Happy reading jangan lupa untuk vote dan komen nya ya guys ..
•••
Setelah menunggu hampir tiga jam lamanya dan hampir saja menyerah, namun Jiwon kembali dibuat senang karena ada helikopter yang melintas di langit gelap itu, Jiwon tidak langsung antusias sebelum benar-benar memastikan bendera yang tertera pada badan helikopter yang ia lihat. Dan setelah melihatnya dengan jelas "itu bendera Korea Selatan!" Teriaknya.
Jiwon menembakan satu peluru keatas langit dan membakar tumpukan jerami kering yang sudah ia kumpulkan untuk membuat tanda SOS agar seseorang dapat menemukannya.
Gotcha!
Lampu sorot dari helikopter itu mengarah pada nyala api yang dia buat, Jiwon mengangkat kedua tangannya dan melompat. Dia terlihat bahagia tapi di satu sisi Jiwon juga menangis sesenggukan.
"Kita akan pulang Lisa!" teriaknya girang.
"Kim Jiwon-Ssi! Kim Jiwon-Ssi! Saya dapat melihat target pencarian komandan!" Semua yang ada didalam heli itu berteriak senang namun tidak dengan Jihoon.
"Bagaimana dengan Lisa?" tanyanya lewat handy talkie yang tersambung dengan rekannya.
"Saya hanya bisa mendeteksi satu prajurit." Mendengar itu Jihoon terdiam, ledakan besar yang terdeteksi oleh alatnya berarti itu dari alat peledak milik Lisa, Jihoon tahu betul gadis itu selalu membawanya kemanapun.
Dan Jihoon sangat amat familiar dengan ritme ledakannya.
Suara gema dari helikopter itu semakin mendekat, Jiwon lemas bukan main saat beberapa orang berusaha membantu nya naik kedalam benda terbang itu.
Jiwon ingat saat orang-orang itu menanyakan keadaan nya sambil memasangkan seatbelt, tapi entah mengapa setelah itu dia tidak ingat apapun lagi, lebih tepatnya setelah dia memberikan alat perekam milik Lisa kepada seseorang yang berada disampingnya, Jiwon seperti sudah sangat lelah dan memilih memejamkan matanya hingga hening melanda.
•••
1 Minggu kemudian
Gadis itu terbangun dari tidur panjangnya di atas sebuah kasur rumah sakit dan ruangan yang begitu mengerikan, Jiwon tahu dimana ini 'Rumah sakit Militer' dia terbaring disana.
Dokter bilang dia mengalami trauma berat dan dehidrasi parah, beruntung sekali dia bisa cepat ditemukan lagi setelah beberapa Minggu menghilang.
Kriet!
Pintu ruangan itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Jihoon yang menatapnya penuh selidik.
"Kau sudah membaik?" tanya Jihoon, tidak ada nada kekhawatiran. Pemuda itu bertanya hanya untuk formalitas semata, Jiwon tahu itu.
"Seperti yang kau lihat."
"Ledakan itu apa Li---"
"Lisa meledakan markas tersembunyi milik Korut yang selama ini mengawasi pergerakan kita," jelas Jiwon. "Dan alat perekam yang aku berikan adalah miliknya, alat itu merekam semua rencana mereka untuk kembali menyerang kita," imbuhnya lagi dengan suara lirih yang menyakitkan.
Jihoon diam selama Jiwon berusaha menjelaskan nya, dia tidak marah karena Jiwon meninggalkan Lisa. Karena dia tahu betul bagaimana prosedur yang harus dilakukan jika memang keduanya berada dalam situasi darurat seperti itu 'Setidaknya harus ada yang selamat'.
"Kalian sudah mendengarkan nya?" tanya Jiwon.
"Belum, kami menunggumu," balas Jihoon.
"Segera tindak lanjuti, karena aku akan kembali kesana untuk menjemput Lisa." Kalimat itu terasa hampa dan tidak berarti ketika keluar dari mulutnya, hatinya mencelos sakit ketika mengingat kalimat itu 'Kita akan bertemu lagi di dekat sungai'
KAMU SEDANG MEMBACA
Respect, appa!
FanfictionUntuk pertama kalinya, Lisa memberontak, meluapkan kemarahan dan kebencian yang selama ini terpendam. Kata-kata "Aku benci Appa!" yang dilontarkannya mengguncang Chang Wook hingga ke akar jiwanya. Dalam amarahnya, Chang Wook menantang Lisa untuk p...
