[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
"𝑺𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒂𝒉𝒂𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒋𝒖𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒎𝒂𝒕𝒊𝒂𝒏...
"Tidak perlu melirik ke kanan atau ke kiri karena musuh sebenarnya ada di depan mata kita sendiri"
Dia Altharel Pradipta Reksa yang s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Kita itu seperti masjid Istiqlal dan gereja katedral yang dibangun berhadapan, tapi tidak untuk menjadi pasangan.”
~Aurina Anastasia~
“Jatuh cinta terberat itu ketika di amin yang sama tetapi di iman yang berbeda.”
~Afkar Galan Kafarel~
•••
Kalau Afkar dan Aurin Cinta beda agama kalau kita cinta beda apa??
JANGAN LUPA YA TINGGALKAN JEJAK PETUALANGAN KALIAN!!❤🧚♂️
🌺🌺🌺
Plak
Aurin menatap Kenzo dengan tatapan tidak percaya, ada apa lagi ini? Padahal baru saja ia merasakan kebahagiaan, ia baru saja merasakan kehidupan yang begitu indah.
"Ada apa Ayah?"
Kenzo langsung mencengkram erat dagu Aurin, ia menatap nya dengan tatapan menusuk bukan lagi tatapan teduh dan penuh kasih sayang.
"Gara gara kamu bisnis saya menurun!!! Semua orang tau bahwa saya punya anak cacad seperti kamu!!"
Plak
Aurin hanya diam dengan air mata yang kembali turun di pipinya, entah ia tidak tau apa yang membuat Ayahnya bisa se marah ini. Padahal ia tidak melakukan apa-apa.
"Dasar anak pembawa sial!!"
Bruk
Tubuh Aurin terpental ke belakang akibat tendangan yang cukup keras yang diberikan Kenzo kepadanya.
"Mas!!" Teriak Mawar yang ada di ujung tangga, ia berjalan menghampiri Kenzo dan Aurin.
Kenzo menatap Aurin yang masih terdiam sambil memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah dengan nafas yang naik turun dan tangan terkepal.
"Nih, bunuh aja sekalian," ujar Mawar sambil menyodorkan pisau kepada suaminya.
Kenzo menatap lamat pisau itu, ia berpikir sejenak lalu mengambilnya. Mungkin ini sudah waktunya ia melenyapkan aib yang seharusnya tidak ada dunia ini.
Aurin terus menggeleng geleng kan kepalanya, ia menatap was-was kearah mereka berdua, kini keduanya tidak terlihat seperti manusia lebih tepatnya mirip malaikat Izrail yang akan mencabut nyawanya.
"Eunghhh!! Eunghhh!!" Aurin terus menggeleng geleng kan kepalanya ke kanan dan kiri. Ia terus berusaha menjauhkan pisau yang hendak mendarat tepat di dadanya.
"Kenapa? Takut? Gak usah takut ya sayang, setelah ini kamu akan tenang," ujar Kenzo dengan seringaian nya.
"Ayo ucapin kata selamat tinggal nya," lanjut Kenzo sambil mengelus-elus rambut Aurin dengan sebelah tangannya lagi mulai menancapkan pisau di dada Aurin.