15: obrolan gen z lainnya

1.1K 79 1
                                        

                1 Tahun Pernikahan

Bahkan setelah hampir satu tahun hidup bersama, keduanya tidak pernah melewatkan kegiatan yang selalu mereka lakukan sejak awal menikah. Tidak ada yang berubah. Obrolannya tidak pernah terputus sama sekali. Rutinitas yang terjadi setiap hari masih seperti itu.

Satu tahun bersama membuat Gaura semakin mengenal suaminya, tentang apa yang mereka dulu sering diskusikan ternyata benar, semuanya sesuai dengan tindakan pria itu. Pertengakaran jelas pernah terjadi di antara mereka. Maka, seperti yang Praya sampaikan, pria itu selalu butuh waktu untuk meredakan amarahnya. Praya tidak pernah menunjukkan kemarahan padanya sama sekali, pria itu memilih untuk diam.

Setelahnya, Praya akan datang sendiri kepadanya dan memulai obrolan dengan kepala yang sudah tenang. Kemudian berdiskusi tentang permasalahan mereka tempo hari. Tapi bagaimana pun, bahkan disaat bertengkar pun, Praya tetap memeluk istrinya ketika tidur, kebiasaan itu tidak pernah bisa lepas, bahkan ketika Gaura memilih untuk tidur membelakanginya, Praya tetap memeluknya dari belakang. Tanpa berkata apa pun.

Awalnya Gaura menolak, dia sedang marah, dan Praya sama sekali tidak mencoba untuk mengajaknya bicara, walau tentang itu Gaura sudah maklum dan mengerti dengan suaminya. Tapi kalau begitu cara main Praya, maka dia juga berhak untuk menolak dipeluk. Tapi sepertinya pria itu tidak bisa, walau mendapat penolakan dari Gaura, dia masih terus mendekat.

"Mas ih, sanaan deh!" Tukasnya sebal.

"Engap dipelukin begini!" Katanya masih kesal karena Praya yang tak kunjung mengerti dengan menjauhnya dan tidak ingin disentuh.

Praya tetap diam, tidak menjawab sama sekali, dia malah mendekatkan tubuhnya tanpa peduli, tangannya melingkar memeluk Gaura dengan mata yang terpejam.

"Mas! Aku ngomong tuh kamu dengar, nggak sih?!" Gaura melepaskan tangan Praya yang melingkar di pinggangnya.

Praya sebenarnya sudah menjelaskan terkait hal yang membuat Gaura marah. Hanya kesalahpahaman yang tidak penting. Namun perempuan itu ntah karena sedang menstruasi atau apa, masih juga kesal.

"Kamu kenapa masih marah, bukannya tadi sudah ku jelaskan?" Akhirnya Praya membuka suaranya.

"Yah kamu mikir aja sendiri!"

Praya menghembuskan nafasnya. "Tadi kan sudah ku jelaskan, kalau Lia itu mantan rekan kerja ku pas di Pontianak kebetulan dia dipindahkan ke Jakarta dan dia ngasi kami oleh-oleh."

"Apaan oleh-oleh begitu terus ada love-nya, mana ucapannya nggak banget lagi. Nggak mungkin kalau dia ngasi semua orang dengan ucapan begitu Mas. Itu jelas banget tulisan tangan, loh. Dia nulisnya pasti sambil senyum-senyum," kata Gaura meluapkan isi hatinya.

Dia jengkel sekaligus heran saat pertama kali melihat bungkusan yang dibawa Praya saat pulang tadi. Yang ternyata saat dibuka, isinya sekotak cokelat dengan kartu ucapan yang sedikit diluar logika, apa perempuan itu tidak tau kalau Praya sudah menikah?

Praya tertawa. "Kamu ini lucu kalau lagi jealous begini."

"Apaan sih, aku nggak jealous. Tapi heran aja liat itu orang, bisa-bisanya dia ngasih kamu beginian. Dia tau kamu udah nikah?" Praya mengangguk dengan santai.

Gaura membalikkan tubuhnya, mereka kini berhadapan, kedua pasang mata itu akhirnya bertemu. "Jangan-jangan dia juga udah nikah?" Tanya Gaura dengan curiga.

TOLERATE ITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang