Pagi-pagi sekali pemuda yang baru kemarin menikah kini sudah bersiap untuk kembali ke mansion sang suami. Pemuda itu menatap wajah tampan sang suami yang masih tertidur lelap. Tubuh pemuda itu sudah mendingan bahkan bisa di katakan segar karena beristirahat dengan baik.
"Mas bangun mas, ini udah pagi, katanya ingin pergi ke mansion mu" ujar si pemuda menggoyangkan lengan sang suami dengan suara pelan agar tidak mengagetkan pria tersebut. Pria itu bangun dan tersenyum.
"Pagi wife" sapa pria yang di panggil dengan nama besarnya tuan Lee namun untuk nama aslinya adalah Lee Jeno. Seorang CEO yang berkecimpung di bidang teknologi dan kesehatan.
Pemuda itu tersenyum dan bangun dari kasur dan menyiapkan baju dan perlengkapan mandi untuk sang suami. Meski laki-laki tapi pekerjaan seperti itu tidaklah hal baru untuk pemuda itu karena di mansion nya sendiri pemuda yang di kenal dengan Kim Junkyu atau sering di panggil Junkyu atau Jun itu harus menyiapkan semua kebutuhan orang rumah bahkan mencuci pakaian pun di kerjakan oleh Junkyu, Junkyu sudah seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Jeno melihat bagaimana Junkyu begitu cekatan dalam semua hal bahkan saat masih bersama istri pertamanya, Jeno tidak pernah di layani sedemikian rupa olehnya. Jeno sangat beruntung memiliki Junkyu di sisinya meski perjodohan secara paksa bagi Junkyu tapi tidak dengan Jeno yang menerima perjodohan ini karena kedua anaknya yang menginginkan sosok seorang ibu.
Jeno bangkit dan memeluk tubuh Junkyu dari belakang membuat Junkyu terkejut dan diam seperti patung, Jeno tersenyum melihat tingkah Junkyu yang seperti masih kaku dalam hal seperti ini padahal tadi malam ia sangat ingin melayaninya. Jeno mengelus lembut tangan Junkyu yang bertengger di tangannya "jangan bersikap seperti itu hmm, aku tidak akan melakukan apapun hari ini" ujar Jeno berbicara di dekat telinga Junkyu. Junkyu menahan nafas nya dan berlahan berbalik.
Junkyu menatap mata Jeno "maaf aku masih terlalu kaku, ini pertama bagiku" lirih Junkyu menunduk takut menatap mata Jeno. Jeno menarik dagu sang istri dan tersenyum sungguh sangat jarang Jeno tersenyum bahkan untuk kedua putranya Jeno sangat jarang tersenyum tapi dengan pemuda yang baru ia temui dan baru kemarin menikah sudah membuat Jeno tersenyum.
"Aku bersyukur mendapatkan kamu yang masih belum tersentuh, malahan aku merasa kamu tidak beruntung mendapatkan aku karena aku sudah memiliki anak dan bahkan anak ku sama besar dengan mu" jelas Jeno di balas gelengan ribut oleh Junkyu. Tidak pernah sekalipun bagi Junkyu memikirkan hal itu.
"Tidak mas, mas orang yang baik yang pernah Kyu temui" ujar Junkyu jujur. Jeno mengangguk dan memeluk erat Junkyu. Junkyu membalas pelukan Jeno, nyaman dan tenang.
Mobil yang di tumpangi oleh Jeno dan Junkyu sudah memasuki halaman mansion Jeno. Terlihat banyak penjaga di depan dan di dalam bahkan saat akan masuk beberapa maid berbaris menyambut kedatangan Jeno dan di ujung sana terlihat kedua anak Jeno.
"Selamat datang Daddy, bunda" ujar pemuda manis yang memiliki wajah lembut mungkin turunan dari istri pertama Jeno. Pemuda yang memiliki wajah cantik itu lebih tua dari Junkyu 3 tahun dan pemuda tampan yang menyerupai Jeno sama besar dengan Junkyu yaitu 17 tahun.
"Hmm, kalian libur" pertanyaan dari Jeno di balas anggukan oleh kedua anaknya. Junkyu tersenyum menatap interaksi Jeno dan kedua anaknya. Ada rasa iri dalam hati Junkyu melihat bagaimana Jeno sangat memperhatikan anaknya. Tidak pernah sekalipun Junkyu mendapatkan hal itu.
"Bunda oke" pemuda tampan yang biasa di panggil Haruto atau Haruto Lee itu menatap khawatir Junkyu di balik wajah datarnya. Junkyu mengangguk dan tersenyum.
"Aku oke, aku senang kalian sangat akur berbeda dengan ku yang hanya mendapatkan tekanan dan kekerasan" lanjut Junkyu membatin. Jeno yang melihat senyum Junkyu tidak tulus mengelus pundak sang istri. Junkyu menatap Jeno dan tersenyum manis. Sangat manis sehingga beberapa pengawal di sana terpana bukan hanya pengawal tapi para maid ikut terpana dengan senyum manis milik Junkyu.
"Baiklah karena hari ini hari pertama bunda masuk keluarga Lee jadi aku akan menemani bunda keliling tapi sebelum itu kita makan siang dulu oke" ujar pemuda manis itu menarik tangan Junkyu menuju meja makan. Jeno dan Haruto berjalan di belakang melihat kedua sub itu berjalan riang atau lebih tepatnya anak tertua Jeno yang terlihat antusias sedangkan Haruto masih kaku.
"Jaga dia dad jangan sampai seperti mommy karena kelalaian mu kau kehilangan nya" ujar Haruto berjalan cepat menyusul dua orang yang hampir mencapai meja makan. Haruto merangkul pundak Junkyu dan mereka berjalan bertiga dengan Haruto dan kakak tertuanya merangkul Junkyu.
"Aku tidak akan menyakiti Junkyu seperti winter menyakiti dirinya sendiri karena tidak tahan dengan perjodohan kami" ujar Jeno melangkahkan kakinya menuju meja makan.
Mereka makan siang bersama dengan Junkyu yang mengambilkan mereka makanan bahkan Haruto meminta tambah dan dengan senang hati Junkyu membantu Haruto. Jeno tersenyum melihat Haruto kembali manja karena setelah kematian sang istri Haruto sangat menutup diri bahkan tidak jarang Jeno harus terpanggil ke sekolah Haruto hanya karena Haruto memukul teman sekolahnya yang berani mengolok-olok Haruto.
Bukan hanya Jeno yang mendapatkan dampak dari kehadiran Junkyu tapi Haruto dan anak pertama Jeno juga merasakannya apalagi melihat bagaimana Junkyu melayani mereka sudah seperti seorang ibu dan istri.
"Semoga ini bertahan lama"
"Jangan pergi"
"Teruslah seperti ini"
Bersambung
Thanks you
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Baru Junkyu
Randompemuda yang baru menginjak usia 17 tahun harus menikah dengan duda anak 2 yang anak keduanya berumur sama dengan pemuda tersebut. Di usia 17 tahun harus menjadi seorang istri dan ibu sekaligus, entah apa yang di pikirkan keluarga pemuda tersebut hi...
