Gaura seketika merasa nyaman begitu tubuhnya hanya dilapisi dengan kaos kebesaran dan celana pendeknya. Hidup selama dua puluh lima tahun dibawah didikan Ayahnya, Gaura tumbuh menjadi perempuan yang displin. Basri memberinya waktu sepuluh menit yang berarti dia harus sudah berada di ruang kerja Ayahnya dalam waktu tersebut.
Ternyata beberapa bawahan Ayahnya masih ada di ruang makan. Gaura tersenyum pada mereka, dia mengenali beberapa orang diantaranya. Gaura sama seperti anak pejabat militer pada umumnya, banyak anggota militer yang berusaha mendekatinya, memulai pendekatan melalui dunia maya maupun secara langsung.
Instagramnya tentu saja mendapat banyak sekali follow request dari pria-pria dari bidang yang sama. Tapi nyatanya, request follow-nya lebih banyak daripada jumlah followers-nya sendiri. Gaura cukup tertutup, dia tidak suka memamerkan hidupnya disaat anak petinggi lain saling berlomba untuk itu. Gaura merasa selagi semua yang saat ini dinikmatinya masih berasal dari Ayahnya, maka Gaura belum berhak untuk melakukan itu.
Gaura masuk ke ruang kerja Ayahnya setelah mengetuk pintu. Basri sedang duduk di kursi, melempar senyum begitu melihat kedatangan putrinya, dia melepas kacamata yang tadi bertengger di hidungnya.
"Gimana, udah tau mau lanjut di mana?" tanya Basri, matanya memperhatikan putrinya yang sudah duduk di sofa cokelat.
"Udah. Gaura maunya sih di UGM Yah, tapi UI kayaknya lebih bagus, professornya juga lebih mumpuni."
"Nanti Ayah bantu urus kalau begitu."
Gaura mengangguk.
"Ayah manggil Gaura buat itu?" tanya Gaura bingung, hal seperti ini biasanya akan mereka bicarakan saat kumpul santai di ruang keluarga atau saat makan bersama.
Basri berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Gaura lalu duduk di hadapan putrinya yang masih memandangnya penuh kebingungan.
"Sayang. Ayah ada syarat buat kamu kalau mau lanjutkan pendidikan."
"Apa?"
"Ayah mau kamu menikah."
Gaura terdiam, masih berusaha mencerna kalimat Ayahnya. Dari semua kemungkinan yang pernah terlintas di kepalanya, ia tidak pernah menduga bahwa Basri akan melontarkan permintaan itu dengan begitu mudah dan gamblang. Sama sekali tidak
"Ayah lagi bercanda, kan?" ditatapnya pria paruh baya di depannya lekat-lekat, berharap Basri akan tertawa dan mengatakan bahwa yang tadi disampaikannya hanya sebuah candaan. Namun sampai beberapa detik, Ayahnya tetap terdiam. Gaura akhirnya tauh bahwa yang dikatakan Basri memang sebuah perintah.
"Ayah tau kan, aku belum mau nikah, aku belum siap Ayah," suaranya kini terdengar gelisah.
"Ayah tau, sayang. Di dunia ini, Ayah yang paling mengerti kamu selain Mami, dan karena itu Ayah tau kalau saat ini adalah saat yang tepat untuk kamu menikah. Percaya sama Ayah."
Gaura menggeleng, air mata sudah jatuh dari pelupuk matanya. "Gaura nggak mau, Yah. Kalau aku nggak usah lanjut doktor apa aku juga nggak perlu menikah?"
Sebenarnya Gaura sudah tau jawabannya. Dia tau sekali bagaimana cara Ayahnya berpikir. Dan begitu mendengar jawaban itu, Gaura tetap merasa dunianya hancur. "Tetap. Kamu akan tetap menikah."
"Tapi aku nggak ada pacar, Yah. aku lagi nggak deket sama siapa pun."
"Memang kamu pikir Ayah bakal setuju dengan kamu pacaran?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TOLERATE IT
RomanceGaura terlalu terpaku dengan hidup nyamannya hingga tidak pernah terpikir untuk menikah. Tapi tanpa dia ketahui, ternyata Ayahnya memberikan syarat padanya jika ingin melanjutkan pendidikan doktornya. Yaitu, dia harus menikah. Lebih buruknya lagi, t...
