"Jika kedatangan kau hanya untuk main-main, kenapa memilih manusia lemah sepertiku, Tsani?"
Ayyana Dzakiya Almahyra, darinya kita tahu bahwa kemuliaan seorang wanita tidak terletak pada seberapa banyak pria yang tertarik padanya, melainkan pada sebe...
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Ali Sayyidina Muhammad.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
20.54 WIB.
Setelah Ayya makan bersama keluarganya Tsani, akhirnya dia pulang. Dengan perasaan apa? Tentu saja dengan perasaan 'penasaran' atau dalam bahasa gaulnya 'kepo'.
Sudah bisa ditebak kenapa Ayya pulang dalam keadaan itu?
Ya! Karena ucapan Abinya Tsani yang bertanya mengenai rencana beliau dengan anaknya besok hari.
Ayya tentu saja ingin menyeletuk, mau kemana? Mau ngapain? Siapa saja yang ikut? Tapi dia sadar, dia harus melanjutkan proses move on nya.
Kasihan dia, dipaksa untuk melupakan, padahal mengutarakan perasaannya saja belum sempat.
Oke kembali ke cerita.
Karena Ayya sadar diri, setelah selesai makan, dia dan uminya Tsani membereskan meja makan dan pamit beranjak pulang.
Disini Ayya sekarang, di depan rumah Suci yang sudah tertutup rapat pada jam segini. Maklum saja, dia perempuan dan sendirian.
Ayya hendak langsung mengetuk pintu, karena dia sudah tidak sabar untuk bercerita apa yang baru saja dia alami.
Tok... Tok.. Tok..
Itu bukan suara ketukan dari Ayya, melainkan Riki, suaminya Suci.
Reflek Ayya menoleh kepada orang yang di sampingnya itu.
Ayya tertawa renyah. "Mas R." sapanya.
Orang yang dipanggil Mas R itu pun menoleh dan membalas. "Hm."
Kemudian Suci datang membukakan pintu. Dahinya mengernyit bingung, kenapa suaminya ini pulang bersamaan dengan sahabatnya itu.