Pagi sekali Junkyu sudah bangun dari tidurnya, hari ini weekend jadi semuanya libur termasuk Jeno dan Renjun yang terkenal dengan kesibukan mereka. Junkyu menyiapkan sarapan sederhana dan beberapa pancake untuk mereka piknik di belakang mansion. Ini semua ide dari Haruto yang setelah pulang sekolah menemui Junkyu dan meminta berpiknik. Mau tidak mau mereka harus ikut karena itu permintaan Haruto.
Sekitar jam 8 semuanya sudah siap tinggal menunggu 3 manusia yang sampai sekarang belum ada satu orangpun yang turun. Junkyu membuka celemek nya dan pergi menaiki tangga menuju kamar mereka. Junkyu membuka kamar si bontot dimana Haruto masih bergulungkan selimut membalut tubuh bongsor nya. Junkyu mendekat dan duduk di kasur milik sang anak. Di elus dan amati wajah nyenyak sang anak. Enggan untuk membangunkan karena Haruto terlalu pulas.
"Haru sayang bangun haru katanya mau piknik udah jam 10 kok belum bangun" bohong junkyu, ingin sesekali mengerjai sang anak.
Tidak sampai 5 menit Haruto langsung bangkit dan menatap junkyu panik, junkyu hampir saja tertawa terbahak-bahak jika saja niatnya untuk mengerjai Haruto tidak penuh, Junkyu menahan tawa melihat kepanikan Haruto mulai dari membersihkan tempat tidur, mengambil handuk dan mandi. Enggan untuk mengatakan yang sebenarnya junkyu keluar kamar Haruto pergi ke kamar Renjun anak sulung cantiknya.
Seperti sebelumnya Junkyu membuka pintu kamar Renjun terlihat Renjun yang tertidur cantik dengan sangat anggun bahkan saat tidur anaknya ini masih saja cantik, siapa sih yang bisa menolak pesona anak dari tuan Lee Jeno ini bukan. Junkyu mengelus rambut Renjun membuat Renjun melenguh seolah mengatakan bahwa tidurnya terganggu.
"Bang bangun hari ini kita piknik ingat" Renjun menggeram dan membuka kelopak matanya memperlihatkan iris kecoklatan yang menatap mata bulat sang bunda. Renjun mengangguk dan mengecup sekilas pipi junkyu berlalu ke kamar mandi. Junkyu tersenyum dan membersihkan tempat tidur sang anak. Kini tugas terakhir Junkyu membangunkan Jeno dan sarapan.
Junkyu membuka pintu kamar terlihat Jeno yang sedang duduk memangku laptop. Junkyu menghela napas waktu libur waktu kerja sama saja selalu kerja dan kerja. Junkyu berdiri di depan pintu melihat Jeno yang masih fokus dengan laptopnya tanpa peduli Junkyu ada di pintu.
"Lanjutkan hingga mas tidak memiliki waktu untuk keluarga mas" ujar Junkyu menutup pintu kamar. Junkyu turun dan memilih menunggu di meja makan. Sedangkan Jeno terkejut mendengar pintu tertutup lumayan keras. Dengan cepat Jeno menutup laptopnya dan mandi.
Cukup lama Junkyu menunggu hingga makanan yang tadi di siapkan kini sudah dingin, Junkyu menghela napas dan bersiap membersihkan meja makan. Mood Junkyu sudah hancur apalagi melihat Jeno bekerja di hari libur.
"Bunda" rengek Haruto baru turun langsung ke meja makan, kesal karena Junkyu berbohong sedangkan Junkyu hanya diam menatap datar Haruto. Haruto terdiam tidak jadi melanjutkan rengekannya hingga Renjun dan Jeno datang. Junkyu masih memindahkan makanan yang tadi ia buat ke dalam lemari pendingin.
Ketiga manusia itu menatap ragu Junkyu "kyu" panggil Jeno namun tidak di gubris Junkyu, Junkyu sibuk dengan pekerjaannya hingga meja makan bersih. Haruto menunduk merasa bersalah bukan hanya Haruto tapi kedua orang lainnya ikut merasa bersalah.
"Bunda" teriakan seseorang membuat Junkyu yang baru saja selesai memasukkan makanan ke dalam pendingin menoleh dan tersenyum mendapati Chenle dan Jaehyuk ada di sana. Junkyu mendekat dan menarik kedua sub itu ke ruang tamu meninggalkan ruang makan yang masih menyisakan tiga orang yang terdiam.
Chenle yang melihat wajah murung sang kekasih merasa iba tapi jika ia langsung menanyakan kepada Junkyu takutnya Junkyu ikut marah padanya.
"Kalian sudah makan" tanya Junkyu duduk di sebelah Chenle karena Jaehyuk duduk di samping Chenle. Keduanya mengangguk dan mengangkat keranjang yang mereka bawa. Junkyu tersenyum tipis atau lebih tepatnya senyum masam.
"Ah kalian akan piknik, pergilah bunda akan menyiapkan makanan yang akan kalian bawa untuk tambahan" jawaban Junkyu lagi-lagi membuat Haruto terdiam. Bukan hanya Haruto tapi Renjun pun sama.
"Bunda" panggil Haruto, Junkyu menepuk pundak Chenle kembali ke dapur dan mengambil kotak piknik.
"Le bawa ini sekalian bersama kalian, ingat pulangnya jangan terlalu sore hmm" Junkyu berlalu begitu saja.
Pecah sudah tangis Haruto "Daddy hiks bunda marah hiks haru hiks harus bagaimana hiks" Haruto memeluk Jeno melampiaskan kesedihannya.
Semua yang ada di ruang tamu menunduk bahkan Chenle dan Jaehyuk ikut terdiam. Cukup lama Haruto menangis. Jeno mendudukkan Haruto di sofa bersama yang lain. Jeno berjalan ke arah kamarnya. Jeno tahu Junkyu marah padanya tapi kenapa Haruto ikut kena imbasnya. Ada apa dengan Junkyu.
Pintu kamar terbuka terlihat junkyu yang sedang berkemas di kamar, Jeno mengernyit ketika melihat junkyu memasukkan pakaian kantor Jeno ke dalam koper. Jeno semakin bingung dan bingung melihat junkyu tidak mengatakan apapun.
Junkyu tahu ada Jeno di ambang pintu tapi junkyu memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya, junkyu pergi ke walk in closed dan mengambil beberapa jam tangan dan dasi yang akan di masukkan.
"Ada apa" tanya Jeno menatap Junkyu yang masih sibuk. Junkyu berhenti dan menutup koper sembari mendorong nya ke sisi tempat tidur.
"Mas ada perjalanan bisnis bukan, aku sudah menyiapkan semuanya, mas tinggal berangkat" ujar Junkyu pergi ke kamar mandi mengurung diri di dalam sana.
Titik demi titik air mata membasahi pipi Junkyu, sakit rasanya melihat Haruto menangis seperti tadi tapi junkyu harus melakukannya karena tidak ingin anaknya kecewa karena Daddy nya yang akan ada perjalanan bisnis mendadak. Biar Haruto membencinya asal jangan Daddy nya.
5 menit mengurung diri di dalam kamar mandi junkyu membersihkan wajahnya dan keluar tidak lagi melihat Jeno dan koper di sana. Lagi dada junkyu sesak, junkyu meremas kuat baju yang ada di dadanya. Sesulit itukah menjalani kehidupan rumah tangga. Pernikahan mereka baru namun masalah kian hari kian banyak. Apa junkyu mampu bertahan hingga kebahagiaan itu datang atau junkyu harus menyerah dan kembali ke penderitaan tanpa batas.
Thanks you very much
See you next chapter
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Baru Junkyu
Diversospemuda yang baru menginjak usia 17 tahun harus menikah dengan duda anak 2 yang anak keduanya berumur sama dengan pemuda tersebut. Di usia 17 tahun harus menjadi seorang istri dan ibu sekaligus, entah apa yang di pikirkan keluarga pemuda tersebut hi...
