13: pertanyaan setelah pengakuan

1.3K 91 0
                                        

Praya menarik senyum di bibirnya begitu dia masuk  ke dalam kamar dan melihat istrinya yang masih tertidur begitu lelap, dengan selimut yang membungkus tubuhnya sampai di atas dada. Setelah melaksanakan kewajiban subuhnya, mereka melakukannya lagi lalu Gaura tertidur karena kelelahan. Praya memaklumi, bahkan ketika dia sudah berpakaian dan sudah menyiapkan sarapan sendiri, hanya nasi goreng sederhana dengan bumbu instan, ternyata Gaura masih terlelap.

                Praya mendekat ke ranjang mereka, tangannya mengelus rambut istrinya, lalu mencium pipi Gaura yang bisa dijangkaunya. Biarlah perempuan itu tidur, setaunya jam mengajar Gaura baru akan dimulai siang nanti. Untuk itu, Praya berangkat kerja dengan mandiri.

                Nasi goreng yang dimasaknya tadi memang sengaja dia lebihkan sedikit, walau sebenarnya dia tau Gaura jarang sekali sarapan dengan nasi. Perempuan itu biasa menyimpan  karbonya untuk makan siang. Praya juga menyempatkan untuk mencuci piring dan alat masak yang digunakannya tadi.

                Sementara Gaura bangun hampir pukul 9 dan dia sudah tidak mendapati Praya di sampingnya, saat matanya melihat jam dinding, dia kemudian menyimpulkan kalau pria itu sudah berangkat. Gaura merutuk dirinya sendiri bisa tidur selama itu, bahkan dia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk Praya. Padahal dia tau sekali kalau suaminya itu selalu menyempatkan diri untuk sarapan sebelum berangkat.

                Hal pertama yang dia lakukan adalah meraih ponselnya di nakas, dia menelfon nomer Praya. Tidak lama panggilannya tersambung, Praya sudah mengangkat telfonnya. Pria itu mengucap salam dan Gaura menjawabnya sebelum memberitahu alasannya menelfon.

                "Mas sarapan apa? Mau aku kirimin lontong sayur?" Kata Gaura menawarkan, biasanya saat dia tidak memasak sarapan, Praya sering membeli lontong sayur di depan komplek.

                "Aku tadi masak nasi goreng, masih ada tuh di meja buat kamu,"

                "Ihh kenapa Mas sampai masak sih? Kenapa nggak bangunin aku lebih tepatnya!" Ujar Gaura benar-benar kesal, dia tidak habis pikir dengan Praya yang tidak membangunkannya.

                "Nggak perlu lah sampai bangunin kamu, aku kan bisa masak sendiri, tadi lihat rice cooker ada nasi jadi aku bikin nasi goreng, makan deh enak itu,"

                Walau masih kesal, Gaura tetap menjawab dengan lembut. "Mas tuh harusnya bangunin aku, bukannya masak sendiri lalu pergi gitu aja, nggak guna banget aku jadi istri,"

                Praya terkekeh mendengar keluhan istrinya, kekesalan dari nada suaranya yang berusaha dia sembunyikan nyatanya tidak berhasil. "Siapa bilang sih kalau tugas istri itu harus selalu buatin suaminya sarapan? Kamu itu istri aku bukan tukang masak,"

                "Udah ah, kamu mandi terus sarapan sana, Mas kerja dulu," lanjut Praya menyudahi pembicaraan mereka yang sebenarnya bukan masalah sama sekali.

                Gaura menghela nafasnya, sebenarnya maksud Praya ini karena dia tidak ingin merepotkannya, seharusnya dia berterimakasih, kenapa jadi sebal dan menyalahkan Praya. "Iyaa, maaf yah Mas kok jadi ngomelin kamu. Terimakasih juga,"

                "Iya sama-sama. Aku kerja dulu yah,"

                "Iya."

                Baru saja sambungan itu hendak Praya putus, Gaura tiba-tiba mencegatnya. "Eh-eh, Mas tunggu bentar!" katanya cepat.

                "Kenapa?"

                "Semalem kan Mas bilang minta ditemenin ke acara nikahan temen, jadi?" Tanya Gaura, dia baru teringat dengan permintaan Praya semalam, saat mereka sedang bersantai seperti biasa setelah makan malam.

TOLERATE ITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang