"Hei, tapi Marko bukan orang jahat tau. Kenapa kau bicara seolah dia adalah kuman yang harus kau hindari?"
Benar, Marko bukan orang jahat. Tapi bertemu dengan Marko di tempat Hago jelas bukan hal yang benar.
Sean mungkin bukan orang baik, tapi itu terlalu tidak bermoral untuk membiarkan Hago berada diantara mereka saat dia tidak tau apapun.
Sean bukan orang yang peduli pada orang lain, setidaknya bukan lagi. Tapi Hago membuatnya tidak nyaman.
Ini tentang,.
Sean menarik nafas dalam sebelum selanjutnya menekan pin sebuah unit apart. Yang jelas, unit itu bukan punya Hago.
Pinnya benar, dan pintu di depan Sean terbuka setelahnya.
Itu baru beberapa langkah setelah Sean memutuskan untuk melangkah masuk, dan suara yang jelas familiar untuknya adalah yang pertama menyambutnya.
"Kau datang." ucap orang itu sembari tersenyum hangat, seperti biasanya.
Sean mengalihkan pandangannya sebelum memutuskan untuk masuk lebih dalam.
Marko tak banyak protes, dia mengambil gelas, lalu jus dari dalam lemari pendingin. Menuangkan jus itu kedalam gelas sebelum meninggalkan dapur untuk berjalan kearah Sean yang sudah duduk di sofa.
Pertama, Marko meletakkan jus itu di meja.
Lalu selanjutnya, ia duduk tepat di samping Sean dan meraih tangan yang lebih muda untuk memperhatikan bekas kecakalan yang meski tak tampak terlalu parah, tapi itu meninggalkan bekas.
Sean diam, tampak dingin, tapi dia tidak benar - benar menolak saat Marko menyentuhnya.
"Apa ini sakit?" Tanya Marko dan secepat itu Sean menarik tangannya.
"Berhati - hatilah dengan Renan. Dia mungkin kecil, tapi dia mengikuti banyak pelatihan sejak ia masih kecil. Dia bisa memukulmu dengan kuat jika dia ingin."
Tapi apa Sean peduli? "Kau melanggar janjimu." ucap Sean lansung pada pointnya, terlalu malas menanggapi ucapan Marko yang menurutnya tak begitu penting.
Marko menaikkan sebelah alisnya, sebelum "Oh, soal kemarin?"
"Kau tak datang, jadi ku kira kau ingin aku yang datang."
"Kau gila." ucap Sean melempar tatapan tak senang kearah Marko.
"Kau tau itu dengan baik,." ada jeda, Marko menyentuh anak rambut milik Sean dengan tangannya ",. sayang."
"Jangan lakukan itu lagi." Sean menyingkirkan tangan Marko darinya. "Ini tidak lucu."
Dan Marko menarik diri dengan gampang sebelum merebahkan dirinya pada sandaran kursi sembari menatap langit - langit "Kau terlalu serius." ucapnya kemudian.
Tapi Sean tidak ingin basa - basi "Kau harus janji Mark."
Marko memutar bola matanya malas.
"Janji kau tidak akan datang ketempat Hago lagi."
"Apa kau cemburu?"
"Apa aku gila?" tanya Sean dengan nada serius "Kau pikir Hago akan tersenyum hangat saat tau apa yang terjadi antara kita?"
"Memangnya apa?" Marko melirik sebentar kearah Sean dengan tatapan meledek. Tapi hanya sebentar sebelum mengembalikan tatapannya kelangit - langit apartnya "Baik." ucap Marko malas "Tapi bisakah kau pergi sekarang, cantik? Kau membuat moodku memburuk."
Dan tidak perlu di minta dua kali, tepat setelah kalimat itu, Sean bangkit untuk meninggalkan tempat itu.
Yah, setidaknya sampai suara Marko kembali mengudara, Sean menghentikan langkahnya sebentar.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ATLAN || NOMIN
FanfictionSean, si mahasiswa kupu - kupu tiba - tiba mencari masalah dengan presma kampus. Jm as Seanda Alwis Jn as Atlanta Samudra
