Jika bisa, andai mungkin, Gaura lebih memilih untuk tidak pernah ada di sana. Tapi Tuhan ternyata menakdirnyannya ke sana. Di siang yang berjalan begitu normal, sama seperti biasanya, ketika dia sedang makan siang bersama temannya. Tubuhnya seakan kaku terdiam di sana untuk waktu yang lama.
Bahkan ketika Mbak Elsa memanggilnya, dia masih terdiam, membeku di tempatnya. Sadarnya baru kembali saat objek yang dilihatnya tadi mendekat padanya. Gaura sudah hampir lupa dengan wajah yang kini tersenyum padanya.
Tubuhnya masih diam, masih mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Siapa yang ditemuinya ini. Dari semua kemungkinan, dia bahkan hampir tidak pernah berpikir akan bertemu kembali dengan orang yang nyatanya kini berdiri di depannya masih dengan senyum di wajahnya.
"Aura, sejak kapan kamu kembali ke Jakarta?" Suara pria itu yang memanggilnya dengan panggilan yang sudah lama tidak didengarnya akhirnya mampu menyadarkan dia, bahwa sekarang dia sedang berada di café menikmati makan siangnya. Dan yang harus dia lakukan saat ini adalah menjawab pertanyaan pria itu.
Dadanya berdentum dengan sangat keras. Setelah bertahun-tahun. Dia kembali mendengar suara pria itu. Yang mungkin sudah hampir dia lupakan. Sudah lama sekali dia tidak mendengarnya. Ada bagian dari dalam dirinya yang merasakan hal aneh. Dan Gaura masih belum bisa menebak, apa yang kini dia rasakan. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba.
Gaura berdehem, suaranya tercekat, sulit sekali untuk mengeluarkannya.
Bibirnya menarik senyum dengan paksa. "Hai. Iya sudah lama."
Mbak Elsa melihat keduanya, sepertinya mereka teman lama yang baru bertemu, dia melirik jam di tangannya, sepertinya dia sudah harus kembali ke kampus karena masih ada jam mengajar. "Gaura, aku balik duluan yah, kayaknya kalian juga mau ngobrol." Kata Mbak Elsa, dia tersenyum kepadanya keduanya. Gaura tidak menjawab, tidak mengangguk ataupun menggeleng. Perempuan itu masih terdiam bahkan setelah Mbak Elsa sudah mengambil tasnya dan berlalu pergi dari sana.
Kini pria itu duduk di kursi depannya, kursi yang tadi diduduki Mbak Elsa. Pria itu duduk di sana tanpa bertanya apa pun padanya. Pria itu masih sama. Masih berlaku seenaknya, sama seperti dulu.
"Apa kabar?"
Nyatanya, pertanyaan singkat itu mampu membuatnya menggigit bibir bawahnya, air matanya tiba-tiba saja jatuh, bahkan tanpa bisa dicegahnya. Gaura menunduk, tangannya menghapus air matanya dengan cepat. Dia tidak akan membiarkan pria di depannya ini melihatnya menangis.
"Aura, kamu tidak apa-apa?"
Gaura mengangguk. Bibirnya dia paksakan untuk tersenyum. "Baik, Kak. Kamu sendiri apa kabar?" Tanyanya dengan suara pelan, hampir tidak terdengar.
"Baik. Kamu di Jakarta masih tinggal di rumah yang lama?" Tanya pria itu lagi, matanya memandang lurus pada perempuan di depannya.
"Kamu tinggal di Jakarta, sekarang?" Tanya Gaura tanpa menjawab pertanyaan pria itu.
Pria itu menggeleng, bibirnya kembali melengkung. Dan Gaura tidak suka melihat senyum itu, senyum yang pernah menjadi alasannya menyukai pria di depannya ini.
"Tidak menetap tapi yah aku akan di Jakarta untuk berapa bulan kedepan, ada kerjaan." Pria itu menjawab dengan santai. Sampai matanya beralih ke satu benda yang tersemat diantara jari Gaura. Detik berikutnya dia tampak tidak percaya. "You're married?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TOLERATE IT
RomanceGaura terlalu terpaku dengan hidup nyamannya hingga tidak pernah terpikir untuk menikah. Tapi tanpa dia ketahui, ternyata Ayahnya memberikan syarat padanya jika ingin melanjutkan pendidikan doktornya. Yaitu, dia harus menikah. Lebih buruknya lagi, t...
