang telah kuperbuat, terutama soal malam pertama itu. Ia bahkan membuat pesta kecil untuk merayakan terlepasnya kejantananku. Kejam banget dia. Namun beda dengan Clyndie. Kami memang masih sering bertemu dan bersama, tapi sepertinya ia sudah mulai menjaga jarak denganku. Aku tidak tahu kenapa, padahal aku sudah menuruti apa yang ia katakan padaku dengan benar kok. Dasar perempuan aneh.
Kukira keadaan dan hubungan seperti ini akan terus berlanjut hingga akhir, namun nyatanya tidak. Semua kebahagiaan yang telah kukumpulkan dengan susah payah langsung pupus pada hari itu.
Hari ini aku berkunjung lagi ke rumah Julina, untuk menghabisi waktu liburan nasional. Untuk menghemat biaya, kami memutuskan untuk menyewa DVD dan nonton saja di rumah ketimbang bayar tiket masuk bioskop, belum lagi ongkos jalan. Untuk hari ini, aku yang berkuasa jadi aku memilih untuk menonton film Transformers. Julina yang dari dulunya memang tidak suka film robot-robotan ini hanya cemberutan sambil memainkan ponselnya. Tanpa kulirik pun aku tahu ia sedang membuat status di facebooknya kalau pacarnya seharian tidak peduli padanya karena sibuk nonton film. Aku hanya menyeringai kecil waktu menyadari memang itu yang dia tulis di facebooknya.
Untuk saat ini, aku menonton film tersebut dengan sangat seru dan tentunya malas untuk pergi. Tapi sialnya, rasa sakit yang mendadak menyerang telak ke perutku, membuatku mau tidak mau harus meninggalkan film kesayanganku ini. Dengan tangan yang memegang perutku, aku memencet tombol pause di remote dengan tanganku yang sebelahnya lalu berseru kepada Julina, "Aku mau ke belakang. Jangan pernah berpikir untuk menggantinya!"
"Iya, iya, aku tahu. Pergi sana, gi!" balasnya berseru padaku dengan kesal dan kembali masuk ke dalam dunia mayanya. Waduh, pasti lagi cari mangsa buat curhat.
Argh, aku gak punya waktu lagi untuk menghiraukannya. Dengan cepat aku mulai mengosongkan seluruh saku celanaku dan bajuku –kebiasaan, takut jatuh- kemudian dengan secepat kilat langsung melesat ke WC yang ada di samping dapur.
Serangan itu akhirnya menghilang setelah 3 menit aku duduk di dalam WC. Setelah proses buang hajat berakhir, itu adalah saat-saat yang paling nyaman seumur hidup. Setelah membersihkan diri, aku dengan terburu-burunya keluar, sebab film sedang menungguku. Haha.
Segera setelah aku meletakkan bokongku di sofa, film favoritku kumainkan kembali. "Akhirnya, plong juga! Jun, kamu gak otak-atik filmnya, kan?" tanyaku padanya sambil melirik ke arahnya.
Ia diam. Ia tidak membuat respon kepadaku, matanya fokus ke ponselnya, mengabaikanku. Karena serius sendiri, aku juga memutuskan untuk tidak mengabaikannya dan kembali fokus ke filmku. Pada saat kami duduk berduaan begini, biasanya aku selalu akan bersandar ke pundaknya ataupun tiduran di pangkuannya. Namun ketika baru saja aku hendak bersandar, ia dengan cepatnya menghindar dariku, membuatku hampir terjatuh karenanya. "Hei, kok mendadak menghindar sih?"
Ia masih tetap diam sambil menatap ponseln.... tunggu, itu.. itu kan ponselku?!
Dengan satu gerakan yang cepat, aku segera merebut ponselku dari tangannya. "Ap, apa yang kau lakukan dengan ponselku?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
General Fiction(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
