20: selalu selangkah di depan

950 71 0
                                        

                Praya berkendara pulang ke rumah. Hari ini dia pulang terlambat lagi karena tertahan rapat gabungan di kantor. Dia sudah mengabari Gaura kalau dia tidak bisa makan bersama malam ini, jadi perempuan itu tidak perlu memasak. Kadang ketika lagi sibuk penyelidikan di kantor seperti belakangan ini, Praya merasa kasihan dengan istrinya, harus sendirian di rumah. Belum lagi karena biasanya Praya baru selesai pukul sembilan bahkan sepuluh malam, Gaura sudah tidur.

Padahal dia tau sekali perempuan itu suka mengobrol sebelum tidur. Atau sekedar menemaninya membaca buku. Praya menarik senyum di bibirnya, hatinya merasa senang hanya dengan mengingat perempuan itu.

Begitu tiba di rumah, sama seperti dugaannya, beberapa lampu sudah dimatikan, hanya lampu dapur yang dibiarkan menyala serta lampu depan. Praya membuka kamar mereka, matanya menangkap Gaura yang ternyata belum tidur. "Kenapa belum tidur?" Tanya Praya, dia meletakkan helm putih yang dibawanya karena tadi pagi ada upacara yang mengharuskan dia memakainya.

"Belum ngantuk, Mas, tadi baru selesai bikin power point juga buat tugas besok." Gaura membuka lemari pakaian, mengambilkan kaos dan celana untuk suaminya. Kebiasaan Praya ketika pulang, mau jam berapa pun, dia langsung mandi membersihkan diri sebelum tidur.

"Udah selesai?" Gaura mengangguk, sudah duduk di pinggiran ranjang dengan pakaian Praya yang tadi dia ambilkan. "Aku mandi dulu, yah." Katanya lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Praya meletekkan bajunya di keranjang baju kotor. Jadwal mencuci Gaura biasanya dua hari sekali, atau kadang juga tidak sempat karena sedang sibuk. Namun, sebisa mungkin dia tidak akan membiarkan pakaian kotor menumpuk. Apalagi untuk seragam kerja Praya. Jika tugas Gaura adalah memasukkan pakaian itu ke mesin cuci dan menjemurnya, tugas Praya mengangkat jemuran itu ke halaman belakang. Tapi tidak selalu seperti itu. Jika waktunya lumayan senggang dan melihat Gaura sibuk, maka dia yang akan melakukan semuanya.

Bagi Praya, dia tidak perlu mematok kerjaan ini harus dilakukan olehnya atau Gaura. Saling mengerti saja dengan kesibukan masing-masing. Siapa yang lebih senggang, dia mengerjakan lebih banyak.

Praya keluar setelah menyelesaikan mandinya. Memakai kaos dan celana yang sudah disiapkan Gaura. Sebenarnya dia sudah berkata pada Gaura untuk tidak perlu menyiapkannya seperti ini. Dia bisa melakukannya sendiri, tinggal mengambil baju saja di lemari. Bahkan anak kecil pun bisa. Tapi perempuan itu berkata dia melakukannya selagi bisa.

"Masih sibuk kamu, Mas?" Tanya Gaura, masih duduk di tempat tadi. Sepertinya dia memang menunggui suaminya selesai mandi.

Praya menggeleng. "Nggak kok. Udah aman sekarang di kantor."

"Oh yah? Kok bisa?" Gaura bergeser sedikit membiarkan suaminya duduk di samping.

"Masalah Pak Indra sudah selesai."

"Udah dapat buktinya, Mas?" Tanya Gaura penasaran.

"Iya,"

"Pak Indra beneran bersalah? Dia terbukti lecehin korban itu?"

Praya menggeleng. "Nggak. Dia dituduh sama perempuan itu."

"Ha? Ihh kok bisa? Gimana ceritanya, Mas?"

"Perempuan itu memang kenal sama Pak Indra. Kamu tau dia apanya Pak Indra?"

Gaura menggeleng cepat.

"Dia ternyata anaknya Pak Indra dari masa lalunya sebelum menikah sama istrinya yang sekarang." Gaura terkejut. "Kenapa drama banget sih, Mas? Terus kenapa anaknya nuduh bapaknya begitu sih?" Tanyanya bingung.

TOLERATE ITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang