Prologue

143 9 0
                                    


・☾𖤓・

Ōsaka, Desember 2016

Suara derap langkah kaki terdengar di tengah keheningan malam, membangunkan gadis yang telah setengah tertidur itu. Seketika, insting tanda bahaya gadis itu menyala. Tanpa bersuara, ia mengambil pisau yang selalu tersedia di bawah tempat tidurnya dan menggenggamnya di bawah selimut erat-erat. Tempat ini tidak aman lagi...

Setelah beberapa lama, langkah-langkah kaki itu berhenti di depan kamarnya, dan pintu kamarnya terbuka. Gadis itu duduk dengan sigap, mencengkram pisaunya erat-erat, namun, segera mendesah lega ketika menyadari orang itu adalah ayahnya sendiri.

"Otou-san, doushita no?" Tanya gadis itu.

Wajah ayahnya yang tampak was-was terlihat di tengah remang-remang lampu, tampak mengkhawatirkan sesuatu. Ayahnya mendesah, lalu duduk di pinggir kasurnya. "Hitomi, kau harus pergi dari tempat ini. Rumah ini tidak lagi aman untukmu."

Gadis itu membelalak, "Pergi?! Pergi kemana?! Aku tidak mau meninggalkan ayah!"

"Ayah akan mengirimmu ke Korea. Sampai situasi di tempat ini aman, kau tinggallah disana."

"Tidak! Bukankah ayah yang bilang bahwa kita tidak boleh lari dari masalah?! Bukankah ayah yang mengajariku untuk menghadapi masalah seberat apapun itu?!"

"Hitomi!" Teriak ayahnya, memegang kedua bahunya erat.

Teriakan pilu itu membungkamnya dan gadis itu menatap mata hitam ayahnya yang kini mengilat sedih. "Karena kelalaianku, aku telah kehilangan ibumu. Aku tidak mau kehilanganmu juga."

Pria itu membelai wajahnya pelan dan memaksakan sebuah senyum, "Boku no taisetsu na musume..." <Anak gadisku yang berharga>

Tanpa bisa ditahannya lagi, air mata mengalir deras dari mata gadis itu, dan ia pun menghambur masuk ke dalam pelukan ayahnya, "Aku tidak mau meninggalkan ayah..."

"Ayah akan baik-baik saja. Ayah berjanji akan mengunjungimu sesekali, jadi, kau juga baik-baik lah disana."

"Sejak kecil kau adalah gadis yang kuat. Sampai waktunya tiba, ayah yakin kau bisa bertahan disana." Pesan ayahnya sambil mengusap-usap punggungnya. "Kau harus bertahan disana... Karena ayah tidak tahu apa yang akan ayah lakukan bila ayah harus kehilanganmu juga..."

Ucapan ayahnya itu membuat tangisannya semakin deras. Gadis itu mengeratkan pelukan pada ayahnya sebelum akhirnya melepaskan dekapannya. Ia mengusap air matanya dan menatap ayahnya dalam, "Aku berjanji akan bertahan. Sampai waktunya tiba untuk membalaskan dendamku."

.

.

.

.

Please Kindly Vote and Comment!

Kim Gimyung | Invisible StringTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang