Junkyu sudah di pindahkan ke kamar Jeno bahkan dokter tadi sudah datang memeriksa Junkyu namun bukan kabar baik yang mereka dapat malahan kabar dimana Junkyu mengalami koma sementara karena banyaknya air yang masuk ke dalam paru-parunya jika dalam 2 hari Junkyu tidak sadar maka bisa di katakan Junkyu koma dalam jangka panjang atau bisa di simpulkan meninggal.
Ini sudah terhitung satu hari Junkyu tidak sadarkan diri masih berbaring di kasur miliknya dan Jeno. Wajah damai Junkyu membuat hati Jeno sakit. Wajah damai yang tidak pernah Jeno bayangkan kini terpampang jelas di depan matanya.
"Hei kenapa kau menenggelamkan dirimu sendiri hmm sesulit itukah hidupmu" lirih Jeno. Ya Jeno memilih tidak ke kantor hanya untuk menemani sang istri. Meski baru satu hari hidup bersama tapi Jeno tidak bisa berbohong dengan mengatakan bahwa ia tidak memiliki rasa kepada Junkyu. Jeno merasa nyaman dan tenang jika berada di sekitar Junkyu.
Jeno menelungkup kan wajahnya dengan tangan Junkyu di genggamannya sedangkan di sekolah Haruto. Haruto hanya diam saja sedari datang hingga kini istirahat.
"To" panggil teman Haruto yang bernametag Park Jeongwoo, Jeongwoo adalah teman sedari kecil Haruto namun baru 1 tahun yang lalu mereka kembali bersama karena Jeongwoo harus ikut pergi bersama keluarganya karena pekerjaan orangtuanya.
"Haruto kenapa" tanya Zhong Chenle atau sering di panggil Chenle , Jeongwoo menggeleng
"Entah, sejak masuk kelas Haruto terus diam menatap kosong kedepan seolah nyawanya berpisah dari tubuhnya " ujar Jeongwoo sendu melihat teman masa kecilnya tidak baik-baik saja.
"Ini lebih buruk dari Haruto kehilangan mommy nya" ujar Yong Jaehyuk yang baru datang dari kantin membelikan makanan ringan untuk Haruto.
"Haruto" teriak cempreng seorang gadis membuat ke empat pemuda teman Haruto menghela napas dan sedikit memberi jarak dari Haruto karena gadis itu akan mencerca mereka jika berada terlalu dekat dengan Haruto.
"Haruto sayang kini ke kantin yuk" ajak gadis itu terus merecoki Haruto tanpa melihat keadaan Haruto sedikitpun. Teman-teman Haruto menatap sendu Haruto yang merasa tertekan.
"1, 2, 3" ujar Jaehyuk
Brak
Gadis itu terdorong dan menabrak kursi di sebelah kursi Haruto duduk "Lo bisa diam nggak sih, nggak liat orang lagi nggak mood ha dasar anj***" teriak Haruto menatap nyalang gadis itu yang kini tertunduk merasa malu dan sakit karena tabrakan dengan meja di belakangnya.
"Kalau Lo masih mau hidup jangan ganggu hidup gue bangsat" teriak Haruto lagi dan pergi meninggalkan kelas. Haruto akan memilih bolos untuk saat ini agar moodnya tidak semakin buruk. Keempat teman Haruto mengikuti Haruto yang kini pergi ke rooftop.
Haruto merebahkan tubuhnya di lantai rooftop yang langsung di terpapar oleh matahari, jangan kalian berpikir rooftop akan ada sofa atau kursi tempat Haruto dan yang lain nongkrong karena rooftop hanya kosong dan beberapa barang disana.
Air mata Haruto mengalir di sela lengan Haruto, Haruto sangat takut kehilangan Junkyu bagi Haruto Junkyu sudah menjadi poros hidupnya jika Junkyu pergi maka Haruto tidak akan bisa berjalan di jalannya.
Teman-teman Haruto terkejut melihat Haruto menangis, sudah berteman selama 5 tahun namun baru kali ini mereka melihat Haruto menangis bahkan saat kehilangan mommynya Haruto tidak pernah menangis hanya sifatnya yang berubah.
"Kacau" ujar Jeongwoo menatap sendu Haruto. Teman-teman Haruto memilih untuk menjauh dari Haruto karena tidak mungkin mereka mendekati Haruto dalam keadaan kacau seperti itu.
Di kampus tempat dimana anak pertama Jeno belajar. Terlihat anak sulung Jeno bergegas keluar kampus mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Entah sadar atau tidak anak sulung Jeno tidak memperlambat laju mobilnya hingga sampai di depan sekolah Haruto. Tanpa pikir panjang anak sulung Jeno berlari masuk ke dalam memanggil nama Haruto.
"Haruto" teriak sang kakak terus memanggil nama Haruto. Namun tidak mendapatkan jawaban atas teriakan yang di berikan.
"Kenapa kau teriak di jam belajar seperti ini" ujar seorang guru merasa jengah dengan tingkah orang yang datang tanpa permisi dan kini membuat onar. Entah apalagi yang di lakukan Haruto hingga orang itu mencari Haruto.
Anak sulung Jeno berbalik dan menatap tajam guru tersebut "diam bangsat, dimana Haruto" ujar anak sulung Jeno dengan sorot tajam bahkan jika itu pisau bisa saja melukai jantung guru yang tadi menegurnya.
"Hyung" ujar salah satu teman Haruto yang memang memilih ke lantai dimana kelasnya berada karena ada yang ingin di ambil. Anak sulung Jeno yang bernama Renjun lee atau sering di panggil injun.
Renjun berbalik menatap datar teman Haruto "Haruto di rooftop" ujar teman Haruto yang bernametag park Jihoon.
Renjun abai dan berlari ke rooftop dan benar saat pintu rooftop terbuka terlihat tiga teman Haruto yang berada tidak jauh dari pintu dan ada Haruto yang masih berbaring di lantai rooftop. Renjun mendekat dan duduk menarik tangan sang adik.
Haruto menatap Renjun dengan mata sembab, air mata Haruto kembali jatuh membuat hati Renjun sakit. Bukan ini yang Renjun mau, Renjun hanya ingin melakukan tes untuk Junkyu namun tes yang di lakukan malah membuat Junkyu mengakhiri hidupnya.
Renjun menarik Haruto dan memeluknya, Renjun menangis begitu juga dengan Haruto "Hyung hiks bunda hiks nggak akan pergi kan hiks" Renjun menggeleng, tidak sanggup melihat dua orang yang selama ini menjadi penyemangat nya hancur hanya karena tindakan cerobohnya.
"Nggak hiks bunda akan bersama ruto hiks bunda akan selalu bersama kita hmm" Haruto meraung mengingat bagaimana wajah pucat dan tenang Junkyu yang terbaring di kamar sang Daddy.
"Akhhhh" teriakan Haruto membuat keempat pemuda dan beberapa guru yang memang mengikuti Renjun tadi menatap sendu. Meski Haruto anak nakal tapi Haruto tidak pernah berkelahi, Haruto hanya sering bolos dan tidur di kelas hanya itu kenakalan yang Haruto lakukan dan itupun terjadi setelah sang mommynya pergi.
"Bunda" belum selesai Renjun berbicara Haruto langsung berlari turun dari rooftop, pikiran buruk sudah memenuhi kepala Haruto. Tidak mungkin Renjun datang ke sekolah jika itu bukan kabar buruk itulah pikiran Haruto.
Thanks you guys
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidup Baru Junkyu
Casualepemuda yang baru menginjak usia 17 tahun harus menikah dengan duda anak 2 yang anak keduanya berumur sama dengan pemuda tersebut. Di usia 17 tahun harus menjadi seorang istri dan ibu sekaligus, entah apa yang di pikirkan keluarga pemuda tersebut hi...
