Malam ini aku akan memulai rencanaku, aku akan memancing David terlebih dahulu sebelum kulanjutkan ke Freya. Dengan penuh percaya diri aku menelpon David untuk ketemuan di bar yang sering kukunjungi belakangan ini. Setelah itu, aku menelpon seseorang untuk membantuku melancarkan semua ini. Masih kuingat malam itu, malam dimana aku kembali bertemu dengan wanita yang pernah tidur denganku, dia tersenyum senang begitu melihatku yang benar-benar menanyakan namanya dan juga meminta ponselnya.
Mulai saat itu, kami sering bertemu di sana, dan sering juga melakukan hubungan seks ketika kami benar-benar menginginkannya. Begitulah hubungan kami, sebatas partner seks, tidak lebih. Namun suatu hari, dia mengatakan bahwa dia mencintaiku dan memintaku untuk menjadi kekasihnya, tentu saja aku menolaknya. Hanya Freya yang kucintai, tidak orang lain.
Namun dia masih bersikeras ingin aku menjadi kekasihnya. Maka aku menyebutkan sebuah syarat untukknya jika dia ingin menjadi kekasihku, dan dengan senang hati dia menerimanya. Dan begitulah, dia akan menepati janjinya malam ini, dialah yang akan membantuku.
***
Aku meneguk wineku dengan pelan seraya menunggu wanita itu datang. Mataku menyapu ke seluruh sudut bar ini sebelum akhirnya menemukan sosok yang kutunggu sedang berjalan menghampiriku dengan sikapnya yang angkuh. Sedetik setelah dia duduk di sampingku, dia bergelayut manja di lenganku dan mendekatkan tubuhnya ke arahku. Aku berusaha menarik diri namun dia tetap tidak melepaskannya yang akhirnya membuatku pasrah dan mengikuti permainannya.
"Jadi kamu ingin aku membuatnya tertarik padaku dan membuatnya meniduriku? Begitu?"
Aku tersenyum sinis. "Ya, kamu sudah berjanji padaku, bukan?"
"Baiklah, itu sama sekali bukan tantangan bagiku. Tapi apa kamu tidak cemburu padanya?"
Aku menaikkan sebelah alisku. "Buat apa? Kita hanya sebatas teman satu malam, bukan?"
Wanita itu menyeringai kemudian memainkan dasiku dengan gaya yang centil. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang ingin ia ucapkan, tapi tidak dilakukannya. Ia melirikku kemudian. "Kamu akan menepati janjimu?"
Aku tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaannya yang menurutku tidak perlu dijawab itu. Aku kemudian menoleh ke arah pintu dan mendapati David yang sudah menemukan keberadaanku, aku segera menyuruh wanita itu pergi.
"Aku akan menghubungimu nantinya, jadi kamu hanya perlu bersiap-siap, Suzan."
Wanita itu Suzan, tanpa banyak bersuara ia pun mengangguk lalu mengecupku sebelum ia melangkah pergi meninggalkanku. Tanpa bersuara juga aku menghapus bekas lipstiknya dari bibirku lalu meneguk wineku.
"Hei, Win."
Aku menoleh. David menepuk bahuku pelan sebelum menempati kursi yang diduduki Suzan tadi. Aku tersenyum menyapanya. Dia segera memanggil bartender dan memesan minumannya, segelas wine yang sama denganku. "Hei, kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanyanya kemudian setelah bartender itu menaruh segelas wine di hadapannya.
"Hanya ingin bersantai, kan aneh kalau pengusaha muda sepertimu tidak memerlukan hiburan seperti ini. Anggap saja kali ini giliranmu menemaniku di malam sendirianku."
David menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang kukatakan. "Hmm, memang sudah lama aku tidak datang ke tempat seperti ini semenjak pulang dari Amerika."
Aku tersenyum kecil menanggapi ucapannya lalu mengarahkan gelasku padanya. Ia yang balas tersenyum pun melakukan hal yang sama dan menyentuhkan gelasnya dengan gelasku. Bersamaan kita meneguk pelan wine kami dan kami pun terdiam sejenak.
Dalam diam, aku melirik ke tempat beradanya Suzan. Aku bisa melihat ia sedari tadi menatapku dan layar hpnya silih berganti. Sepertinya ia sudah tidak sabaran. Oklah, aku mengeluarkan ponselku dan mengirim sebuah pesan singkat kepada Suzan sebelum tiba-tiba ponselku berdering. Aku menyeringai.
Sandiwara ini kita mulai.
"Kenapa tidak diangkat?" Tiba-tiba tanya David padaku setelah menyadari dering ringtoneku sudah lumayan lama tidak kuhirau.
"Ah, ya. Aku hanya merasa aneh ada nomor yang tidak kuketahui. coba kuangkat saja," jawabku mengada, padahal ini adalah telepon dari Suzan yang kuperintahkan untuk memulai sandiwara ini.
"Hallo?"
Aku terdiam setelah itu. Untuk membuatnya terlihat lebih nyata, aku mulai merubah wajahku menjadi sangat serius terhadap panggilan yang sunyi ini.
"Apa? Kamu serius?"
Aku menangkap perubahan wajah David juga atas reaksiku. Aku menahan cengiranku dibalik wajah gelisah yang kubuat ini.
"...... Baiklah, aku akan pergi sekarang.... Iya, iya," Setelah memutuskan sambungan telepon, aku kembali memasang mimik serius pada David yang kemudian bertanya kenapa padaku. "Aku harus kembali dulu, David, Ayahku sedang sakit. Maaf, ya, padahal aku yang mengajakmu ke sini. Biar kutraktir saja, bagaimana?"
Memercayai kebohonganku, ia pun memasang wajah yang prihatin. "Benarkah? Kalau begitu kamu cepat pulang saja, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu mentraktirku, aku mungkin akan stay lebih lama di sini."
"Maaf, ya. Lain kali aku akan traktir kamu." Setelah mengakhiri pembicaraan ini, aku dengan tergesa-gesa meninggalkan David yang sudah kembali menatap bartender yang sedang menshake minumannya.
Aku menghampiri Suzan yang sedang bersandar di samping pintu masuk.
"Sekarang giliranmu."
Aku menyahut pelan seraya dengan seringaianku. Dia hanya membalas seringaianku dengan sebuah senyuman yang meremehkan sebelum kemudian meninggalkanku dan berjalan dengan gemulai menghampiri David. Dapat kulihat ekspresi genitnya yang sedang bergelayut manja di lengan David, dan sepertinya, David merasa terganggu dengan kemunculan seorang Suzan.
Aku kembali menyeringai sebelum keluar dari bar.
David, kamu akan segera jatuh ke dalam perangkapku.
*******************************************************************************
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
Fiksi Umum(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
