28: siklus hidup berubah

1.3K 73 1
                                        

                Sejak pagi ini Gaura sudah mengeluh sakit pada perutnya. Yang tentu langsung membuat Riani dengan sigap membantu putrinya untuk ke rumah sakit saat itu juga. Pak Edi memang sudah ikut pindah ke rumah Gaura, juga harus standby untuk jaga-jaga. Di perjalanan, Riani menyempatkan untuk menghubungi suami dan menantunya agar ke rumah sakit sekarang juga. Kedua orang itu masih berangkat ke kantor tadi pagi karena belum ada tanda-tanda dari Gaura.

Tiba di rumah sakit, Gaura segera ditangani oleh dokter yang memang sudah menanganinya sejak awal hamil. Begitu diperiksa, ternyata Gaura baru pembukaan dua. Tidak lama, Praya datang dan beberapa menit setelahnya Basri ikut menyusul. Sejak kedatangannya, Praya langsung menghampiri Gaura yang sudah terbaring di ranjang dengan lemas. Perutnya sakit sekali. Dibanding dengan semua sakit perut yang pernah dialaminya, ini adalah yang paling parah.

Gaura bernafas dengan sulit, sejak sembilan bulan hamilnya, dia kesulitan bernafas. Tangannya menggengam tangan Praya dengan begitu erat, melampiaskan rasa sakitnya di sana. Pria itu mengelus kepalanya berulang kali sembari membisikkan kata-kata penenang untuk istrinya. Praya bahkan masih memakai seragamnya karena terlalu panik saat mendapat telfon dari Riani.

"Nak, kamu caesar saja yah? Ayah nggak tega liat kamu begini," ujar Basri di samping putrinya yang masih terlihat kesakitan.

Gaura menggeleng lemah, sejak awal dia tidak mau caesar, sebisa mungkin dia ingin melahirkan normal.

"Iya kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa untuk caesar. Daripada kamu kesakitan terus begini," Praya menyetujui.

Gaura sekali lagi menggeleng. "Gaura mau lahiran normal, Yah." Katanya sekuat tenaga.

Ketiganya hanya bisa berpasrah, selagi belum ada peringatan berbahaya dari dokter, mereka masih menuruti keinginan Gaura.

Namun, sampai beberapa jam kemudian, Gaura belum mendapat kemajuan. Ketiga orang itu sudah cemas, mereka berulang kali membujuk Gaura namun perempuan itu masih berkeras untuk mau melahirkan normal.

Praya menyeka keringat di dahi istrinya dengan tisu. Dia sungguh tidak tega melihat Gaura yang sudah kesakitan selama berjam-jam. Praya mendekatkan dirinya, membisikan sesuatu kepada Gaura.

"Bukannya kamu mau cepat ketemu sama dia, yah? Kok sekarang kamu nunda terus?" Tanyanya pelan.

"Aku nggak nunda, Mas. Dia memang belum mau lahir,"

Praya tersenyum padanya. "Apa yang ada di kepala kamu sih, kenapa segitu tidak maunya kamu untuk caesar?"

"Aku mau jadi ibu yang sesungguhnya, Mas. Aku mau rasain melahirkan dengan normal, seperti ibu-ibu lainnya." Katanya sambil menangis.

Sudah Praya duga. Perempuan ini pasti sedang memikirkan hal lain sampai berkeras seperti ini. Praya kembali membisik kepada Gaura. "Menjadi ibu yang sesungguhnya itu bukan dari cara dia melahirkan. Mau normal atau pun caesar itu tidak ada bedanya. Kamu mengandung sembilan bulan, kamu membesarkan dia, mendidik dia, apakah itu tidak ada gunanya jika kamu tidak melahirkan normal? Apakah lantas itu membatalkan kamu sebagai seorang ibu?"

Gaura terdiam.

"Lebih dari itu. Kamu sudah menjadi ibu bagaimana pun cara kamu melahirkan. Sebelum semakin lama dan takutnya berbahaya, lebih baik kita ambil tindakan, yah?" Praya kembali berbisik kepada istrinya.

Akhirnya Gaura mengangguk setuju. Riani dan Basri yang melihat keduanya cukup bingung, ntah apa yang Praya katakan kepada putrinya tapi nyatanya mampu mengubah pendirian putri keras kepalanya itu.

TOLERATE ITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang