19: animal board book

1K 78 0
                                        

                "Mas, aku mau ikut gym deh." Ujar Gaura. Dia duduk di kursi, memperhatikan Praya yang melakukan rutinitasnya di hari minggu, boxing.

Mendengar suara istrinya, Praya berhenti. Dia berbalik. "Nggak usahlah,"

Gaura sebenarnya sudah tahu kalau niatnya ini sepertinya akan ditolak Praya. Tapi kemungkinan untuk diizinkan kecil, Gaura tetap mengutarakan niatnya karena sebagai istri yang baik dia tetap harus meminta izin suaminya.

Akhir-akhir ini dia sedang rajin olahraga. Salah satu alasannya karena melihat teman-temannya yang sekarang sedang aktif di gym, dan dia ingin bergabung.

"Nggak usahlah. Kan di rumah juga ada alat-alat ini." Kata Praya menghampiri Gaura yang masih duduk di sana sembari melepaskan sarung tangannya. Di samping Gaura ada segelas air putih yang disiapkan untuk Praya.

"Tapi kan beda, Mas. Di sana lengkap jadi olahraganya bisa maksimal." Kata Gaura lagi, masih berusaha meyakinkan suaminya yang kini sudah duduk di sampingnya, meminum air.

"Sama aja. Memangnya kamu mau pakai alat apa? Nanti kita beli."

"Kenapa beli sih? Mahal tau, Mas, harga peralatan gym begitu."

Praya melihat istrinya yang kini sudah cemberut. "Kalau kamu memang mau sungguh-sungguh, tidak masalah untuk kita beli alatnya. Kan berguna juga. Bisa dipakai untuk waktu yang lama."

Gaura terdiam, berpikir apa lagi alasan yang bisa dia gunakan. "Tapi kan Mas tau kalau aku belum tentu konsisten. Ntar kita udah beli alatnya malah nggak kepake."

"Nah itu kamu tau. Waktu awal nikah aja kamu mau banget beli sepeda static, giliran udah beli malah nggak dipake." Kata Praya mengingatkan.

Sepeda static dan treadmill itu memang dibeli atas keinginan Gaura yang waktu itu sedang rajin olahraga karena dorongan dan melihat Praya yang rajin. Tapi tidak ada satu bulan, perempuan itu sudah jarang memakainya. Paling hanya sesekali dalam satu bulan.

Sementara Praya tidak terlalu suka memakai alat seperti itu. Dia lebih sering lari di luar atau bersepeda yang asli.

Gaura terdiam. Sebenarnya apa yang dikatakan Praya memang benar. Tapi dia masih mencoba untuk membujuk suaminya. "Justru karena itu Mas, makanya aku mending gym aja supaya nggak perlu beli alat lagi." Katanya masih berusaha.

"Nggak usahlah. Kamu pakai ini aja dulu. Olahraga itu bukan karena alatnya, tapi harus konsisten aja."

"Kenapa sih, Mas? Kan bajunya bukan yang terbuka. Aku pakai legging sama baju berlengan, kok." Kata Gaura. Dia jadi teringat mungkin sekitar tiga bulan yang lalu saat Praya mulai menyuruhnya untuk berpakain yang lebih tertutup.

Malam itu ketika mereka sedang mengobrol di ranjang seperti biasa.

"Kalau aku boleh minta satu hal sama kamu, apa kamu mau menuruti?" Ucap Praya waktu itu.

Gaura bersemangat, semenjak menikah sampai sekarang, Praya tidak banyak berubah. Pria itu masih selalu menurutinya dan tidak pernah berkomentar tentang apa pun. Jadi begitu Praya menginginkan sesuatu, Gaura tentu ingin tahu.

"Apa, Mas?"

"Boleh tidak kalau kamu menjadikan aku lebih istimewa?"

Gaura menatapnya bingung, dia masih belum bisa menebak apa yang ingin Praya sampaikan. "Aku bikin Mas merasa nggak spesial?"

TOLERATE ITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang