"Jadi dengan ini, rapat saya tutup." ucap seorang pria yang duduk paling depan.
Tok Tok Tok.
Bersamaan dengan dipukulnya palu sidang untuk menutup rapat formal mereka, para peserta sidang melonggarkan formalitas mereka.
"jadi bagaimana?" seorang berjalan mendekat kearah pemimpin sidang yang sekarang merapikan barang - barangnya.
"bagaimana apanya?" tanya yang ditanya.
"kau jadi bermalam dirumah?"
Satu helaan nafas dan pria yang ditanya bangkit dari duduknya.
"Iya." jawab Atlan meraih tasnya kemudian berjalan keluar dari ruang itu.
Marko, sahabatnya yang tadi bertanya dengan cepat menyusul.
"Sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan." Marko menyamakan langkah mereka "Tapi kalau tante Tifan bertanya, aku harus jawab apa?"
Ah, malas.
Atlan terlalu malas menjawab pertanyaan itu lagi.
Sebenarnya, keluarga Atlan bukan yang strict jika tentang menginap di mana atau dengan siapa. Lagipula Atlan adalah pria yang sudah genap berusia 22 tahun. Cukup dewasa untuk tidak lagi ditanya keberadaannya.
Hanya saja, hari ini adalah hari yang cukup penting. Tidak untuk Atlan, tapi untuk ibunya yang punya ambisi cukup besar.
Ulang tahun perusahaan mereka di lansungkan malam ini. Dari semua hari, Atlan diharuskan tidak menghilang malam ini. Normalnya Atlan menurut, bagaimanapun itu bukan permintaan berat.
Hanya saja, Atlan tidak sedang dalam hubungan yang baik dengan keluarganya, ini masalahnya. Jadi disanalah dia pada akhirnya, meminta tampungan pada sahabat sekaligus sepupunya.
Atlan menolak untuk datang keacara itu.
"Kalau tidak datang, warisanmu,."
Oh ayolah, itu lagi. Atlan berbalik dan memasang wajah tidak bersahabat pada Marko.
Marko ini memang sangat suka dengan uang. Itu kenapa dia sangat penurut pada keluarga besar mereka. Dia tidak ingin kehilangan barang sepeserpun warisan yang ia punya hanya karena bersikap bandel.
"Okay,. okay." ucap Marko kemudian "Kau boleh tinggal malam ini."
Atlan melanjutkan langkahnya memasuki area parkir masih dengan Marko disampingnya.
"Tapi dengan satu syarat."
Atlan membuka pintu mobil, dan masuk kedalam mobilnya disusul oleh sang sepupu dibangku penumpang.
Lalu tepat pada saat pintu ditutup, "Tidak gratis." tambah Marko.
Atlan hanya melirik sebentar.
Sebentar sekali sebelum memilih abai. Memangnya sejak kapan ada kata gratis dalam hubungan mereka?
Jeno tidak punya tenaga memperpanjang perdebatan. Rapat hari ini berjalan cukup kacau, sekarang sudah hampir jam 8 malam, dan dia hanya ingin pulang, mandi kemudian tidur.
Dia butuh tidur setelah hampir 3 hari tidak mendapatkan istirahat karena kegiatan BEM yang kali ini cukup padat mengingat jadwal salah satu proker besar miliknya sudah semakin dekat.
Karenanya, Atlan tidak berpikir banyak ketika ia mulai menarik tuas dan memutar setir mobilnya.
Tapi itu tepat 5 detik setelah mobil miliknya bergerak tidak sampai 5 meter, Atlan menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa?" tanya Marko yang sudah nyaman dengan setelan kursi di samping kemudi.
Atlan diam sebentar, tampak berfikir sebelum kemudian memejamkan matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ATLAN || NOMIN
FanfictionSean, si mahasiswa kupu - kupu tiba - tiba mencari masalah dengan presma kampus. Jm as Seanda Alwis Jn as Atlanta Samudra
