"Za, lo pucet banget." Ucap Kirana pelan ia adalah teman sebangku Azea, yang sedari mengamati wajah pucat Azea khas orang kelelahan.
"Oh iya? Keliatan banget ya?" Tanya Azea sambil tersenyum ke arah Kirana. Kirana yang mendapati pertanyaan Azea meangguk.
"Sudah makan belum? Mau gue anterin ke uks ga? Jadi gue izin, kasih tau Bu Nami, nih." Tawar Kirana merasa sedikit khawatir tentang keadaan nya.
"Enggak, Na. Aku baik-baik aja kok, tadi pagi juga sudah makan." Tolak Azea dengan alasan ia baik-baik saja.
Padahal yang Kirana lihat Azea jauh dari kata baik-baik saja. Namun Kirana tidak bisa memaksa Azea saat ini. Tetapi jika Azea perlu bantuan ia akan siap menolong.
"Benerapa gapapa?" Tangan Kirana bergerak lembut menempelkan punggung tangan nya ke dahi Azea. "Astagfirullah panas, Za." Bisik Kirana di samping telinga kanan Azea yang tertutup hijab.
"Ke uks aja yu, gue takut lo kenapa-napa." Kali ini Kirana memutuskan untuk lebih memaksa Azea. Azea yang merasa sudah di paksa Kirana hanya bisa mengiyakan pasrah.
"Bu Nami, Azea sakit. Izin nganterin dia ke uks ya, bu."
"Azea sakit apa nak?" Tanya Bu Nami setelah mengehentikan aktivitas nya menjelaskan materi sesuatu di papan tulis.
"Badan Azea panas banget bu, wajah nya juga pucat." Bukan Azea yang menjawab, melainkan Kirana.
"Baik, silakan Kirana anterin Azea ke uks ya. Terimakasih."
"Iya bu."
Setelah mendapat persetujuan dari Bu Nami mereka akhirnya pergi menuju ruang uks yang terletak di sebelah tenggara kawasan sekolah.
"Makasih Na, kamu bantuin aku." Ucap Azea tulus.
"Sama-sama. Gue ke kelas dulu ya, nanti istirahat gue kesini lagi. Istirahat okey, jangan lupa di minum obat nya! Cepat sembuh Zeaaaa!" Ucap Kirana.
Azea hanya tersenyum memandangi punggung belakang Kirana yang mulai menjauh keluar UKS.
"Hah, capek yaa. Sakit terus kaya gini. Padahal udah cukup loh malam tadi juga gini." Azea bergumam pelan sembari ingin memejamkan matanya, bersiap untuk tidur barang sebentar saja.
Sretttt
Gorden biru langit pembatas dengan kasur lain di sebelah kiri malah terbuka setengah begitu saja. Bulu kuduk Azea langsung berdiri tegak, Azea merasa waspada. Yang Azea tahu di UKS hanya ada dirinya, karena siswi yang piket UKS sedang keluar sejak tadi. Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia lain selain dirinya.
"Sakit apa?"
"Hah!?" Seketika jantung Azea ingin lompat dari tempat nya. Bagaimana ia tidak terkejut karena secara tiba-tiba saja suara familiar dari bilik gorden biru langit bertanya padanya.
"Siapa?"
"Rayyan."
"Ehh?" Seketika saja Rayyan keluar dari bilik sebelah kiri.
"Za? Darah!" Panik Rayyan seketika melihat area wajah Azea. "Kamu gapapa Za!?"
"Hah? Kenapa?" Azea yang sedari tadi masih merasa tidak konek dan agak aneh dengan pernyataan Rayyan. Kenapa Rayyan tiba-tiba saja ada di sini? Dan kenapa Rayyan bilang ada darah? Azea merasa bingung.
"Darah Za! Di hidung kamu! Sebentar saya cari tisu."
Beberapa detik setelah nya barulah ia menyadari akan sesuatu itu yang di maksud Rayyan tentang 'darah' Azea menyapu tangan nya ke wajah dekat hidung nya. Benar sekali tebak pikiran nya, ia mimisan lagi!
KAMU SEDANG MEMBACA
Starlight With You (On-going)
Teen FictionBercerita tentang seorang remaja laki laki penyuka benda langit, bernama Muhammad Rayyandra Alfahrizi yang terjebak dalam ingatan masa lalu nya bersama seorang gadis kecil yang seumuran nya saat itu. Ai begitu nama panggilan yang di miliki gadis kec...
