Singkatnya, malam ini aku berhasil menarik seekor betina ini kembali ke atas ranjang tempat favoritku. Di sanalah aku menjadi Elwin yang sebenarnya. Selama ini tidak ada satupun wanita yang menolakku. Akulah yang berkuasa. Ingin berapa kali, berapa lama, tidak ada yang bisa melarangku. Selama aku mau, tidak ada satu pun wanita yang bisa menghentikanku. Aku sudah mengerti bagaimana menjadi seorang Raja itu. Hanya dengan bermodal uang dan ketampanan, tidak ada kata tidak untukku. Sekarang, hanya inilah satu-satunya yang menyenangkan bagiku.
Tanpa terasa, aku mulai hidup dengan dua kepribadian. Satu di saat aku yang serius bekerja, satu lagi di saat aku berada di atas ranjang. Aku sudah terbiasa dengan kehidupanku sekarang. Tiada malam yang terlewat tanpa wanita yang telanjang di sampingku. Tidak peduli mereka orang yang sama atau berbeda, asal mereka cantik dan menarik perhatianku, mereka akan kepersembahkan posisi ratu di dunia ranjangku.
Waktu terus berlalu. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku hidup dengan dua kepribadian seperti itu, yang pasti, aku yakin, sudah cukup lama. Buktinya, aku mulai sangat ketergantungan dengan seks. Jika satu hari aku tidak melakukannya, bisa-bisa aku akan jatuh sakit karena tidak bisa menahan hasrat yang terus bergelora ini.
Hari ini seperti biasanya, ketika aku sudah siap mengenakan topeng serius, aku pun menanggalkannya dan hadir di pub langgananku. Baru saja aku mendaratkan kakiku persis di dalam pub, pelukan yang bertubi-tubi sudah datang menyerangku dari segala arah.
“Elwin!” seru setiap wanita yang melihat sosokku. Tanpa sadar aku tersenyum lebar lalu mengecup mereka satu persatu. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sepopuler ini sampai saat ini, tapi aku menikmatinya.
“Sayang, malam ini kamu pilih siapa?” tanya seseorang yang memeluk lenganku dengan rambut keriting merah sepinggang. Aku mengenalinya dengan nama Yesni.
Sebuah senyuman kutebarkan lagi untuknya. Tentu saja, sebuah senyuman yang mematikan, senjata andalanku. “Bagaimana kalau kamu saja?” tawarku. Ia langsung terlihat bersemangat.
“Tentu saja, aku tidak keb—“
“Hei, kamu baru saja dengan Elwin kemarin, sudah saatnya giliranku!” potong perempuan lain yang berada di sampingnya dengan tiba-tiba. Di mulai darinya, dalam sekejap sekumpulan perempuan ini mulai rebut soal siapa yang akan bersamaku malam ini. Diam-diam aku menghela napas. Inilah resikonya menjadi orang populer. Tapi kalau membiarkan mereka debat, sampai pagi pun hasilnya tidak akan ada. Lebih baik aku saja sendiri yang turun tangan.
Dengan pelan aku meleraikan mereka. “Sudah, sudah,” ucapku mengambil perhatian mereka. Aku bisa menangkap wajah mereka yang masing-masing sudah kesal ingin bertengkar memperebutkanku. Aku tersenyum lagi. “Begini saja, daripada kalian rebut, biar aku saja yang pilih, ya?”
“Ok, kami setuju,” ucap salah seorang dari mereka. “Jadi, siapa yang akan kamu pilih?”
Aku memainkan daguku lalu mengabsen mereka mulai dari kanan ke kiri. Yesni, sudah. Dina, sudah. Risa, sudah. Mira, sudah. Tesa, sudah. Fera, sudah. Sudah, sudah, sudah, sudah. Hampir semua yang kukenal dari mereka ini sudah kutiduri, bahkan berkali-kali. Aku mulai bosan kalau harus melewati malam dengan salah satu dari mereka. Aku berdeham begitu tidak menemukan pilihanku. “Apa tidak ada or—“
Aku yang sebenarnya ingin protes karena sedikitnya persediaan wanita di sini langsung berhenti, ganti diam menatap ke arah ujung sana. Di sana aku bisa melihat seorang perempuan muda yang duduk menyendiri mengasingkan diri dari kumpulan orang yang ada di sebelahnya.
Pakaiannya memang minim, tapi terlihat lebih rapi dari yang lainnya. Wajahnya yang tertunduk itu terlihat pucat, tapi cantik. Garis wajahnya tegas, rambutnya alami tidak diluruskan ataupun dikeritingkan. Sosoknya yang sama tapi berbeda itu membuatku tertarik kepadanya. Aku menyenggol salah satu perempuan yang berdiri di sampingku. “Apa kau kenal dengan wanita yang duduk di sana?” tanyaku padanya seraya menunjuk wanita itu tanpa melepaskan pandanganku darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
General Fiction(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
