Riani dan Basri sudah dihubungi oleh menantunya, Praya. Kedua orang tua itu ingin segera ke rumah sakit saat itu juga. Namun, Praya mengatakan untuk datang sekalian besok pagi saja. Meningat sudah terlalu malam dan Gaura juga sudah tidur. Biarkanlah Gaura beristirahat, perempuan itu masih terlalu lemah.
Maka ketika pagi sudah tiba. Keduanya sudah ada di dalam ruangan Gaura. Riani menangis melihat kondisi putrinya. Baik Riani maupun Basri tidak banyak yang berkomentar. Mereka hanya menanyakan keadaan Gaura saja. Apa dan bagaimana kegugurannya pun hanya mereka tau sekedarnya saja. Gaura kelelahan dan stress sehingga keguguran karena kandungannya masih lemah. Keduanya mengerti, bahkan mereka mungkin lebih dari mengerti, karena Riani pun berkali-kali keguguran.
Riani menyuapi putrinya, ada bubur yang disediakan rumah sakit. Yang mau tidak mau harus Gaura telan. Padahal, perempuan itu tidak terlalu menyukai bubur, apalagi bubur hambar seperti ini.
Basri duduk di samping Praya, di sebuah sofa panjang. Mereka berbincang sebentar. Basri bertanya tentang kondisi Praya. Dia tau, yang butuh perhatian saat ini bukan hanya Gaura, karena, Praya pun sama, pria itu sama kehilangannya. Atau mungkin Praya lebih terpukul lagi.
Praya hanya tersenyum lalu menjawab bahwa dia sudah baik-baik saja. Dia berusaha untuk ikhlas.
"Kalau ada yang mau diambil di rumah, kamu pulang dulu aja, Nak. Biar Gaura kami yang jaga di sini." Kata Basri. Melihat Praya yang hanya memakai kaos dan celana seadanya itu memperjelas bahwa semalam, mereka memang tergesa ke rumah sakit.
Basri mengucapkan terimakasih karena telah memberikan pertolongan untuk anaknya. Padahal, Praya hanya melakukan sesuai dengan apa yang sudah seharusnya dia lakukan.
"Nggak. Suruh orang aja, Yah, yang ambilin baju!" Potong Gaura lebih dulu, sebelum Praya menjawab.
Ketiganya menatap Gaura. "Biarin Mas Praya di sini aja." Dia ketakutan. Saat bangun tadi pagi pun, yang pertama dicarinya adalah Praya. Selepas salat subuh di musholla masjid di bawah, Praya tidur di sofa, terbungkus selimut. Gaura menjerit, mencari keberadaan pria itu.
Nafasnya yang tadi tertahan seketika lega ketika melihat Praya yang ternyata tidur di sofa. Pria itu menghampirinya, memeluknya dan membuatnya menjadi lebih tenang.
Basri akhirnya mengerti, dia mengangguk. "Suruh Pak Edi aja kalau begitu. Kalian mau diambilin apa?"
"Baju sama celana aja, Yah. Besok juga sudah boleh pulang." Praya menjawab. Dia memang tidak butuh apa-apa selain pakaian.
"Kamu, mau diambilin apa?" Gaura menggeleng, dia tidak butuh apa-apa.
"Ambilin baju juga sekalian, buat dipakai pulang." Akhirnya Praya yang menjawab. Untuk pakaian di rumah sakit, sudah disediakan untuk pasien.
Basri mengangguk langsung. Dia berjalan keluar, menelfon seseorang untuk disuruh mengambilkan barang anaknya.
"Udah kenyang, Mi." Kata Gaura sambil menggeleng begitu Riani menyuapinya.
Riani menghela nafasnya, Gaura makan sedikit sekali, tapi tidak apa. Wanita itu membantu putrinya minum lalu beralih memotong buah pir, buah kesukaan putrinya yang sengaja singgah ia beli sebelum ke rumah sakit pagi ini. Saat mendapat telfon dari Praya, dunianya seakan runtuh mendengar putrinya keguguran. Riani tau sekali rasanya, dan dia tidak rela putrinya harus merasakan rasa sakit itu.
"Makan buah, Nak. Praya sini makan buah." Riani menawarkan. Dia kembali menyuapi Gaura sepotong buah yang telah dia bersihkan dari kulitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOLERATE IT
RomansaGaura terlalu terpaku dengan hidup nyamannya hingga tidak pernah terpikir untuk menikah. Tapi tanpa dia ketahui, ternyata Ayahnya memberikan syarat padanya jika ingin melanjutkan pendidikan doktornya. Yaitu, dia harus menikah. Lebih buruknya lagi, t...
