Aku menghampiri Freya yang sedang berdiri menghadap ke arah kolam dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada, seorang diri. Rasa syok atas peristiwa tadi masih bersemayam dalam tubuhku. Aku tidak bisa mencerna percakapan selanjutnya setelah pengenalan tersebut, sehingga sampai sekaranglah aku baru mendapat kesempatan untuk menemuinya, mencari sebuah penjelasan.
Freya tidak menyadari kehadiranku di belakangnya. Ia yang sudah mulai merubah posisi dengan melipat kedua lengannya di atas pagar hanya melamun. Secara tanpa sadar aku pun ikut termangu, hanya berdiri diam menatapnya sampai aku menyadari sesuatu. Ia kedinginan.
Segera kusampirkan jas hitamku ke tubuhnya dari belakang setelah melihatnya yang sedikit kegigilan. Sepertinya dia sedikit tersentak atas tindakanku, aku hanya menyengir dengan mimik tanpa dosaku setelah dia memasang tatapan kesal ke arahku. Aku tidak mengerti arti tatapannya. "Maaf, aku hanya khawatir kamu akan kedinginan," ujarku sembari tersenyum.
Freya tidak menghiraukanku dan kembali menatap ke arah kolam, namun kali ini dengan kedua tangannya yang mengeratkan jas hitamku, aku tersenyum lebar. "Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa David tidak menemanimu?"
Freya mengembuskan napasnya perlahan sebelum menjawab pertanyaanku dengan datar, "Hanya ingin mencari udara segar dan aku tidak ingin ada yang mengganggu ketenanganku."
"Jadi aku harus meninggalkanmu sekarang?"
Akhirnya Freya menoleh kepadaku, dia kembali menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan. "Meskipun aku berkata iya, kamu pun tidak akan pergi, kan?" Ucapannya membuatku tersenyum. Namun tak lama kemudian wajahku kembali datar. AKu kembali mengingat masa lalu, mengingat bagaimana ia meninggalkanku tanpa kabar. Banyak yang ingin kutanyakan padanya, tapi aku berusaha untuk stay cool dan bertanya dengan perlahan.
"Uhmm... Jadi apakah aku bisa bertanya sesuatu padamu? Aku harap kamu bisa menjawab pertanyaanku dengan jujur."
"Apa?"
"Sejak kapan kalian bertunangan?"
"Sejak berada di dalam kandungan ibuku." Freya menjawab pertanyaannku sembari tersenyum getir sedangkan aku hanya membelakkan kedua mataku menatapnya tidak percaya. Apa yang dikatakannya tadi? Sejak apa? Kandungan?
"Kamu tidak perlu menatapku seperti ini."
Aku mengembuskan napasku perlahan sebelum kuletakkan kedua tanganku di bahunya sembari meremasnya dengan pelan. Aku mulai mengerti. "Aku ingin kau jujur padaku, apakah ini yang menjadi alasanmu menolak mendengar jawabanku dulu? Alasanmu mengabaikan perasaanku? Alasanmu untuk meninggalkanku? Kamu merasa sudah tidak ada gunanya menjalin hubungan denganku, karena pada akhirnya kita tidak akan hidup bersama, iya, bukan?"
Freya memalingkan wajahnya seolah tidak ingin menatapku, namun dengan sigap kutahan dagunya dengan tanganku, memaksanya untuk membalas tatapanku. Dia hanya menatapku dengan sendu sembari tersenyum getir, tidak membalas pernyataanku.
"Apakah kau masih mencintaiku, Freya?"
Tanpa kusadari, setetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya, dengan sigap aku segera menyeka air matanya yang mengalir keluar setetes demi setetes dengan jemariku. "Kalau kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku, kamu tidak perlu menjawabnya, Freya, aku tidak memaksamu." Aku melepaskan tanganku dari bahunya dan berbalik meninggalkannya. "Selamat malam."
Aku berjalan menjauhinya dengan perasaan tak menentu, aku tidak tahu apa yang kupikirkan sekarang. Yang aku tahu, aku ingin memilikinya, memiliki tubuhnya seutuhnya seorang diri, sungguh.
Belum sempat aku mendaratkan kakiku di depan pintu menuju hall, sepasang lengan melingkar di perutku dengan erat seolah tidak ingin aku meninggalkannya. Aku berbalik, menariknya ke dalam pelukanku, aku memeluknya dengan erat, begitu juga dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Obsession (Complete)
Ficción General(Belum Revisi) "Bangkrut? Hah, syukurin lo sudah jadi gembel." "Hey, kami sudah gak takut lagi sama lo, jadi jangan harap buat nge-bully kami lagi!" "Ops sorry, orang miskin yang gak selevel gak bisa masuk ke group kami." Pada hari yang tertakdirkan...
