Aku mengunjungi sebuah kafe langgananku sejak aku masih seorang mahasiswa. Aku memilih tempat duduk yang biasa kududuki jika aku datang ke sini seorang diri, yakni tempat yang menghadap langsung ke luar jendela. Aku langsung memesan segelas ice lemon tea dan sepiring nasi goreng serta strawberry cake sebagai makanan pencuci mulut pada pelayan yang datang melayaniku. Dia tersenyum tipis, sementara tangannya sibuk mencatat pesananku, setelah selesai mencatat, dia langsung meninggalkanku. Aku kemudian menoleh ke arah pintu sedetik setelah mendengar suara bel yang dipasang di atas pintu berbunyi tanda ada yang masuk. Aku begitu terkejut ketika mendapat seorang wanita dengan dress warna pink yang berpadu dengan sepasang heels yang berwarna senada dan juga rambutnya yang dibiarkan tergurai di punggungnya. Dia – wanita itu adalah Freya. Akhirnya aku bertemu dengannya lagi. Aku begitu bahagia hingga tanpa kusadari, mulutku menganga lebar.
Freya sepertinya masih belum menyadari keberadaanku, buktinya dia memilih tempat yang tak jauh dariku. Ini adalah kesempatan untukku. Aku harus membuatnya percaya denganku, dan kembali berteman denganku sebelum aku melancarkan rencana-rencanaku itu. Aku dengan sigap bangkit dari dudukku dan berjalan ke tempatnya. Freya sedikit terkejut begitu menyadari aku yang sudah berada di hadapannya. Tanpa meminta izin darinya, aku langsung menarik sebuah kursi dan duduk. Dia mendengus tanpa ingin menoleh ke arahku lagi. Aku menarik bibirku membentuk sebuah senyuman yang lebih terlihat seperti seringaian.
“Kenapa kamu ada di sini?” Sebuah pertanyaan dari Freya yang langsung membuatku tersenyum tipis padanya meski dia tetap tidak menatapku secara langsung.
“Kamu sepertinya tidak begitu senang dengan kehadiranku,” sahutku yang membuatnya menatapku dengan kedua matanya yang bulat, sementara tangannya sibuk membolak-balikkan buku menu.
“Ini kafe langgananku, jadi tidak aneh jika aku berada di sini. Tapi berbeda denganmu, kamu baru pertama kali ke sini, bukan?”
Freya tidak menjawab pertanyaanku, dia malah memanggil pelayan yang sama dengan yang tadi melayaniku itu. “Aku ingin strawberry cheese cake, waffle chocolate, sama hot cappuccino,” setelah mencatat pesanan Freya, pelayan itu langsung meninggalkanku dan Freya seolah tidak ingin mengganggu waktu kami.
“Jadi, angin apa yang membawamu ke sini, Frey?” Aku kembali bertanya padanya.
Freya hanya mendengus sebelum menjawab pertanyaanku. “Well, that’s right. It’s my first time, dan aku tidak tahu ini adalah kafe langgananmu,” Freya menyandarkan punggungnya di kursi. “jadi, siapa yang menyuruhmu duduk di sini?”
“Dan siapa yang melarangku duduk di sini?”
Aku tersenyum penuh kemenangan begitu melihat Freya yang kembali mendengus kesal. Dulu dia yang sering kali membuatku kesal, sekarang giliranku yang membuatnya kesal. Jujur, Freya yang sekarang sudah berubah banyak, dia tampak lebih feminim, dan dia sudah bisa menjaga sikapnya bila berada di depan banyak orang, sedangkan dulu dia tidak akan mempedulikan sikapnya yang tomboy itu, terkesan cuek, entahlah.
“Baiklah jika kamu ingin duduk di sini, biar aku saja yang pindah.” Freya lalu berdiri dan hendak meninggalkanku jika saja aku tidak menarik pergelangan tangannya dan menyuruhnya untuk kembali duduk.
“Apakah kita tidak bisa berteman lagi, Frey?” lirihku.
Dia terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Mungkin dia tidak pernah menyangka bahwa aku juga bisa mengeluarkan pertanyaan seperti ini. Dia memasang tatapan bersalahnya. “Bukan itu maksudku,…”
“Jadi, apakah kita bisa kembali berteman?”
Seperti terpaksa, Freya menganggukkan kepalanya. Aku begitu senang. “Kalau begitu, izinkan aku duduk di sini, ya, Frey? Tidak salah, bukan, jika aku duduk di sini dengan sahabatku?”
“Baiklah.”
Dan begitulah jadinya malam ini menjadi malam yang sangat indah untukku. Aku akan berusaha memberikannya perhatian, mengajaknya makan malam atau sekadar bertelepon dengannya karena aku berhasil mendapatkan nomor teleponnya, sementara aku akan menyusun rencanaku dengan matang sebelum melancarkannya dengan bantuan dari berbagai pihak. Freya akan kembali menjadi milikku.
***
Beberapa minggu setelah pertemuanku dengan Freya di kafe, aku menjadi lebih sering menelponnya untuk sekadar berbincang-bincang dengannya. Dia juga mulai terbuka denganku seperti dulu, sudah bisa manja denganku, dan aku sangat senang atas perubahannya yang begitu cepat. Mungkin dia hanya belum terbiasa dengan sikapku di saat kita baru pertama kali bertemu, jadi dia bersikap begitu cuek padaku, pikirku dalam hati.
Aku juga kembali meneliti tentang David Lee, kerja sama atas perusahaannya dengan perusahaan Steven juga berjalan lancar hingga membuatku lebih mudah melacak tentang dirinya dan mulai mendekatinya atas nama sahabat bukan sebagai partner pekerjaan. Ternyata dia orangnya sangat terbuka dan itu membuatku lebih mudah mendapatkan informasi Freya darinya. Pernah suatu hari dia jujur padaku bahwa hubungannya dengan Freya itu sangat rumit, dia begitu mencintai Freya, namun Freya hanya menganggapnya sebagai kakak, dan tidak pernah mencoba untuk membalas cintanya. Hal itu selalu menjadi topik perdebatan mereka. David selalu memaksa Freya untuk membalas cintanya namun nyatanya, Freya tetap tidak bisa. Diam-diam aku bersyukur akan hal itu. Itu tandanya kesempatan untuk mendapatkan Freya kembali itu sangat besar, bukan? Sekarang aku hanya perlu memikirkan cara untuk mencelakai David di hadapan Freya, membuat Freya tidak lagi percaya dengannya, dan dengan itu aku bisa lebih leluasa mendekati Freya, membuatnya menjadi milikku. Aku tertawa dalam hati memikirkan segelintir rencana yang sudah kususun dengan rapi.
Tiba-tiba suara Steven membuyarkan lamunanku. Aku menggerutu dalam hati, padahal aku begitu seru dalam imaginationku. “Kamu sedang melamun, ya, Win?”
“Ah, tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Padahal benar apa yang dikatakannya, tapi aku tetap saja harus membantah, mana mungkin aku mengakunya di hadapan Steven, bisa-bisa aku dijahilinya, atau harga diriku bisa jatuh.
“Benarkah? Ah, hampir saja aku lupa. Nanti malam temanin aku dinner dengan David, ya? Aku akan mengajak istriku, dan David akan mengajak tunangannya.”
Aku mengernyitkan keningku. “Hei, bukannya itu seperti acara pasangan, ya? Kenapa kamu malah mengajakku?”
Steven menyengir lebar. “Ah, tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin kamu kenalan dengan istriku saja.”
“Apaan? Kenalan dengan istrimu harus mengajakku ke acara seperti itu? Hei, apa kamu gak sadar? Hanya aku yang jomblo lho.”
“Tidak usah khawatir, ini hanya acara untuk mempererat hubungan kita saja, tidak lebih.”
Dengan terpaksa aku menyetujui rencana bodoh Steven, bagaimana tidak? Dengan rencana bodohnya itu, aku yang akan terlihat seperti orang yang benar-benar bodoh di acara itu. Di pandangan orang-orang, aku bukan lagi pihak ketiga, melainkan pihak kelima! Aku mendengus kesal setelah Steven masuk kembali ke ruangannya.
***
Lihatlah, aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh berada di antara mereka sekarang. Masih mending ada Freya yang berada di sini, sedikit menghiburku sih, meski nyatanya dia lebih memilih untuk berbincang dengan Lydia – istri Steven yang menurutku sangat cantik. Paras wajahnya terlihat begitu sempurna dengan kedua dempil yang berada di wajahnya. Gaun yang dikenakannya membuatnya tampil sangat berkelas dan arogan, tidak kalah dengan Freya yang juga mengenakan sebuah gaun yang memiliki ekor panjang.
Steven dan David mengajakku membahas urusan kerja sama mereka meski aku sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Akhirnya aku memilih untuk keluar sebentar, menghirup udara segar. Aku meminta izin untuk ke belakang meski nyatanya aku keluar dari restoran. Aku bersandar di dinding ketika Freya keluar dan menghampiriku yang sedang memainkan ponselku. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Menghirup udara segar,” jawabku singkat.
Freya menatapku lama sebelum mendengus. “Cih, aku tahu kalau kamu bosan, kamu memang tidak pernah cocok dengan acara seperti ini, ya?” Dia tersenyum mengejek membuatku kesal.
“Kamu kok tahu banget tentangku? Jangan-jangan kamu selalu memerhatikanku, ya?” Aku tersenyum penuh kemenangan sementara dia hanya menunduk dengan wajahnya yang sudah merona merah sebelum dia mengangkat kepalanya kembali menatapku.
“Percaya diri sekali kamu,” sahutnya.
“Bukankah itu sudah kenyataan?” ujarku lagi yang membuat wajahnya tambah merah, aku hampir terbahak jika saja dia tidak segera mengajakku kembali ke dalam. Aku hanya mengikutinya dari belakang sambil tersenyum-senyum sendiri.
Lydia yang melihatku senyum-senyum sendiri bertanya kenapa padaku. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan, membuatnya kembali terlarut dalam pembicaraannya dengan Freya. Seperti inilah malam yang kulewati hari ini.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
Ficción General(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
