24: yang tak pantas tuk didengar

1K 74 4
                                        

                Semuanya perlahan-lahan berjalan normal kembali. Rutinitas mereka sudah seperti sebelumnya. Ikhlas itu memang tidaklah mudah, tapi bukan berarti tidak bisa, selagi mau, selagi ingin, dan percaya pada Tuhan serta meminta untuk diberi kekuatan untuk itu, semuanya akan terwujud. Percaya saja.

Praya rajin ke rumah orang tuanya setidaknya satu kali sebulan, bersama istrinya. Melihat keadaan Ayah serta Abangnya yang sudah menetap kembali di rumah orang tua mereka.

Empat bulan berlalu sejak kepergian Sari dan keguguran Gaura. Waktu berjalan begitu cepat. Dan diwaktu-waktu itu, tanpa keduanya ungkapkan, sering kali kesedihan atas kehilangan itu masih ada. Tapi keduanya tahu, sudah tidak ada gunanya lagi untuk mereka terkungkung di dalam rasa sedih itu. Hanya membuat mereka tersiksa.

Ternyata selama empat bulan itu juga Gaura benar-benar belajar menggunakan hijabnya, dan sekarang dia sudah terbiasa. Rasanya aneh jika tidak memakainya. Walau kadang dia masih memakai celana, meski sudah bukan jeans, tapi sebisa mungkin dia memakai terusan. Model hijabnya tidak pernah macam-macam, Praya menganjurkan dia untuk memakainya sesuai syariat, menutupi dada. Dan Gaura menurut, aneh juga kalau hijab yang dia gunakan tidak menutupi dadanya, padahal, begitulah ajaran yang diperintahkan.

Empat bulan ini banyak yang terjadi. Banyak yang telah mereka lalui. Salah satunya adalah Gaura yang sudah mempersiapkan dirinya untuk hamil. Dibeberapa bulan sebelumnya, ketika dia ternyata mendapatkan tamu bulanannya, kesedihan langsung membanjiri hatinya. Tapi tidak apa. Lagipula baru berapa bulan setelah kegugurannya, semua pasti butuh proses, termasuk kehamilannya.

Praya juga tidak pernah sama sekali menuntutnya apa pun, atau sekedar bertanya, dia sama sekali tidak pernah. Gaura sudah tidak melanjutkan KBnya lagi. Sambil terus berdoa kepada Tuhan, dan tentunya berusaha. Gaura begitu menanti kehadiran bayi kembali di dalam perutnya. Kadang dibeberapa waktu, dia termenung, berpikir kenapa dirinya dulu begitu egois. Padahal, dia tau, tidak hanya Praya yang menginginkan kehadiran anak itu. Orang tuanya pasti juga mendambakan cucu.

Namun, Gaura teringat dengan apa yang selalu Praya sampaikan. Semua sudah menjadi takdir yang Tuhan tetapkan untuk mereka. Ada waktu yang tepat yang telah Tuhan gariskan.

Tapi pagi ini ketika lagi-lagi Gaura mendapat tamu bulanannya yang sungguh sudah tidak dia harapkan lagi. Yang artinya dia harus bersabar menunggu satu bulan lagi. Dia menangis di dalam kamar mandi. Dia menangis dalam diam, tidak ingin Praya sampai tau. Pria itu sedang di luar, membersihkan teras yang kotor karena semalam hujan deras.

Dengan berat hati, Gaura mencoba untuk ikhlas, dia membersihkan tubuhnya lalu keluar untuk memakai pembalut. Dia keluar mencari Praya, langkahnya langsung menghampiri Praya yang ternyata sudah selesai di teras, pria itu baru saja meletakkan gelas di westafel. Gaura memeluk suaminya dengan begitu erat, melingkarkan tangannya di tubuh Praya.

"Kamu kenapa?" Tanya Praya bingung. Perempuan itu tadi mengatakan mau mandi selagi dia membersihkan teras. Praya bingung, sepertinya semuanya baik-baik saja. Sudah tidak ada berita duka yang datang pada mereka.

Gaura menggeleng, rasanya terlalu sulit untuk mengeluarkan suaranya. Dia menangis. Padahal sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan tangisnya di depan Praya.

"Kamu nggak mungkin nangis begini kalau tidak ada apa-apa. Kita menikah tiga tahun, tidak mungkin aku tidak mengenal kamu. Ada apa, hm?" Tanya Praya lagi lebih lembut.

"Gagal lagi, Mas..." lirihnya penuh kesedihan. Kepalanya masih menempel di dada Praya, menolak untuk mempertemukan mata mereka ketika Praya mencobanya.

TOLERATE ITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang