9: ibu serta makan siang

1.6K 110 0
                                        

Mereka baru menyelesaikan pindahannya sekitar dua hari setelah seluruh rangkaian acara pernikahan selesai. Sejak kemarin, setelah semua barang-barang sudah dipindahkan, Gaura dan Praya sibuk menata rumahnya. Walau tidak banyak yang Gaura pindahkan, tapi tetap saja memakan waktu dan tenaga.

                Saat masuk pertama kali, Gaura sudah suka dengan interior yang ada di sana. Didominasi dengan warna putih, dan sentuhan kayu, Gaura setuju dengan pemilihan warnanya. Dari informasi yang Praya katakan, Praya sudah mengisi rumahnya itu dari lama, dia menyicil perabotannya sedikit demi sedikit sampai sekarang seluruh ruangan sudah terisi dengan furniture.

                Ada tiga kamar di sana, yang satu tentu saja digunakan sebagai kamar tidur mereka, satu kamar lagi Praya alih fungsikan menjadi sebuah ruang kerja lengkap dengan buku-buku yang tersusun rapi di rak. Kebetulan dua orang itu gemar membaca, Gaura membawa banyak buku-buku di rumahnya untuk ikut mengisi bagian-bagian rak yang masih kosong. Serta satu kamar yang lain dia jadikan kamar tamu.

                Berbeda dengan Praya yang sama sekali tidak membaca fiksi, Gaura masih menyempatkan diri untuk membaca beberapa novel fiksi, sebagai salah satu hiburannya. Setelah menjadi istri, Gaura semakin tau betapa membosankan hidup Praya ini. Pria itu kebanyakan menghabiskan waktu luangnya menonton berita di TV dibanding memainkan ponselnya. Padahal, berita di media digital sekarang lebih update dibanding koran yang tiap pagi datang ke rumahnya.

                Gaura bahkan sedikit syok saat pertama kali mendapati Praya membaca koran, dia pikir manusia yang masih membaca koran itu paling tidak seumur Ayahnya, namun melihat Praya yang ternyata juga masih membaca koran membuatnya heran.

                "Mas masih baca koran?" Tanya Gaura hari itu, dia baru saja menyelesaikan mandi paginya dan mendapati Praya yang duduk dengan kaki terlipat asik membaca koran di tangannya.

                "Iya, sensasinya beda. Sama halnya baca e-book dan buku fisik."

                Gaura memilih untuk tidak berkomentar apapun, orang-orang punya kebiasaan yang berbeda-beda, selama tidak menyimpang, Gaura tidak akan keberatan.

                Praya sudah mulai kembali masuk bekerja hari ini sedangkan Gaura baru kembali mengajar lusa. Hari ini dia masih bisa bangun siang dan menikmati paginya dengan bergelung di bawah selimut sampai puas. Matanya terbuka sedikit merasakan seseorang menyentuh bahunya, itu Praya yang sudah memakai seragam kerjanya. Masih dengan kesadaran yang belum kembali seluruhnya, Gaura berusaha untuk bangun.

                "Aku kerja dulu." Kata Praya berpamitan, dia memajukan tubuhnya untuk mengecup pipi dan kening istrinya yang masih masih tampak berusaha mengumpulkan nyawa.

                Gaura mengangguk walau samar. "Mas nggak sarapan?" Tanyanya dengan suara serak.

                Semenjak menikah, Gaura belum pernah menyiapkan sarapan, walau dia sangat ingin tapi belum terlaksana. Sebelumnya ketika masih di rumah, makanan sudah selalu siap. Semalam dia sudah berniat untuk bangun pagi untuk menyiapkan sarapan Praya sebelum berangkat kerja. Namun apa daya dia kelelahan karena semalam mengurusi pindahannya, menyusun baju dan barang-barangnya yang lain.

                "Nanti makan di kantin aja, kamu tidur lagi lah, aku pulang sore abis itu ke dokter, kan?" Gaura mengangguk, tangannya menyingkirkan rambut yang ada disekitaran wajahnya.

                "Hati-hati, Mas." Katanya pelan.

                Gaura masih duduk melihat punggung Praya yang semakin jauh lalu menghilang di pintu yang kembali ditutup rapat. Kemarin, atau mungkin dua hari yang lalu, Gaura sudah menyampaikan pada Praya bahwa dia ingin suntik KB daripada meminum pil, kemungkinan untuk dia lupa minumnya sangat besar. Praya tidak berkomentar apa pun, pria itu hanya mengangguk lalu berkata akan mengantarnya.

TOLERATE ITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang