30: alasan kekhawatiran

1K 58 0
                                        

                11 tahun pernikahan

                "Hafizh, kok bekalnya nggak dihabisin?" tanya Gaura ketika melihat kotak bekal yang dia siapkan pagi tadi untuk anaknya ternyata masih tersisa. Padahal sudah berulang kali baik dia mau pun Praya menjelaskan kepada putranya itu bahwa tidak baik menyisahkan makanan.

                Anak itu hanya menggeleng malas lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya. Hari ini Gaura menjemput anaknya yang kini sudah masuk sekolah dasar. Hafizh memang tidak terlalu banyak bicara, hampir mirip dengan Praya, tapi bersama orang tua dan keluarga terdekatnya, Hafizh masih suka mengobrol. Gaura tau ada yang aneh dengan anaknya hari ini.

                Gaura meletakkan kotak bekal itu ke wastafel lalu ikut menyusul Hafizh masuk ke dalam kamar. Sebisa mungkin dia memang selalu mengajak putranya mengobrol tentang apa pun kegiatannya. Dan Hafizh juga cukup terbuka dengan orang tuanya. Anak itu akan menceritakan semuanya. 

                Gaura mengetuk pintu sebelum masuk.

                Hafizh tidur di ranjang, meringkuk sambil memeluk gulingnya. Gaura mendekat, dia duduk di pinggir ranjang. Tangannya menyentuh lengan putranya. "Hafizh nggak pa-pa? Ada yang terjadi di sekolah, Nak?" tanyanya lembut.

                Anak itu menggeleng. "Terus kenapa? Hafizh sakit, Nak?"

                "Hafizh mau punyak adik, Bu. Temen-temen di sekolah punya adik semua," katanya sambil menangis.

                Gaura menghela nafasnya, meraih putranya ke dalam pelukannya. Dia sebenarnya juga ingin menambah anak saat Hafizh sudah berumur lima tahun. Gaura rasa diusia anaknya itu, sudah bisa mengerti saat nanti dia punya adik dan bisa menyayangi adiknya, bukan malah cemburu karena kasih sayangnya akhirnya terbagi. Tapi Praya melarangnya dengan tegas. Usianya yang sudah 35 tahun ditambah dengan kandungannya yang memang tidak kuat, membuat Praya tidak memberi izin lagi. 

                Sudah cukup dengan kehadiran Hafizh saja. Lagipula rasanya sudah sesuai. Dalam satu keluarga, ada satu suami, satu istri dan satu anak. 

                "Jadi Hafizh sedih karena itu?" Anak itu mengangguk dengan kuat.

                Gaura menatap anaknya. "Ibu juga mau sekali kasi Hafizh adik, pasti Hafizh kesepian, yah? Ibu juga anak tunggal seperti kamu, tidak punya saudara, memang sepi rasanya, tidak punya temen main di rumah. Ada Opa sama Oma aja dulu,"

                Anak itu diam mendengarkan.

                "Ibu juga minta adik ke Oma. Tapi ternyata Oma tidak bisa. Perut Oma itu lemah, tidak kuat untuk nampung bayi lagi, jadilah Ibu jadi anak tunggal aja. Tapi Ibu nggak sedih lagi karena setidaknya sudah ada Ibu yang jadi anak Opa sama Oma," jelas Gaura lagi.

                Hafizh mengangguk. "Jadi Ibu juga gitu? Perut Ibu nggak kuat untuk ada bayinya lagi?" Gaura tersenyum, dia mengangguk senang, ternyata anaknya ini bisa mengerti penjelasannya dengan mudah.

                "Makanya Ibu sama Ayah itu sudah senang sekali karena udah ada Hafizh di sini. Tapi kalau Hafizh justru sedih karena nggak bisa punya adik, nanti Ibu juga sedih karena nggak bisa kasi Hafizh adik,"

                Anak itu buru-buru menggeleng, dia memeluk Ibunya dengan begitu erat. "Nggak kok, Bu. Hafizh udah nggak sedih lagi. Kan sudah ada Hafizh, Ibu jangan sedih juga, yah." Gaura membalas pelukan putranya sama eratnya. 

                "Terimakasih yah, Nak, selalu mengerti apa yang Ibu bilang. Hafizh tau kan, Ayah sama Ibu sayang sekali sama kamu." Hafizh mengangguk tanpa keraguan sama sekali.

TOLERATE ITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang