Di sebuah sudut emperan toko, aku duduk di sana sambil menyilangkan kedua kakiku. Di atas pangkuanku ada beberapa buku-buku yang lumayan tebal yang kujadikan bacaan di waktu senggang ini. Setelah membaca cukup lama, aku menguap lebar dan mengangkat kepalaku menelusuri sekelilingku untuk refreshing mata. Banyak orang yang sama sepertiku, kurang kerjaan, nganggur dan hanya melamun ataupun bermalas-malasan.
Aku mengembuskan napasku berat. Sudah lama aku bekerja sebagai jasa pengantar barang di toko grosir ini. Selama ini pekerjaannya sangat bagus, jarang aku bisa membaca seperti ini, bahkan istirahat pun hanya sekali-kali. Pokoknya sibuk deh, sampai duduk pun gak pernah. Namun anehnya, akhir-akhir ini pekerjaanku sepertinya memburuk. Hanya beberapa dari kami saja yang dipanggil untuk mengantar barang maupun makanan. Padahal dulunya, pemilik selalu risau karena kurangnya pekerja yang mengantar barang.
Aku mengira keadaan seperti ini akan berlangsung lama, sampai aku mendengar panggilan dari seseorang yang memberi pekerjaan.
"Semuanya ikut saya, kita dapat pekerjaan!"
Bagaikan sebuah mantra, semuanya yang tadinya seperti mayat hidup sekarang sudah kembali bersemangat '45. Aku yang mendengar suara tersebut buru-buru memasukkan buku-bukuku ke dalam tas ranselku dan ikut beranjak mengikuti yang lain.
"Saya mendapatkan pesanan hari ini. Kalian semuanya akan mengantarkan makanan-makanan ini ke 5 panti asuhan ini," ucap pemilik sambil memberikan kertas berisi alamat ke tiga sopir truk kami. "Mengerti semuanya?!"
"Mengerti!" seru kita serentak.
Pemilik mengangguk yakin. "Bagus, mulai kerja!" perintahnya dan semua pun bergerak. Kardus-kardus dan bungkusan besar itu kami bagikan untuk 3 atau 4 orang, sedangkan yang sedang-sedang cukup seorang saja yang mengangkatnya. Aku seorang mendapat jatah untuk mengangkat kardus yang besar dan beratnya kira-kira sama dengan berat sebuah kulkas. Inilah alasannya aku bisa menang melawan Brian waktu itu. Selama ini aku sudah berlatih kekuatan dan stamina. Belum lagi soal aku menjadi kuli bangunan di hari yang lain. I'm fit, man!
Begitu salah satu truk sudah penuh, beberapa dari kami pun berangkat ke tempat tujuan. Aku mengikuti truk yang kedua karena truk pertama sudah full. Perjalanan ini memakan waktu hampir 2 jam penuh. Jadi ketika tiba, langit sudah berwarna kejingga-jinggaan.
Tanpa aba-aba, begitu menurunkan penutup truk, kami dengan lincah langsung mulai bekerja. Masing-masing dari kami yang terdiri dari 6 orang dengan cepat mengantar bungkusan-bungkusan itu masuk ke dalam panti asuhan itu. Sudah sekitar 30-an bungkus seberat sofa itu kuangkat ke sana-kemari. Sekarang dengan stamina yang sudah berkurang drastis, aku berusaha lagi mengambil sisa di atas truk. Hampir saja aku terjatuh saat menarik bungkusan tersebut kalau saja aku tidak ditahan seseorang.
"Hati-hati!"
Orang itu menahan pundakku, mencegahku terjatuh. Aku yang menyadari pertolongannya langsung saja menoleh ke arahnya untuk berterima kasih. "Terima kasih ba—"
Mendadak suaraku menghilang diwakili oleh perasaan kaget. Aku membelalak menyadari siapa orang yang menolongku itu. "Richard?"
Richard juga tidak kalah syok dariku. "Elwin?" balasnya memanggilku dengan nada yang tidak percaya. "Apa yang lo lakukan di sini?"
"Kenapa kamu ada di sini?" Kami berdua bertanya secara bersamaan. Jeda sesaat, dan aku pun menjawab duluan. "Gue bekerja sebagai pengantar."
"Oh," sahutnya sambil membentuk mulut menjadi 'o' besar. "Gue tinggal di sini kok," jawabnya dan aku membelalak lagi.
"Eh?"
"Kita lanjutkan saja nanti, tidak baik kita menganggu pekerjaan yang lain."
Mendengar perkataannya, aku langsung menoleh ke belakang. Dapat kulihat rekan-rekan kerjaku merasa ternganggu karena aku sekarang berdiri di bawah truk menghalang barang yang lain. "Benar juga ya," ucapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
Fiksi Umum(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
