Praya pernah jatuh cinta, hanya sekali dan sampai sekarang perasaan itu terus ada di dalam hatinya. Praya muda menghabiskan waktunya untuk menyimpan perasaan itu bahkan diwaktu tertentu dia mencoba untuk mengubur perasaannya, sudah terlalu lama namun tidak pernah berubah sedikitpun.
Besok dia akan menikah dengan perempuan yang baru dia temui satu bulan ini. Tidak terlalu banyak pengenalan antara mereka, Praya memilih untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk pengenalan. Mereka bisa saling mengenal nanti setelah menikah, Praya hanya perlu beberapa detik sampai dia yakin bahwa perempuan itu adalah calon yang tepat untuknya.
Perbincangan mereka berlanjut hari demi hari, perempuan itu pun setuju untuk menikah dengannya. Setelah merencanakan dan menyusun segalanya, besok mereka akan menikah. Praya tidak mengkhawatirkan apapun sebenarnya, tapi perasaan deg-degan itu tetap saja hadir.
Seharusnya Praya sudah tidur di dalam kamarnya, beristirahat karena besok dia harus melakukan serangkaian acara sampai malam hari. Tapi tidak dapat dipungkiri, matanya menolak untuk bekerja sama. Praya tidak mengantuk sama sekali.
Saat ini Praya duduk di balkon kamarnya, terakhir Ibunya datang memberi beberapa nasihat untuknya dan Praya mendengarkan lalu mengucapkan terimakasih. Baik itu untuk nasihat yang tadi diberikan maupun seluruh kasih sayang yang telah wanita itu berikan kepadanya, memiliki Ibu seperti Sari adalah anugerah terbesar yang Praya dapat di dunia.
Praya menghembuskan nafasnya kasar, pikirannya tiba-tiba penuh. Setelah sekian lama tiba-tiba ingatannya kembali pada cinta pertamanya. Perempuan yang dulu ditemuinya saat kelas 3 SMA itu sudah tumbuh menjadi perempuan cantik sekarang, wajahnya tidak banyak berubah, perempuan itu masih sama.
Praya menggelengkan kepala, mulutnya mengucapkan kalimat permohonan ampun pada Tuhannya. Terlalu banyak berpikir membuatnya semakin pusing, Praya memilih untuk kembali masuk ke dalam berusaha untuk meredam pikirannya yang terlalu berisik.
-tolerate it-
Praya dan seluruh rombongannya sudah tiba di kediaman Basri yang kini sudah tersulap menjadi rumah pengantin, penuh dengan hiasan dan dekoran di semua sudut rumah. Pria itu kini sudah turun dari mobil, tampak gagah dengan pakaian adat jawa yang lengkap membungkus seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah.
Begitu mendapat perintah untuk mulai melangkah masuk, Praya tidak lupa untuk membaca doa sebelum melangkahkan kakinya. Berulangkali Praya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri sembari terus mengingat bacaan ijab qabul yang sudah ia hafalkan kemarin.
Didampangi Hartono-Ayahnya- Praya masuk ke dalam, disambut beberapa orang di sana, MC serta fotograper mulai bekerja, mengambil peran mereka masing-masing. Tidak terlalu banyak orang yang hadir di sana, selain karena keinginan Gaura, Basri juga ingin momen akad ini hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja.
Praya dituntun untuk duduk dikursi depan meja yang sudah disiapkan, di depannya sudah ada Basri yang duduk lebih dulu, keduanya saling melempar senyum.
"Tenang. Kamu kok tegang banget." Komentar Basri masih dengan senyum yang terukir di wajahnya. Praya menyambut candaan itu dengan senyum, Basri sudah menunjukkan kesukaan padanya, bahkan dari awal.
Keadaan hening begitu kedua tangan itu akhirnya saling menyentuh, Praya menghembuskan nafasnya, telinganya perlahan mendengar Basri yang akhirnya memulai berbicara.
"Saudara Jazlan Abhipraya bin Hartono Kusumo. Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan anak perempuan saya Gaura Amandine binti Basri Baskoro dengan maskawin uang tunai sebesar seribu seratus sebelas riyal dibayar tunai." Ucap Basri lugas tanpa tersendat sedikitpun, suaranya tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOLERATE IT
RomanceGaura terlalu terpaku dengan hidup nyamannya hingga tidak pernah terpikir untuk menikah. Tapi tanpa dia ketahui, ternyata Ayahnya memberikan syarat padanya jika ingin melanjutkan pendidikan doktornya. Yaitu, dia harus menikah. Lebih buruknya lagi, t...
