16

1.3K 114 2
                                        



Flashback.

"Noah Nalend." ucap Sean sembari mengulurkan tangannya kearah Atlan muda "Noah boleh, Nalend juga boleh," sambung Sean.

Atlan muda memperhatikan uluran tangan Sean saat itu. Cukup lama, sampai tangan Sean yang terulur kearahnya menjadi sedikit pegal.

Sean menggoyangkan tangannya "Hei, ayo di jabat. Lenganku lelah." ucap Sean menahan lengannya dengan tangannya yang lain.

Atlan menghela nafas, tapi meski begitu ia tetap meraih tangan milik Sean.

"Sebutkan nama." perintah Sean.

"Kau tau namaku."

"Kau terlalu percaya diri." Sean memutar bola matanya malas.

Atlan mengerutkan alisnya, menghela nafas lagi "Atlan."

"Kalau itu aku tau." ucap Sean menahan tangan Atlan dalam cengkramannya "Lengkapnya." tambah Sean.

Atlan menatap tangan mereka yang bertaut "Samudra. Atlan Samudra."

"Samudra." Sean menangguk, mata mereka bertemu dan Sean tersenyum lebar "itu nama yang bagus." komentarnya dengan senyum yang masih sama lebarnya.

Atlan diam pada tatapan Sean padanya "Kau,." ada jeda,. "Noa,."

"Nalend." potong Sean muda "Nalend. Kau boleh memanggilku begitu."

"Nalend?"

"Kau harus merasa terhormat, kecuali ibuku, tak ada yang memanggilku dengan nama itu." ucap Sean tertunduk, memutus kontak mata mereka, tampak agak malu - malu menjelaskan point ini.

Atlan tampak berfikir saat itu, dari mata Sean, pandangan Atlan kembali turun menatap tautan tangan mereka.

"Apa kau sedang mengakui perasaanmu sekarang?" tanya Atlan, dan Sean dengan cepat mengangkat pandangannya.

"Hei, apa maksudmu?"

Atlan melihat itu.

Telinga Sean memerah, perlahan menjalar kepipi. Sederhana, tapi Atlan di buat terkekeh. Tebakannya jelas benar. Walaupun Sean,.

"Bukan." groginya tertebak, kalimatnya salah "Maksudku, tidak." koreksi Sean cepat.

Sean hampir menarik tangannya. Terlalu memalukan mendapati perasaannya tertangkap basah oleh Atlan.

Bukan itu rencana Sean menghampiri Atlan siang ini setelah seminggu berlalu kejadian Atlan menegurnya dengan nafas berantakan di atap.

Oh author lupa menjelaskan situasinya. Jadi Sekarang keduanya sedang berada di ruang kelas yang cukup sepi, hampir 45 menit seteleh bel pulang sekolah berbunyi.

Karena begadang semalaman bermain game, Atlan jadi jatuh tidur di jam pelajaran terakhir. Sepertinya tak ada yang berani membangunkan tidurnya, takut terlibat masalah jika Atlan tak senang. Jadi disanalah dia akhirnya bangun, 40 menit lebih lama dari jam pulangnya seharusnya.

Jadi itulah bagaimana ia berakhir berdiri tak jauh dari kursinya sebelum mendapat cegatan dari Sean.

Sedang Sean?

Sean disana karena sengaja. Ingat tidak kalau mereka ini berada di kelas yang sama? Ingat juga tidak kalau Sean sebenarnya menaruh sedikit perhatian pada Atlan? Nah setelah jam pulang sekolah berbunyi, Sean sebenarnya berniat untuk segera pulang seperti teman - temannya.

Tapi kalian bisa membayangkan situasi ini: orang yang diam - diam mencuri perhatianmu, sedang tertidur lelap di bangkunya, tampak tak terganggu bahkan oleh bising teman - teman kelas yang meninggalkan kelas satu per satu.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang