"Beberapa hal di dunia ini memang lebih baik di biarkan tetap menjadi masalalu. Tidak perlu di sentuh atau kau akan merusak dirimu sendiri." kalimat ini keluar dari bibir keriput dengan gincu berwarna merah gelap.
Tangannya mencengkram kuat pergelangan tangan lelaki muda yang tadinya minta untuk diramal olehnya.
Sean menarik tangannya sedikit kencang ketika merasa cekalan dari wanita itu berubah menyakiti pergelangannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Atlan menginterupsi cekalan kasar wanita itu pada tangan Sean.
Lalu secepat itu, wanita tua itu melepaskan cekalannya setelah melirik pada Atlan. Hanya sebentar, lalu satu senyum miris muncul di wajahnya "Takdir yang buruk." ucap wanita tua itu sebelum selanjutnya pergi dari sana.
"Apa - apaan dia?" tanya Atlan dengan raut tak bersahabat.
Oh kalian mungkin bingung. Jadi apa yang terjadi sekarang adalah Sean dan Atlan sedang berada di taman bermain.
Jangan tanya bagaimana mereka bisa berakhir di sana. Setelah drama kecelakaan mobil yang di alami keduanya, Atlan menelpon seseorang untuk mengurus itu. Dan mereka melanjutkan perjalanan yang Sean sudah rencanakan sebelumnya dengan menggunakan taxi.
Atlan tau dia yang membiarkan Sean memilih kemana mereka akan pergi, tapi sedikit kaget ketika taxi yang membawa keduanya berkendara cukup jauh dan berhenti tepat setelah hampir 2 jam perjalanan.
Atlan protes. Tentu saja dengan tatapan tak bersahabat. Hanya saja, sudah sejauh itu, protes Atlan tampak terpantul semuanya saat sampai pada Sean.
Sean tampak mendengarkan, tapi setelah Atlan selesai, ia mengembalikan senyumannya dan menyeret Atlan memasuki taman bermain tanpa mengatakan apapun.
Atlan? Lagi - lagi berakhir dengan hanya mengikuti apapun yang Sean lakukan. Jangan tanya, Atlan sudah bilang, dia penasaran. Karena itu ia akan membiarkan Sean untuk sekarang.
Lalu selanjutnya, mereka mencoba beberapa wahana sebelum sampai pada keputusan Sean ingin mencoba menebak masa depan.
Tapi siapa yang menyangkan, bahwa wanita yang memang tampak menyeramkan itu mengeluarkan kalimat yang kemudian membuat Sean menjadi sediam ini?
Yah, diam. Karena beberapa saat setelah kejadian itu, Sean tampak berbeda.
Dia lebih diam dan semangatnya benar - benar hilang.
"Apa kau percaya pada ucapan cenayang itu?" tanya Altan kemudian.
Saat ini mereka sedang berjalan menuju keluar dengan Atlan berjalan beberapa langkah di belakang Sean. Itu terjadi setelah Sean mengatakan tidak enak badan dan ingin segera pulang.
Sean tidak menjawab, atau bahkan berbalik.
Dan Atlan tidak mengulang pertanyaannya.
Mereka hanya berjalan begitu sampai beberapa saat.
Sampai,.
"Sam, aku lapar." Lapor Sean sembari berbalik, wajahnya cemberut.
"Lapar?" tiba - tiba?
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ATLAN || NOMIN
Fiksi PenggemarSean, si mahasiswa kupu - kupu tiba - tiba mencari masalah dengan presma kampus. Jm as Seanda Alwis Jn as Atlanta Samudra
