Aku tidak pernah lagi pergi ke pub. Semua telepon yang datang tak kuhiraukan semua, bahkan sampai mengganti nomor ponsel baru. Pikiranku kosong. Seluruh pekerjaan kulakukan dengan kacau. Tiada satu pun proyek yang membuahkan hasil. Banyak perusahaan yang protes karena hasil pekerjaanku, tapi tetap saja, aku tidak mendengarnya. Tidak ada satupun ucapan dari mereka semua yang bisa masuk ke dalam telingaku. Telingaku seperti rusak. Otak dan pikiranku benar-benar sangat hening sekarang. Tidak ada apa-apa yang bisa kupikirkan, kecuali satu kata.
AIDS.
Setiap mengingat kata tersebut, dengan tanpa sadarnya aku terus menelan ludah. Keringat dingin terus bercucuran. Aku takut. Itu pasti tidak nyata, itu pasti hanya mimpi. Aku sangat takut, tapi… aku harus memastikannya.
Dengan tangan yang gemetaran aku menggenggam gagang telepon, bertelepon, membuat perjanjian dengan pihak kedokteran. Aku harus memastikannya. Loira pasti hanya bercanda kepadaku, aku sangat yakin itu.
Keesokan harinya, yang bagaikan beribu-ribu abad telah tiba. Dengan raga yang siap aku pergi ke rumah sakit, walaupun itu artinya batinku masih sangat belum siap. Selesai pengecekan, aku menunggu hasil dengan perasaan yang tidak menentu. Di satu sisi aku sangat takut, di sisi lain aku yakin aku negatif. Pikiranku terus bolak-balik antara dua keyakinan itu sampai hasilnya keluar. Mataku terbelalak sangat lebar ketika mendengar hasilnya .…
“Anda positif HIV, Pak.”
Sekarang aku bisa merasakan langit dan dunia seolah runtuh menimpaku. Seluruh tubuhku mati rasa. Aku tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi. Harapan dan masa depan, semuanya telah hancur. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Setelah berterima kasih kepada sang dokter, aku melangkah dengan lunglai keluar dari ruangan itu, menghadapi dunia yang sudah gelap bagiku.
***
Setelah kepulanganku dari rumah sakit, aku tidak pernah lagi berangkat ke kantor. Aku terus mengurung diri di dalam rumahku, rumah yang sepi. Aku sendirian di rumah yang besar dan mewah ini. Setelah keberhasilanku mencapai posisi Direktur, aku terus merenovasi ulang rumahku, menjadikannya sebagai sebuah istana. Namun, semegah apapun, tiada artinya. Aku sendirian di sini, tidak ada orang lain. Tidak ada yang bisa kuberikan kenikmatan ini. Tidak ada.
Aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Sejak mengetahui diriku mengidap penyakit mematikan itu, aku benar-benar putus asa. Tanpa pikir panjang, aku mengundurkan diri dari perusahaan, mengundurkan diri dari posisi Direktur yang begitu susah payah kudapatkan. Ya, aku membuang posisi itu. Sudah tidak ada gunanya lagi posisi itu bagiku. Karena aku, sendirian.
Aku tidak punya Ayah untuk kuberi, aku tidak punya teman untuk kuberbagi, aku tidak punya istri untuk… kukasihi. … Istri.
Tanpa bisa kukendali, otakku mulai bermunculan sosok istriku, Freya. Aku membuka laci meja yang ada di hadapanku ini dan mengambil sesuatu, amplop. Aku membuka amplop tersebut. Surat perceraian.
Sudah hampir setengah tahun berlalu ketika surat ini pertama kali hadir di hadapanku, dan aku baru membukanya sekarang. Melihat nama Freya yang terpampang di surat tersebut, otakku semakin meliar. Di mana-mana selalu terbayang sosoknya yang entah sudah bagaimana sekarang. Apa dia kurusan? Apa dia gemukan? Apa dia sehat? Apa dia sakit? Apa dia membenciku? Atau masih … menyukaiku? Pertanyaan demi pertanyaan terus menerus keluar memenuhi benakku. Perasaan yang hangat campur dingin juga sesak ini menyelimuti hatiku. Perasaan seperti ini, sudah sangat lama sekali. Setelah lama tidak, aku kembali lagi merasakan seperti ini. Setitik air mata mengalir melalui pipiku.
Aku merindukan Freya.
Air mataku semakin tidak tertahan. Isakanku terus mengalir bagaikan air bah. Seumur hidup, ini pertama kalinya aku merasa sedemikian kesepian. aku akhirnya menyadarinya… aku sendirian di dunia ini. Aku tidak tahan sendiri. Aku ingin seseorang di sampingku. Seseorang yang mengerti diriku.
Masih sambil menangis, dengan tangan gemetaran aku meraih ponselku, lalu menekan nomor yang sudah kuhapal di luar kepala itu. Aku tidak tahu ini masih aktif atau tidak, tapi aku tetap ingin menghubunginya.
“Freya ....”
***
Aku mengendara mobilku dengan cepat. Tidak peduli lampu merah atau tidak, aku terus melaju secepat yang kubisa. Aku ingin menemui Freya. Sudah berhari-hari aku membedung perasaan aneh ini sedalam-dalamnya, tidak ingin menggubrisnya. Tapi kali ini aku tidak bisa lagi. Perasaanku yang sudah mati dulunya sekarang kembali menggelitik tubuhku. Aku tidak bisa menahannya, ini terlalu susah. Untuk menghilangkan perasaan ini, aku harus mencari Freya. Hanya Freyalah yang bisa menyembuhkan jiwa yang tersiksa ini. Perasaan yang penuh rindu kepadanya.
Aku merindukan Freya.
Sudah hampir puluhan kali aku menghubunginya, tapi ia tidak mau menerima. Kalaupun aku memutuskan untuk menunggu, sampai mati pun dia tetap tidak akan membalasnya. Daripada buang-buang waktu, apalagi karena tidak bisa menahan luapan perasaan ini lebih lama lagi, aku langsung saja ngebut menuju rumahnya.
Rumah mertua letaknya sangat jauh dari rumahku. Namun, sejauh apapun aku akan tetap pergi juga. Tidak peduli jutaan kilometer sekalipun, aku akan tetap pergi, asalkan aku bisa melihat Freya, mendapatkannya kembali ke dalam dekapanku.
Kecepatan mobilku hampir mencapai 120km/jam, tapi aku tidak peduli. Aku ingin cepat-cepat menemuinya. Aku tidak bisa bersabar lagi. Aku ingin segera memeluknya, lalu berminta maaf kepadanya. Kalau sial, ia mungkin tidak akan memaafkanku. Namun jika aku beruntung, ia akan memaafkanku dan kita bisa bersama lagi kembali. Begitu bersama, aku pasti akan menyayanginya sepenuh hatiku, tidak seperti dulu lagi. Aku pasti akan mencintainya setulus mungkin. Aku ingin melewati detik-detik terakhirku bersamanya. Ya, pasti bisa. aku yakin ia pasti akan memaafkanku. Aku sangat ya—
TIITTTT!!!
Aku tersentak. Karena terlalu banyak berpikir, aku tidak sadar aku telah melaju ke arah yang terbalik. Aku mendengar klakson sebuah truk yang sangat nyaring. Kedua mataku terbelalak lebar. Belum juga aku sempat mengedip, aku sudah bisa melihat truk itu tepat di hadapan mobilku, dan jarak kami semakin menipis.
Otakku mendadak kosong. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa, kecuali wajah ibuku. Aku mengingat kembali kejadian yang sangat dulu itu. Memori-memori itu terus muncul di dalam waktu yang singkat ini.
Air ketuban Ibu pecah. Ayah panik. Ia mengendarai mobilnya sangat cepat, tidak sabar ingin melihat kehadiran Alwin, putra ciliknya.
“Ma, perkiraan berapa lama lagi adik akan lahir?”
Ibu tersenyum sambil menepuk perut buncitnya ringan. “Mungkin sebentar lagi,” jawabnya. “Kenapa? Kamu mau memberi namanya, ya?”
Aku mengangguk. “Ya. Namanya Alwin!”
“Alwin?” Ayah mengernyitkan keningnya. “Nama yang aneh.”
“Enak saja, nama itu sangat bermakna! Alwin, All Win. Maksudnya adalah all the winner, selalu menang. Ia pasti akan menjadi orang yang sukses nantinya!”
Setitik air mata menetes ketika truk itu jaraknya tinggal sejengkal dengan mobilku.
“Dan ibumu…kami tidak bisa menyelamatkannya, maaf.”
“Bagaimana dengan bayi yang ada di perutnya?”
“Tidak juga. Maaf.”
Ayah, Ibu, Alwin. Aku merindukan mereka. Segalanya sangat slowmotion. Padahal yang sebenarnya bergerak sangat cepat dan singkat, tapi di dalam mataku sekarang, segalanya sangat lambat, detik-detik juga berjalan sangat lambat. Aku tidak tahu kenapa bisa begini. Apa mungkin aku diberi kesempatan terakhir untuk mengingat keluargaku? Setelah ini aku mungkin akan bereuni dengan mereka. Mungkin ... kami berempat akan bersama.
Kurasa tidak.
BRAAKKK!!!!
**********
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
Fiksi Umum(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
