"Kenapa diluar baby? Disini sangat dingin"
Saat membuka mata dan bangun dari tidurnya, Sakusa begitu panik saat tak menemukan sang kekasih yang semalaman berada disampingnya.
Menghembuskan nafasnya lega, Sakusa menemukan sang kekasih yang sedang duduk tenang ditaman bunga kecil disamping mansionnya.
Setelah melilitkan selimut kecil ditubuh sang kekasih, Sakusa pun ikut duduk disamping Atsumunya.
"Bunganya bermekaran Omi"
Sakusa tersenyum saat menatap wajah Atsumunya yang begitu bahagia hanya karena melihat bunga-bunga yang selalu dirawatnya bermekaran.
"Bungamu banyak sekali, ini jadi terlihat begitu sempit sayang"
"Tidak masalah aku suka disini"
"Mau Omi buatkan taman yang lebih luas? Kau bisa menanam bunga-bungamu lebih banyak lagi nanti"
Atsumu menggeleng dan mengembangkan senyumnya. "Tidak perlu, aku lebih suka seperti ini. Mereka terlihat seperti memelukku"
Sakusa mendekatkan tubuhnya pada sang kekasih dan memeluknya dengan pelan agar tidak menyentuh luka-luka Atsumu yang masih belum sepenuhnya mengering.
"Omi bisa memelukmu kapan saja kau mau"
"Terimakasih Omi"
Sakusa mengecup singkat wajah Atsumu sebelum melepaskan pelukannya.
"Kenapa harus berterimakasih?"
Atsumu tersenyum dan menggeleng lagi.
"Kau tau, bunga-bunga disinilah yang selalu menemaniku"
"Oh ya?" Sakusa mengusap lembut surai Atsumu dan menatapnya teduh, mengaitkan rambut Atsumu yang mulai memanjang kebelakang telinganya
"Hm..." Atsumu mengangguk
"Kau ingat saat kau melupakanku saat itu?"
Sakusa menunduk tersenyum pedih, mengapa sang kekasih harus mengingatkannya lagi tentang hal yang menyedihkan itu.
"Saat itu aku selalu disini memandangi mereka setiap hari, mereka menghiburku dan melambai-lambai padaku"
Sakusa ingat jika waktu itu Atsumunya selalu berada disini, duduk dan menyendiri.
Atsumu tersenyum kearah Sakusa. "Ah tidak, mungkin mereka bergoyang karena tertiup angin, tidak apa aku menganggap mereka sedang melambai padaku dan mengatakan 'Hey Atsumu jangan menamgis! Kau kuat, kau akan baik-baik saja' begitu katanya" Atsumu melihat lagi kearah Sakusa
"Apa aku terlihat seperti orang gila?"
Sakusa tersenyum dan menggeleng lemah. Tidak, Atsumunya tidak gila, dia yang sudah gila karena bisa-bisanya melupakan orang yang paling dicintainya.
"Aku sempat ingin menyerah waktu itu Omi, kau benar-benar lupa padaku. Kau selalu memalingkan wajahmu saat melihatlu, aku benar-benar sangat frustasi"
Kali ini Sakusa tidak bisa menahan lagi, ditariknya tubuh kecil itu dan menyembunyikan wajah sedihnya diceruk leher sang kekasih. Sakusa tak ingin menangis tapi tidak bisa, air matanya mengalir begitu saja.
"Omi...?" Atsumu mengusap bahu sang kekasih yang nampak bergetar memeluknya
"Ada apa? Kau baik-baik saja? Kau kedinginan?"
Sakusa mengangguk tanpa ingin melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu ayo kita masuk"
"Maafkan Omi sayang!!"
