Sesampai di pendaratan helikopter tepat berada di atap rumah sakit milik keluarga mereka dimana junkyu di rawat. Jeno turun dengan bergegas dan langsung pergi meninggalkan mark yang hanya bisa menghela napas. Selalu seperti ini mark hanya sebagai tempat tumpangan untuk Jeno.
Mark turun disana sudah ada anak buahnya "jisung cari Asahi dan minta menemui saya" Orang yang di panggil jisung itu mengangguk dan langsung meninggalkan mark yang berjalan santai dengan beberapa pengawal di belakangnya.
Jeno langsung menuju ruangan milik junkyu sesuai dengan apa yang du katakan Asahi sebelumnya. Jeno berhenti di depan pintu ruangan junkyu dan menarik napas untuk mengaturnya. Jeno merapikan jas miliknya dan membuka pintu, tepat setelah pintu terbuka terkihat junkyu dan kedua anaknya berada di dalam. Jeno tersenyum tipis dan berjalan mendekat.
Jeno memeluk junkyu yang tentu saja di balas oleh junkyu. Junkyu tersenyum tulus melihat bagaimana Jeno mengkhawatirkan nya. Junkyu mengurai pelukan mereka dan menangkup wajah Jeno. Jeno membiarkan apa yang akan di lakukan junkyu.
"Kenapa wajah mas kusut sekali, apa kyu merepotkan mu" Jeno menggeleng, Jeno tidak pernah sekalipun menganggap junkyu merepotkan nya bahkan Jeno merasa tanpa junkyu hidup Jeno tidak ada artinya.
"Tidak sayang, saya hanya lelah sedikit tapi sekarang sudah tidak karena kamu sudah berada di depan saya" Junkyu tersenyum mengecup pelan dahi Jeno. Jeno menutup matanya menikmati kecupan singkat yang di berikan junkyu untuknya.
Renjun dan haruto yang masih ada di sana menatap jengah Jeno terutama haruto yang tidak bisa memeluk junkyu seperti biasanya karena saat ini junkyu tidak memiliki ingatan tentangnya.
Junkyu tersenyum melihat wajah murung haruto dan wajah masam renjun. Junkyu mendorong Jeno sedikit dan menatap dalam mata Jeno. Jeno tersenyum melihat tatapan polos dari sang istri, jika saja Jeno lebih dulu bertemu dengan junkyu dari pada winter mungkin perjodohan itu tidak akan terjadi dan kedua anaknya tidak akan terluka seperti sekarang.
"Mas mereka siapa, mereka mengaku menjadi anak mu tapi aku tidak ingat" Jeno mengernyit menatap junkyu dan beralih menatap kedua anaknya. Jeno kembali menatap junkyu dan menangkup wajah junkyu.
"Sayang kamu melupakan mereka, mereka anak ku, mereka anak mu" Ujar Jeno meyakinkan junkyu, junkyu menatap jeno mencari kebohongan karena seingst junkyu anak Jeno masih kecil.
"Tapi mas ingatan kyu menunjukkan bahwa anak mas masih bayi, sangat kecil dan itu sangat mirip dengan kedua pemuda itu" Menunjuk Renjun dan haruto dengan mata yang masih menatap polos jeno.
Jeno tersenyum mengusak rambut junkyu "mereka anak ku juga, mungkin kamu melihat adik mereka di mimpi hmm" Junkyu terkejut dan mengelus lembut perutnya. Jeno yang baru sadar dengan ucapannya ikut menatap perut junkyu dan mengelus perut junkyu. Jeno tersenyum "semoga saja mereka memang ada hmm" Junkyi tersenyum dan mengangguk. Haruto yang sudah tidak tahan menggeram membuat Jeno dan junkyu menatap haruto.
Jeno terkekeh melihat bagaimana wajah tertekan haruto melihat kedekatannya dengan junkyu, Jeno tidak masalah dengan kedekatan haruto dan junkyu bahkan Jeno bahagia melihat mereka saling menguatkan seperti anak dan orang tuanya.
"Bunda pilih kasih, daddy jngat tapi kami tidak" Junkyu tersenyum kaku dan melebarkan tangannya menunggu hsruto masuk kedalam pelukannya. Namun siapa sangka renjun lebih dulu masuk ke dalam pelukan junkyu dan lagi membuat haruto menggeram. Renjun tudak peduli dan malah mempererat pelukan kepada junkyu.
Mark kini berada di ruang Asahi, dengan jisung asisten pribadinya. Mark menatap Asahi dalam membuat Asahi sedikit gugup, bukan takut tapi gugup atau lebih ke berdebar.
"Bagaimana pertemuan mu dengan doyoung dan yang lain" Asahi menghela napas, mark jika sudah mode serius membuat suasana menyeramkan, seperti yang di rasakan Asahi dan jisung saat ini.
"Tidak terlalu baik, perusahaan doyoung dalam masalah dan juga haechan baru saja kehilangan anaknya" Mark menghela napas, inilah yang akan terjadi jika mereka berurusan dengan dunia bawah. Mark sudah mewanti-wanti apa yang akan terjadi apalagi haechan sedang hamil saat itu dan sekarang keguguran.
Tanpa sadar tangan mari mengepal pelan, jika sudah menyangkut nyawa mark mau tak mau harus bertindak namun Asahi yang melihat kemarahan mark menghela napas dan menarik mark mendekat sedangkan jisung langsung keluar dari ruangan enggan melihat kebucinan dua insan tersebut.
"Mark aku tidak suka kamu marah dan mengambil keputusan tanpa berpikir panjang, ingat anak kita akan segera hadir dan juga chenle masih butuh kamu" Mark menghela napas dan mengangguk membebankan kepalanya di dada Asahi.
Mereka berdua adalah pasangan pasusu alias orang tua chenle dan saat ini Asahi sweang mengandung anak kedua mereka memang terbilang cukup jauh jarak antara chenle dan adiknya yang sekarang karena sebelumnya Asahi memilih fokus dengan pekerjaannya dan jadilah jarak chenle dan adiknya sangat jauh.
"Maaf sayang, aku terlalu terbawa suasana ketika mendengar kabar kehilangan dari haechan" Asahi mengangguk tapi sedikit merasa sesak saat melihat bagaimana mark mengkhawatirkan haechan yang merupakan mantannya.
Asahi akui bahwa Asahi cemburu apalagi mereka menikah karena perjodohan, Asahi takut bahwa mark akan memilih meninggalkan nya dengan chenle dan kembali dengan haechan, tidak Asahi tidak ingin hal itu terjadi.
Asahi menggeram merasa kram di perutnya, sial Asahi melupakan bahwa ia hamil dan pemikiran yang terlalu banyak membuat anak dalam kandungnya ikut merasakan. Mark melepaskan pelukan nya dari Asahi.
Mark menghela napas, kenapa mark harus lepas kendali dan tidak memikirkan kesehatan Asahi. Mark tidak bermaksud membuat Asahi berpikiran berlebihan.
"Sayang kenapa shttt jangan overthinking hmm, aku hanya mengkhawatirkan haechan tidak lebih, kita sudah berteman lama oke lagian haechan sudah memiliki pasangan sama halnya dengan aku jadi please jangan seperti ini oke, aku sayang sama kamu" Asahi mengangguk, memeluk erat leher mark, air mata yang entah sejak kapan mengalir membasahi pipi Asahi, Asahi terlalu overthinking hingga membist tubuhnya menolak dan kesakitan seperti sekarang.
Asahi percaya mark tidak akan mengkhianati nya tapi saat Asahi melihat kilatan kemarahan dimata mark saat mengetahui haechan keguguran membuat Asahi tanpa sadar overthinking.
Mark berusaha menenangkan sang istri. Mark tidak akan mungkin bisa melepaskan Asahi meski ia masih memiliki rasa kepada haechan. Mark tidak bodoh untuk kembali bersama haechan yang jelas-jelas sudah meninggalkan nya saat hari pernikahan mereka. Jika saja saat itu Asahi tidak menyetujui permintaan orang tuanya maka keluarga mereka sudah di buat malu karena haechan melarikan diri.
Hari yang penuh kesedihan itu tidak akan pernah mark lupakan apalagi chenle hadir di antara mereka karena ketidaksengajaan yang saat itu mark mabuk berat dan memaksa Asahi untuk tidur dengannya. Mark tahu mereka sudah menikah tapi cara mark malam itu membuat Asahi trauma dan itu adalah alasan kenapa chenle baru mendapatkan adiknya sekarang.
Thanks you guys see you next chapter, sorry guys untuk panggilan nya aku baru ngeh bahwa sebelumnya aku menggunkan bahasa Korea dan sekarang bahasa Indonesia. Mulai sekarang aku akan menggunakan bahasa Indonesia untuk semua panggilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Baru Junkyu
Randompemuda yang baru menginjak usia 17 tahun harus menikah dengan duda anak 2 yang anak keduanya berumur sama dengan pemuda tersebut. Di usia 17 tahun harus menjadi seorang istri dan ibu sekaligus, entah apa yang di pikirkan keluarga pemuda tersebut hi...
