23 Tahun Pernikahan
Apa yang sudah digariskan Tuhan itu memang terlalu indah jika kita mau bersabar untuk menunggu apa yang sebenarnya sedang Dia siapkan untuk kita. Tidak perlu terburu-buru karena semua sudah ada waktunya, Tuhan lebih tahu kapan waktu yang tepat untuk dia berikan kepada kita, sebuah kebahagiaan yang tidak berujung.
Gaura baru saja selesai mengajar, dia menutup kelasnya dengan senyuman untuk seluruh mahasiswanya siang ini. Dia tidak ada jam lagi, dia bisa langsung pulang ke rumah dan beralih profesi sebagai yang sepertinya belakangan ini lebih dia cintai.
Dulu, saat Gaura belum terpikirkan untuk menikah, saat dia masih menganggap bahwa pernikahan adalah suatu hal yang sangat berat, penuh tanggung jawab dan sepertinya dia tidak akan siap untuk itu, Gaura selalu khawatir bagaimana dia akan menghabiskan hari tuanya jika dia menikah, apakah dia menjadi perempuan menyedihkan yang mengisi hari-hari dengan segudang pekerjaan rumah yang akan menyiksa seperti di Neraka?
Tetapi ternyata, saat akhirnya dia sudah menjalani hidupnya kini, bertemu dengan suami dan anaknya. Gaura justru lebih senang berada di rumah, berkumpul dengan mereka, membuatkan mereka makanan, bercerita bersama dua orang terkasihnya. Sangat sederhana, namun rasanya justru luar biasa.
Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi, semuanya seperti terjadi begitu saja, sebuah nalurinya sebagai istri dan ibu.
Hafizh, putranya sudah tumbuh dewasa, anaknya itu sudah mulai menjajaki dunia dewasa. Sembilan belas tahun, rasanya terjadi dengan begitu singkat, dia masih ingat semua proses pertumbuhan anaknya karena Gaura ada di sana, terus menemani putranya, dia mungkin bukanlah ibu yang sempurna atau ibu terbaik di dunia, tetapi seperti yang Praya katakan, untuk menjadi manusia saja kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna, apalagi untuk menjadi orang tua.
Hanya saja Gaura selalu mengusahakan yang terbaik untuk putranya, mendampinginya dengan seluruh pemahaman yang senantiasa akan dia berikan. Selama jalannya memang benar, maka dengan sepenuh hati dia akan di sana, menjadi penyemangat utama untuk putranya.
Sekitar satu tahun yang lalu Hafizh dipusingkan dengan ke mana dia harus melangkah untuk jenjang pendidikannya selanjutnya. Sebagai seorang anak yang ayahnya berkarir di militer, tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebercik keinginan untuk mengikuti itu. Karena tentu, jalannya pun akan lebih mudah karena ayahnya sudah ada pengalaman di sana, ayahnya akan bisa membimbingnya untuk melangkah di dunia itu.
"Kamu tau kalau Ayah nggak akan pernah maksa kamu. Ini hidup kamu, kamu boleh mengambil langkah yang kamu inginkan. Jangan jadikan ayah sebagai patokan kamu lalu membuat kamu mengubur apa yang kamu inginkan, Nak." Ucap Praya waktu itu, di tengah perjalanan sore hari ketika dia baru menjemput putranya pulang sekolah.
Semestinya, tanpa Praya ungkapkan pun, Hafizh sudah tahu bahwa ayahnya tidak akan memaksanya. Dia tahu bagaimana kedua orang tuanya. Tetapi sungguh, saat ini dia sedang risau harus mengambil langkah besar di dalam hidupnya ini.
Tidak hanya sampai disitu pembahasan mereka, malam itu, ketika mereka baru saja selesai makan bersama. Hafizh kembali memulai obrolan masih dengan tema yang sama, harus ke mana kah dia melangkah?
"Kamu tau kan bagaimana pendapat Ayah sama Ibu, kami sudah ngasih tau kamu apa-apa saja poin dari pilihan yang kamu risaukan itu, selebihnya kami kembalikan ke kamu, Nak. Kamu yang lebih tau apa yang kamu inginkan. Jangan takut melangkah, karena disetiap langkah yang kamu ambil itu, kami akan selalu ada." Kalimat panjang Gaura itu disampaikan sembari menatap putranya lekat-lekat, wajahnya yang tampak tenang itu seoalah mampu membuat Hafizh merasa aman. Bersama kedua orang tuanya, dia merasa lengkap.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOLERATE IT
RomanceGaura terlalu terpaku dengan hidup nyamannya hingga tidak pernah terpikir untuk menikah. Tapi tanpa dia ketahui, ternyata Ayahnya memberikan syarat padanya jika ingin melanjutkan pendidikan doktornya. Yaitu, dia harus menikah. Lebih buruknya lagi, t...
