20. Lydia

113 8 0
                                        

Setelah mendapatkan perintah dari Steven yang menyuruhku untuk ke rumahnya mengambil sebuah dokumen yang sangat penting untuk rapat nanti, aku segera keluar dari gedung tempat kerjaku dan menyetop sebuah taxi yang kebetulan melewati perusahaan ini dan kemudian menyebutkan alamat rumah Steven kepada sang Supir.

Aku duduk dengan pikiranku yang melayang-layang entah ke mana. Aku sendiri juga bingung. Namun satu yang dapat kupastikan sekarang adalah bagaimana caranya untuk merobohkan perusahaan David. Dan satu-satunya cara yang melintas di otakku sekarang adalah perusahaan Steven. Bukannya dengan memanfaatkan perusahaan Steven, aku akan dengan mudah menghancurkan David? Tapi, bagaimana aku bisa meminta bantuan Steven? Dia tidak akan menyetujui rencanaku ini karena kontrak kerja sama yang ditandatangani mereka. 

Ok, kita pikirkan cara alternatif. Cara yang lain adalah dengan merebut perusahaan Steven dan kemudian memutuskan kontrak kerja sama tersebut dengan membuat alasan yang bisa menyudutkan perusahaan David, maka dengan itu, perusahaan Steven tidak akan mengalami kerugian.

Iya, aku harus memilih di antara dua cara tersebut, dan pilihanku jatuh di cara yang kedua. Benar, cara pertama tidak mungkin kuambil karena itu tidak akan pernah terjadi, sedangkan cara kedua, aku bisa merencanakannya dari sekarang. Aku harus bisa mengambil alih kuasa perusahaan Steven, dan untuk itu, aku harus memulainya dari yang paling mudah dan juga yang paling penting.

Mulai dari istrinya – Lydia.

"Sudah sampai, Pak."

Aku terkejut. Gara-gara melamun terlalu serius, aku tidak sadar kalau aku sudah sampai di tempat tujuan. Sebelum ketahuan salting, aku segera mengeluarkan 2  lembar lima puluh ribu dan menyerahkannya kepadanya sebelum aku turun dari mobil. 

Aku menengadah dan mendapati sebuah rumah yang berukuran sangat besar nan mewah berdiri kokoh di hadapanku. Mulutku terbuka lebar dengan kedua mataku yang tidak berkedip, tapi buru-buru kutoleh karena terlalu kekanakan.

Kekayaan Steven benar-benar tidak bisa diukur lagi. Niat untuk mendapatkan perusahaannya semakin besar. Tekadku sudah bulat. Aku harus bisa merebut perusahaannya, tidak peduli dengan cara yang akan kugunakan nantinya.

Setelah merasa cukup menatap kagum rumahnya, aku segera menekan bel yang berada di samping pintu pagar. Sedetik kemudian, pintu tersebut terbuka otomatis seolah mempersilahkanku untuk masuk, maka dengan penuh percaya diri, aku melangkahkan kedua kakiku masuk ke dalam.

"Apakah kamu Elwin?"

Ketika seorang gadis muda pembantu rumah ini membukakan pintu, lanjut seorang wanita berjalan keluar dari belakang sambil tersenyum ramah. Aku pun balas tersenyum Kita memang hanya pernah ketemu sekali, namun kecantikan istrinya Steven ini membuatku teringat kembali siapa dirinya hanya dalam sekali lirikan.

"Ya, namaku Elwin. Kita pernah bertemu sebelumnya, apakah Anda masih ingat?"

Ia kembali tersenyum. "Tentu saja aku ingat. Steven juga banyak cerita kepadaku tentang dirimu. Lagipula..." tanpa kusadari ia memasang mimik centil, cukup mengagetkanku.

"kamu terlalu ganteng untuk kulupakan."


DEG.


Sekali lagi aku terkejut. Ini sungguh mengagetkan. Belum juga aku memulai untuk merayunya, Lydia pula yang memulai duluan untuk merayuku, seolah ia sudah membuka pintu lebar membiarkan aku masuk ke dalam dirinya. Aku menyeringai.

Kali ini akan mudah.

Tanpa menyadari perubahan wajahku, Lydia yang sudah berdiri lama dihadapanku pun menyerahkan dokumen yang dipesan oleh Steven. "Ini dokumen yang dimi— 

"Apakah aku tidak dipersilahkan masuk ke dalam? Mungkin sekadar minum teh atau sejenisnya, mungkin?" Aku terkekeh pelan sebelum dia juga ikut terkekeh setelah sempat terkejut sejenak.

"Bukannya dokumen ini sangat urgent? Kenapa kamu malah ingin minum teh denganku? Bagaimana kalau minumnya nanti mal— Ah, maksudku..." Dia terdiam, dapat kulihat kedua pipinya yang sudah merona, mungkin menyadari candaannya yang sudah melebihi batas.

Aku kembali terkekeh seraya mendekatkan wajahku dengan wajahnya. "Wah, wah, wah, aku hanya berniat untuk bertamu saja lho. Jadi Ibu Lydia lebih ingin kita melanjutkannya nanti malam? Bagaimana kalau kita pergi ke bar langgananku? Tidak akan kuberitahu ke Steven kok."

Termakan pancinganku, wajahnya yang tepat di hadapanku ini langsung merona merah. Seolah tidak ingin aku tahu bahwa ia salah tingkah, ia segera menoleh menjauh. "Ti, tidak. Barusan aku hanya bercanda kok. Lebih baik kamu cepat bawa dokumen ini kembali ke k— KKYAA!!"

Dengan mendadaknya Lydia kehilangan keseimbangan. Dan sebelum ia terjatuh aku secara refleks menangkapnya dan memeluknya. Kami terdiam dalam posisi yang dekat ini tanpa bergerak. Aku bisa merasakan detakan jantung Lydia dengan sangat jelas.

Sebelum kami terlarut dalam situasi, dengan wajah yang sudah semerah tomat Lydia pun mendorongku menjauh dan tanpa berkata apa-apa ia pun berlari masuk ke dalam rumahnya. Sempat terdiam sejenak, aku kembali menyeringai lebar.

Masalah membuat Lydia jatuh cinta padaku hanya tinggal masalah waktu.


***************************************************************************


King's Obsession (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang