32. Phobia

61 2 0
                                        

Sepulang dari sekolah Nayla menyirami tanaman yang ada di belakang rumah mertuanya. disana terdapat banyak jenis tanaman mulai dari tanaman hijau sampai yang berbunga.

Cocok sekali bukan? dengan dirinya yang suka bunga-bunga. Disela-sela aksi menyiramnya tersebut Nayla sesekali menggunting batang tanaman yang terlihat merusak pemandangan dan tak lama kemudian pandangannya menangkap seekor ulat kecil berwarna hampir sama dengan warnanya daun yakni hijau, iapun mengambil hewan itu dengan tangannya. Ya, ia termasuk orang yang tidak takut dengan hewan menggelikan itu. Ulat tersebut Nayla taruh di punggung tangannya dan kembali melanjutnya aktivitasnya yang tertunda. Anggaplah sebagai temannya selagi merawat tanaman ini.

Sedang didalam rumah Algha baru saja datang dari kantor dan tidak melihat keberadaan Nayla di rumah, ia menghampiri Dira yang tengah menonton sinetron di televisi dengan mulut yang sibuk mengunyah snack.

"Dira, dimana Nayla?" tanya Algha tepat disamping gadis itu.

Tanpa menoleh pada kakaknya, Dira pun menjawab "Tadi di taman belakang"

Algha mengangguk lalu melangkah menuju tempat yang Dira maksud. Sampainya disana nampak Nayla yang sedang merawat bunga tanpa menyadari kehadirannya. Sebuah senyum terukir di bibir Algha kala menatap raut wajah istrinya yang nampak merengut sebab teramat focus pada apa yang sedang dilakukannya.

"Assalamu'alaikum" ucap Algha ketika berada tepat dibelakang Nayla, seketika wanita itu menoleh dan menjawab "Wa'alaikum salam"

Algha mengulurkan tangannya kepada Nayla namun wanita itu tidak mengindahkannya bahkan gunting yang ia pegang tidak ia letakkan.

Algha mengerutkan alisnya, lalu Nayla berkata sambil menampilkan cengirannya "ini tangan aku kotor gak bisa salim"

Algha mengangguk sebagai respon "Yaudah sini" intruksinya namun Nayla tidak mengerti jadilah dahi wanita itu berkerut.

Tanpa menjawab Algha mendekat dan memegangi kepala Nayla lalu mencium keningnya lama "Sebagai gantinya" ujarnya kemudian, nampaklah kemerah-merahan diwajah istrinya menunjukkan bahwa dia sedang blushing.

Dibalik istrinya yang sibuk akan kesaltingannya itu, mata Algha tak sengaja menangkap sesuatu berwarna hijau ditangan Nayla, matanyapun menyipit untuk memastikan bahwa penglitannya salah, dan saat itu pula ia memundurkan langkahnya dengan ekspresi cengo. Nayla yang menyadari perubahan ekspresi suaminya itu lantas mendekat dengan kening berkerut, namun pria itu malah memundurkan langkahnya lagi dengan ekspresi takut yang kentara di wajahnya."Jangan mendekat!" perintah Algha tegas kala Nayla hendak melangkah kembali.

Nayla spontan paham ketika melihat arah pandangan suaminya yang mengarah pada ulat yang ada di tangannya. Pria itu bergidik geli sambil menunjuk ulat tersebut.

Ide jahil tiba-tiba terlintas di otak Nayla, iapun mengangkat satu tangannya yang terdapat ulat lalu melangkah mendekati Algha. Tak mau mengambil resiko Algha spontan berbalik kemudian berlari masuk ke dalam rumah dan diikuti Nayla dibelakangnya, Dira yang melihat aksi kejar-kejaran tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ternyata Algha lari kedalam kamarnya dan langsung menutup kasar pintunya namun tak dikunci alhasil Nayla dengan mudah masuk kedalam, Nayla mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Algha, ia terkikik geli menemukan suaminya itu bersembunyi di dalam selimut.

Dengan pelan ia naik ke atas ranjang dengan gerakan sambil membuka selimut yang membungkus tubuh suaminya itu, namun Algha semakin mengeratkan pegangannya pada selimut membuat Nayla kembali menarik kuat selimut itu akan tetapi usahanya nihil.

selang beberapa detik kemudian terdengar suara sesenggukan yang berasal dari dalam selimut, setengah percaya akan apa yang terjadi Nayla kembali menarik selimut dengan pelan dan saat itu pula mata Nayla refleks melongo melihat suaminya meringkuk dengan suara tangis yang mengiringi, tubuhnya bergetar dan juga berkeringat. Iapun paham jika suaminya ini takut pada ulat.

FeedbackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang