Junkyu membuka matanya dan terlihat sebuah ruangan putih namun diluar ruangan itu ada sebuah taman yang indah dengan dua orang anak kecil di sana, junkyu tersenyum ketika melihat kedua anak itu tertawa bersama. Mereka terlihat bahagia bahkan mereka berlarian ke sana kemari.
Junkyu keluar dari ruangan itu dan mendekati kedua anak itu yang sedang bermain, kedua anak itu langsung berhenti dan berbalik menatap junkyu dengan senyum yang indah. Junkyu teringat dengan kedua anak Jeno yaitu haruto dan renjun.
"Hai dek, kalian sedang apa? dimana orang tua kalian? " Ujar junkyu menyamakan posisinya, anak itu tersenyum dan menunjuk junkyu. Senyum junkyu langsung hilang dan merasakan perutnya yang kosong.
"Kalian" Kedua anak itu mengangguk dan tersenyum.
"Ia bun, kami anak mu, anak yang belum sempat kau lahirkan" Air mata junkyu mengalir, tidak, junkyu tidak ingin kehilangan mereka. Junkyu sangat ingin melihat mereka pertumbuhan dan perkembangan mereka, tidak junkyu tidak ingin hal itu.
"Tidak, tidak kalian bukan anak ku hiks anak ku masih bersama ku hiks lihat mereka disini hiks mereka tidak meninggalkan aku hiks tidak" Kedua anak itu ikut menangis karena junkyu tidak menganggapnya. Kedua anak itu menjauh karena junkyu terus berteriak tidak.
"Kak" Panggil yang satunya melihat junkyu yang terus menangis dan memarahi mereka.
"Maafkan bunda ya, bunda menyayangi kita hingga bunda berkata seperti itu" Ujar yang lain menatap iba akan junkyu.
"Bunda" Panggil mereka namun junkyu semakin histeris dan memukul perutnya.
Junkyu tidak bodoh untuk mengetahui apa yang dikatakan kedua anak itu karena memang junkyu tidak lagi merasakan kehadiran anaknya di perutnya namun junkyu tidak bisa menerima hal itu karena baik junkyu atau Jeno sangat mengaharapkan meraka.
"Bun" Sudah junkyu tidak bisa seperti ini, junkyu tidak ingin anaknya ketakutan melihatnya seperti ini.
"Ya" Lirih junkyu dengan suara serak, kedua anak junkyu langsung tersenyum dan berlari memeluk junkyu. Junkyu membalas pelukan mereka dan tersenyum meski hatinya masih belum rela namun junkyu harus rela agar anaknya tenang dan bahagia tanpa dirinya.
Mereka bertiga bermain bersama sembari tersenyum bahagia terutama kedua anak junkyu yang sangat bahagia ketika junkyu menerima mereka. Tak terasa mereka telah menghabiskan waktu hanya dengan bermain.
Sebuah cahaya putih menyelimuti ketiga manusia itu dan menghilang di telan cahaya. Di akhir junkyu tersenyum tipis dan menutup matanya.
Di sebuah ruangan yang berbau obat terlihat Jeno, haruto dan renjun sedang menemani junkyu yang masih belum sadar, sudah 1 minggu berlalu dan kondisi junkyu sudah mulai membaik namun junkyu masih betah untuk tidur bersama anaknya.
Ya beberapa hari lalu junkyu hampir keguguran karena tidak adanya respon dari tubuh junkyu dan nutrisi untuk janinnya sempat terhenti tapi berkat Tuhan anak junkyu berhasil bertahan.
Sejak hari itu baik Jeno, haruto dan renjun tidak pernah meninggalkan junkyu sendirian, harus ada yang selalu menemani junkyu bahkan jika di perlukan haruto dan renjun akan mengambil libur masa sekolah mereka.
"Bunda ingkar janji lagi sama ruto" Ujar haruto ketika mengingat junkyu yang berjanji tidak akan tidur lama lagi, renjun menghela napas.
"Kita yang gagal ruto bukan bunda yang ingin" Haruto mengangguk dan menatap Jeno yang terlihat kacau.
"Hmm, ruto gagal bang" Renjun tidak lagi menjawab sebab percuma karena haruto akan terus menyalahkan dirinya dengan apa yang terjadi.
Mengingat apa yang terjadi renjun mengingat sesuatu dan langsung keluar dari ruang rawat junkyu.
Renjun menghubungi mark dan meminta mark melihat CCTV di mansion dan juga menghubungi jihoon dan yoshi untuk menanyakan apa yang terjadi karena saat kejadian jihoon dan yoshi yang ada di tempat.
Mark langsung mencari CCTV yang sempat menghilang dengan bantuan doyoung sedangkan yoshi dan jihoon pergi ke rumah sakit untuk menemui Jeno dan yang lain.
Di rumah sakit lebih tepatnya diruangan junkyu, yoshi menatap Jeno yang juga menatapnya, disana ada jaemin dan asahi sebagai tambahan karena kebetulan jaemin datang untuk berkunjung.
"Hari itu kami berdua tidak melihat siapa pelakunya tapi kami merasa curiga karena selama perdebatan jaemin tidak bersama kita dan di saat keadaan kembali terkendali jaemin bergabung bersama kita" Jelas yoshi membuat jaemin marah besar dan hampir saja menampar yoshi jika saja jihoon tidak menahannya.
"Yang di katakan bang yoshi benar karena setelah kau bergabung kami langsung ke kamar junkyu dan junkyu sudah seperti kemarin, kau pikir kami bodoh ha" Teriak jihoon karena kecerobohannya ia harus melihat sahabatnya terbaring melawan racun yang di suntik kan kedalam infus milik junkyu.
"Apa kalian ada bukti, apa kalian bertanya kemana saya" Ujar jaemin mencoba menahan amarahnya karena jika ia gegabah maka semua usahanya selama ini akan gagal.
"Bukti, bukti yang seharusnya ada di tangan kami kau hancurkan dengan menghapus CCTV yang ada di mansion bangsat" Teriak renjun.
Jeno yang sudah merasa lelah dan kini mereka semua ribut di ruangan junkyu membuat Jeno tidak tahan lagi dan langsung menggebrak nakas yang ada di samping tempat tidur junkyu, semua orang terdiam dan menatap Jeno yang menahan amarahnya.
"Bang kau percaya kan" Tanya jaemin mencoba mencari pembelaan dari Jeno karena selama ini Jeno selalu percaya kepadanya.
"Keluar" Jeno menunjuk pintu keluar agar semua orang keluar. Asahi yang paham langsung membawa semua orang keluar.
Jeno langsung terduduk di kursi yang tadi ia tempati. Jeno menangis entah sudah berapa banyak Jeno menangis tapi kali ini Jeno benar-benar merasa kehilangan. Cukup lama Jeno menangis hingga sebuah suara menghentikan tangis Jeno.
Jeno mendongak dan tersenyum melihat junkyu yang menatapnya sayu, Jeno langsung bangkit dan berlari keluar mencari asahi. Asahi langsung masuk dan memeriksa junkyu.
"Mas" Jeno mendekati junkyu dan mengelus kepala junkyu. Junkyu menikmati elusan dari Jeno karena hari ini adalah hari terakhir junkyu akan merasakan elusan dan kelembutan Jeno untuk nya.
"Mas kita pisah ya" Tangan Jeno terhenti menatap junkyu tidak percaya bukan hanya Jeno tapi renjun dan haruto juga terkejut.
Jeno mengambil tangan junkyu dan menggeleng "tidak sayang, jangan berbicara seperti itu hmm, maaf mas gagal maaf mas belum bisa menjaga kamu tapi jangan berkata seperti itu hmm" Junkyu tersenyum dan menggeleng. Junkyu mengambil tangan Jeno dan memberikan cincin pernikahan mereka.
Jeno yang tadinya bahagia karena junkyu sudah sadar kini kembali menangis, Jeno menggeleng tanda tidak ingin "maaf mas kyu tidak bisa menjaga anak kita, maaf karena junkyu mas kehilangan kebahagiaan mas, karena kyu mas harus menahan semua ini, maaf" Jeno menggeleng.
"Jangan" Ujar Jeno lirih. Junkyu mengambil tangan Jeno dan menangkup wajah Jeno.
"Mas harus bisa tanpa kyu hmm, mas harus bahagia, sayangi injun dan ruto hmm jangan abaikan mereka, kyu pamit mas" Jeno tidak sanggup namun keputusan junkyu sepertinya sudah bulat bahkan beberapa orang berbadan besar menarik mereka keluar meninggalkan junkyu sendiri.
Junkyu menangis menahan rasa sesak di dadanya. Junkyu tidak mungkin mengatakan bahwa ia kehilangan kedua anaknya dan alasan lain karena seseorang menginginkan nyawa Jeno jika masih bersamanya. Junkyu tidak akan mungkin bisa menerima jika itu terjadi.
Thanks you guys, see you next chapter. Maaf ya guys kadang upnya cepat kadang lambat, maklum mencari mood untuk nulis agak sulit hehehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Baru Junkyu
Losowepemuda yang baru menginjak usia 17 tahun harus menikah dengan duda anak 2 yang anak keduanya berumur sama dengan pemuda tersebut. Di usia 17 tahun harus menjadi seorang istri dan ibu sekaligus, entah apa yang di pikirkan keluarga pemuda tersebut hi...
