22. Melamar

146 7 0
                                        

Aku masih terlelap ketika Freya sudah mengenakan pakaiannya dan membangunkanku. Aku mengucek kedua mataku sebelum menatap Freya dengan tatapan yang menggoda, namun ia tidak menggubrisku. Tak menerima perhatiannya, aku pun dengan sendirinya mencari perhatiannya dengan memeluknya erat namun pelan. "Selamat pagi," sapaku padanya.

"... Pagi," balasnya tidak bersemangat. Aku mengerutkan keningku.

"Ada apa? Kenapa lesu begitu?"

Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa," jawabnya. "Aku hanya merasa... tidak seharusnya kita bersama..."

Kerutan di alisku semakin mendalam. "Kenapa? Kamu merasa bersalah, ya?" tanyaku agak keberatan. "Tenang saja, dia yang duluan. Jadi tidak ada salahnya kamu membalasnya, ya kan?" Aku berniat untuk menghiburnya, namun ia tidak bereaksi. Tahu dengan ucapan tidak berguna, aku mulai menggelitiknya dan ia pun terkikik kecil.

Tak tahan seranganku, Freya pun melempar sebuah bantal ke arahku yang dengan sigap kutangkap. Aku terkekeh pelan. "Cepat bangun! Kamu masih perlu bekerja, bukan?"

Aku menggelengkan kepalaku dengan pelan sebelum menarik tubuhnya hingga jatuh ke pangkuanku. "Morning kiss first, kalau tidak aku tidak akan bangun, dan jika aku dipecat, maka kamu yang akan bertanggung jawab, bagaimana?"

Freya meninju bahuku pelan sebelum melingkarkan kedua lengannya di leherku sembari tersenyum manis. Sesaat aku sungguh terbius dengan senyumannya yang begitu manis. "Kamu tidak boleh malas, bukannya kamu ingin menggantikan posisi David?" Freya menyeringai begitu melihatku yang memasang wajah cemberut. "Baiklah, hanya di pipi aja, ya?" Freya mengecup pipiku sekilas sebelum kemudian bangkit dari pangkuanku dan menarik tanganku untuk bangkit. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi begitu Freya berhasil menarikku bangun.

***

Suzan kembali mengajakku ketemuan, namun kali ini bukan di bar tempat yang biasa kami bertemu, melainkan di sebuah restoran Jepang dengan ruangannya yang tertutup. Aku segera menuju ke ruangan seperti yang sudah disebutkan Suzan dalam pesan yang dikirimkannya kepadaku tadi. Aku menggeser pintu ruangan itu dan mendapati Suzan yang sedang duduk membelakangiku. Tanpa menyapanya terlebih dahulu, aku langsung mengambil posisi di hadapannya.

Suzan tersenyum begitu lebar begitu melihatku. Aku hanya menatapnya acuh tak acuh. "Bagaimana dengan adegan semalam? Apa kamu menyukainya?" tanyanya membuka pembicaraan kita kali ini.

Sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman yang amat sinis dan berdecak kagum seolah aku benar-benar menyukai pemandangan yang tersaji semalam. "Kamu memang hebat, Suzan. Tidak salah aku memilihmu."

Suzan tertawa penuh kemenangan. "Jadi, apa yang akan kudapatkan sekarang? Kurasa itu sudah cukup, bukan?"

"Tidak, kurasa itu belum cukup."

"Apa?"

Aku menjelaskan semua yang sudah kurencanakan padanya, dia hanya menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya setelah mendengar penjelasanku. Ah, aku tidak begitu peduli, yang penting dia bisa membantuku, apa yang akan dilakukannya itu tidak akan ada hubungannya denganku.

"Baiklah jika itu yang kamu mau, tapi kamu harus menepati janjimu," ujarnya kemudian setelah cukup lama berdiam diri, sementara aku hanya memberikan sebuah senyuman tipis kepadanya tanpa menyahut ucapannya.

***

"Frey, apa yang kamu lakukan sekarang?" tanyaku begitu Freya mengangkat teleponku. Sepertinya dia sedang tidak enak badan, terbukti dengan suara seraknya, aku segera menanyakan kabarnya begitu dia menjawab pertanyaanku dengan lirih.

King's Obsession (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang