13. Undangan

149 12 1
                                        

Hari ini kami semua sangat sibuk karena baru-baru ini perusahaan kami menerima sebuah project yang lumayan besar sehingga membuat kami mau tidak mau harus bekerja ekstra demi mencapai hasil yang memuaskan, tidak jauh berbeda denganku, malah pekerjaanku lebih banyak dibandingkan mereka. Aku juga tidak ingin terlalu ambil pusing, toh juga kewajibanku,bukan?

Setelah berjam-jam aku berkutat di depan komputerku, aku bersandar di kursiku untuk merilekskan tubuhku yang terasa begitu kaku karena duduk tegak selama berjam-jam. Aku meminjit leherku yang terasa begitu pegal sembari menoleh ke arah rekan-rekan kerjaku yang terlihat begitu serius. Tanpa kusadari, aku tersenyum sendiri.

Di saat aku beranjak dari dudukku dan menuju ke arah pantry untuk membuat minuman hangat, aku menemukan seseorang yang mengenakan pakaian formal dengan sebuah jas hitam yang disampirkan di lengannya dan juga sebuah tas kerja yang berada di tangannya. Sepertinya dia sedang memerlukan bantuan dan anehnya tidak ada yang mengulurkan tangan untuk membantunya, mungkin karena kami semua sedang sangat sibuk sehingga tidak ada yang ingin menghabiskan waktunya untuk membantu orang tersebut.

Aku mendekatinya dan kemudian menepuk bahunya pelan membuatnya sedikit terkejut dan menolehkan kepalanya ke arahku. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Aku bertanya dengan sopan supaya bisa memberikan kesan baik padanya.

Dia tersenyum padaku sebelum wajahnya berubah menjadi murung. "Aku ingin bertemu dengan Pak Manajer, namun aku tidak diperbolehkan untuk masuk ke ruangannya karena belum membuat janji dengan beliau, ini masalah yang mendesak, jadi aku bertanya lagi pada karyawan lain dimana letak ruangannya, tapi tidak ada yang menghiraukanku."

Aku mengangguk-angguk. "Hmm, apa keperluanmu, Tuan? Mungkin saya bisa membantu Anda."

Dia menatapku cukup lama sebelum mengatakan keperluannya. Dia tersenyum penuh misterius. "Katakan saja padanya jika Steven ingin bertemu dengannya."

"Baiklah, silahkan Tuan tunggu di sini sebentar."


***


Aku menelusuri sepanjang jalan sebelum sampai di ruangan Manajer. Aku terpaku menatap ruangannya. Kapan aku bisa naik pangkat menjadi Manajer ya? Aku mengetuk pintu ruangan tersebut beberapa kali sebelum terdengar sebuah seruan yang menyuruhku masuk. Aku membungkuk sebelum mengutarakan keperluanku.

"Ada apa, Elwin?"

"Begini, Pak, seseorang yang bernama Steven ingin bertemu denganmu, katanya ada keperluan yang mendesak."

Pak Manajer tampaknya sedang mengerutkan keningnya seolah tidak mengerti apa yang kukatakan. "Steven? Kamu bilang Steven?"

"Iya, Pak."

"Baiklah, persilakan dia masuk." Aku segera pamit keluar dari ruangannya dan menghampiri Tuan Steven yang sedang bersandar di dinding dekat counter. "Tuan, Anda diizinkan masuk."

"Benarkah? Ah, terima kasih banyak, ya?" Dia tersenyum lebar. "Anyway, siapa namamu?"

"Elwin."


***


Setelah beberapa minggu terakhir, kami berkutat dengan pekerjaan yang super banyak itu, akhirnya kami berhasil meraih hasil yang sangat memuaskan. Atasan kami sangat puas dengan apa yang kami kerjakan, dan itu membuat kami sangat senang karena usaha kami tidak sia-sia.

King's Obsession (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang