Jeno turun membawa koper membuat Renjun dan Haruto menatap bingung Jeno. Jeno duduk di samping Haruto memeluk tubuh bongsor sang anak.
"Maaf Daddy harus pergi karena ada perjalanan bisnis" Haruto diam jadi ini alasan bundanya mendiami mereka karena sang Daddy yang masih harus bekerja di saat libur. Haruto benci ini Haruto benci Daddy nya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Haruto mendorong Jeno dan tersenyum mengejek.
"Pergilah" Haruto pergi meninggalkan rumah di ikuti Chenle dan Jaehyuk yang mengejarnya. Renjun menatap Jeno tidak percaya.
"Untuk kesekian kalinya dad kau mengecewakan si bungsu" ujar Renjun bangkit dan memilih kembali ke kamarnya. Jeno menunduk merasa bersalah dengan apa yang terjadi terutama kepada Junkyu yang sudah capek menyiapkan semuanya untuk si bungsu malah pekerjaan sialan itu menganggu nya di pagi buta.
Jeno bangkit dan menggeret kopernya ke dalam mobil dan pergi meninggalkan mansion. Junkyu yang melihat mobil Jeno pergi kembali menangis, junkyu terduduk di balkon kamar menatap kepergian sang suami.
"Sakit hiks kenapa harus sesakit ini hiks, tuhan tolong bantu kyu hiks kyu harus kuat hiks harus hiks" junkyu bangkit dan masuk ke kamar. Duduk di ranjang yang biasa mereka tempati berdua. Malam ini dan beberapa hari kedepan junkyu akan tidur sendiri tanpa ada Jeno di sampingnya. Junkyu menghela napas dan merebahkan tubuhnya menghirup kuat aroma Jeno yang tertempel di selimut dan tempat tidur.
Tanpa junkyu sadari waktu berlalu begitu cepat, hari sudah mulai gelap pertanda bahwa makan malam sebentar lagi. Junkyu bergegas bangun dan membersihkan diri. Setelah selesai saat Junkyu akan turun Junkyu mendengar suara tawa dari ruang tamu. Suaranya terdengar suara Renjun dan beberapa orang yang Junkyu tidak tahu dan di ruang bermain Haruto juga terdengar suara Haruto dan yang lain.
Junkyu tersenyum kecut apalagi saat melihat ada banyak makanan di sana jadi Junkyu tidak perlu memasak. Junkyu kembali ke kamar.
Renjun yang melihat junkyu menatap punggung Junkyu yang mulai menghilang setelah menaiki tangga, ada rasa bersalah di dalam diri Renjun tapi apa boleh buat Renjun juga sedang marah.
"Ren, Renjun" Renjun terkejut dan menatap temannya.
"Sorry" teman Renjun mengangguk, mereka kembali berbincang hingga tengah malam. Mereka semua memutuskan untuk menginap.
Junkyu yang sudah tidak mendengar suara ribut turun dan melihat ruangan kotor karena sampah makanan, Junkyu mengumpulkan dan membersihkan semuanya namun pergerakan Junkyu terhenti ketika seseorang memeluknya dari belakang. Junkyu sungguh terkejut dan refleks mendorong dan mundur dari orang itu.
"Jihoon" ujar Junkyu menatap takut Jihoon, Jihoon menatap datar Junkyu.
"Kalau bukan pembantu lalu apa Junkyu, kau hanya melayani mereka seperti pembantu bukan istri atau ibu bodoh" ujar Jihoon penuh penekanan. Junkyu menunduk mendengar bentakan dari Jihoon. Hal ini sudah biasa tapi kenapa Junkyu belum terbiasa. Harus sampai kapan hingga Junkyu terbiasa dengan bentakan dan teriakan.
"Kau bodoh junkyu, seharusnya kau masih bersama ku menghabiskan waktu masa muda mu bukannya terkurung di tempat bak istana namun neraka ini" masih dengan amarahnya jihoon melanjutkan ucapannya.
"Cukup, cukup jihoon, ini pilihan ku bukan kau, jadi aku mohon berhenti campuri urusan ku" lirih Junkyu.
"Urusan mu adalah urusan ku junkyu, kau itu cinta ku bagaimana mungkin aku biarkan kau seperti ini, ikutlah bersama ku kita pergi hmm hidup bahagia berdua" junkyu mendongak menatap jihoon. Bahagia?, apa bisa junkyu merasakannya bukankah kehidupan junkyu hanya untuk penderitaan lalu bagaimana jihoon bisa membuatnya bahagia.
"Junkyu kau dengar, ayo pergi bersama dan hidup bahagia, aku janji akan membahagiakan mu, aku tidak akan membuat mu menangis, aku tidak akan membentak mu lagi, aku tidak akan membiarkan kamu bekerja pokoknya aku akan memperlakukan mu dengan baik bak ratu di istananya sendiri hmm" kali ini suara jihoon mulai lembut. Junkyu menatap jihoon dalam mencari kebohongan dalam ucapan jihoon. Junkyu tersenyum.
Sedangkan orang yang ada di tangga dan di depan laptop menatap takut dengan respon junkyu, ya ada Jeno yang menonton di laptopnya dan ada Renjun bersama Haruto yang mendengar di atas tangga. Haruto meremas bajunya kuat melampiaskan rasa takutnya.
"Jangan Bun hiks jangan" Haruto kembali menangis, niat awal ingin ambil minum malah bertemu dengan Renjun yang terdiam di depan tangga, berlahan Haruto mendekat dan terkejut mendengar bujukan jihoon kepada junkyu. Haruto berniat menuju lantai bawah namun di tahan Renjun.
"Biar dia ambil keputusan sendiri ini hidupnya jadi jangan cegah ia untuk bahagia" ujar Renjun semakin membuat Haruto kalut.
Haruto tidak terima junkyu adalah bundanya maka Junkyu selamanya harus jadi bundanya tidak boleh ada yang mengambilnya, katakanlah Haruto sudah terobsesi dengan hadirnya junkyu jadi jangan berharap Haruto akan melepaskan junkyu begitu saja.
"Tidak" teriak Haruto mendorong tubuh Renjun hingga hampir terjatuh jika saja teman Renjun tidak langsung menangkap tubuh Renjun.
"Kau oke ren" tanya Yoshi membenarkan posisi Renjun, Renjun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Haruto kalut sangat kalut hingga bertindak gegabah.
Haruto berlari ke arah ruang tamu dan melihat junkyu yang sedang berpelukan dengan jihoon, Haruto semakin kalut dan menarik junkyu menjauh dari jihoon.
"Tidak, bunda tidak boleh pergi hiks bunda milik haru hiks bunda milik haru hiks" Haruto memeluk erat tubuh junkyu tanpa ada balasan dari junkyu, Haruto yang tidak merasakan balasan dari junkyu semakin takut. Haruto tidak ingin apapun Haruto hanya ingin junkyu itu saja Haruto hanya ingin junkyu.
"Tidak jangan jangan pergi hiks jangan haru akan jadi anak baik hiks haru akan bangun pagi hiks haru akan rajin belajar hiks haru haru hiks" suara Haruto semakin serak dan hampir habis karena terlalu lama menangis junkyu yang sadar langsung memeluk tubuh bongsor sang anak.
Astaga apa yang junkyu lakukan hingga membuat sang anak seperti ini "sttt iya bunda tidak pergi hmm jangan menangis hmm bunda disini" junkyu berusaha menenangkan Haruto namun bukannya tenang Haruto semakin menangis bahkan dadanya kini sesak.
"Maaf maaf hiks maafkan haru hiks haru akan jadi anak baik hiks haru akan mendengarkan apa kata bunda hiks haru akan bangun pagi hiks haru akan melakukan apapun bahkan pergi bersama bunda sekalipun hiks haru akan lakuin apa pun hiks bunda mau haru mati oke hiks haru akan lakuin asal bunda jangan pergi jangan tinggalin haru sendiri hiks jangan" junkyu memeluk erat tubuh bongsor sang anak. Sebesar inikah kesalahannya hingga mampu membuat anak sambungnya berkata seperti ini. Tidak junkyu tidak mungkin meninggalkan mereka selama kerjasama keluarganya dan keluarga Jeno masih berjalan dan juga selama mereka menerima junkyu maka Junkyu akan selalu bersama mereka.
Thanks you guys, see next chapter
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Baru Junkyu
Losowepemuda yang baru menginjak usia 17 tahun harus menikah dengan duda anak 2 yang anak keduanya berumur sama dengan pemuda tersebut. Di usia 17 tahun harus menjadi seorang istri dan ibu sekaligus, entah apa yang di pikirkan keluarga pemuda tersebut hi...
