"Aku meninggalkannya." ucap Sean menjawab pertanyaan semua orang.
"Dengan cara paling buruk yang aku bisa."
"Juga dengan kalimat yang menjelma jadi yang paling aku sesali kemudian."
Flashback
Sejak dekat dengan Atlan, mungkin tak banyak yang berubah dimata semua orang yang hanya melirik sekali ke bangku paling belakang dikelas mereka, dimana anak paling pintar dalam hal akademik di angkatan mereka duduk.
Noah Nalend sejatinya memang bukan orang yang menonjol.
Hoodie kebesaran, pendiam, selalu memperpendek percakapan, dan tampak membosankan. Selain belajar, dia tidak tampak menarik sama sekali.
Dia seperti cinderella, selalu pulang tepat waktu dan tampak tak tau caranya berteman.
Dia juga selalu memisahkan diri, tak ramah sama sekali.
Jadi jika kalian pikir dia di kucilkan, kalian salah. Dialah yang mengucilkan dirinya sendiri. Seolah membangun benteng tinggi dan tidak mengizinkan siapapun untuk menjadi temannya.
Cantik. Sekali lirik, semua orang akan sepaham.
Hanya saja,. dia sering tampak menyedihkan dibeberapa titik. Tapi meski begitu, sekali lagi, bentengnya tidak membiarkan siapapun untuk mendekat dan bertanya. Entah tentang bekas luka di wajahnya, atau bagaimana terkadang ia muncul di sekolah dalam keadaan pincang. Atau hari lain bagaimana dia absen tanpa ijin.
Noah memang tidak pernah mengijinkan siapapun punya kesempatan untuk bertanya.
Sampai hari itu datang.
Anak baru di kelas mereka, berlari menyusuri anak tangga menuju atap hanya untuk menahannya melakukan sesuatu yang sebenarnya Noah (Sean) tidak pernah ingin lakukan.
Sampai hari itu, Noah mulai sedikit lunak pada motto hidupnya dan berakhir melangkah kaki untuk mengulurkan tangannya lebih dulu pada Samudra.
"Noah Nalend." ucapnya siang itu sembari tersenyum hangat, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Lalu dari sana, semuanya benar - benar dimulai.
Baca narasi pertama kilas balik ini? 'Setelah perkenalan singkat mereka, tak ada yang berubah jika di lihat sekilas.'
Atlan dan Noah masih orang yang sama. Jarak masih tampak sangat jelas antara mereka.
Noah dengan bukunya, Atlan dengan sibuknya sendiri.
Hanya saja, tidak benar - benar begitu kok.
Diam - diam, mereka memulai pertemanan kecilnya tanpa diketahui semua orang.
Itu berawal dari pesan singkat yang Noah terima di malam setelah kejadian dimana ia mengulurkan tangannya pada Samudra.
Lalu semakin lama, pesan itu menjadi semakin intens.
Atlan tidak sekasar kelihatannya, dan Noah juga tidak tampak sediam kelihatannya.
Dua anak manusia itu, tampak berbeda pada satu sama lain, di luar formalitas mereka sebagai teman yang berada di kelas yang sama.
Dari malam itu, pesan singkatnya bertambah, bahkan di bawah meja saat kelas berlansung, Sean akan membalas pesan Atlan diam - diam.
Lalu keduanya akan terkikik pelan dengan dunia mereka. Menertawai percakapan mereka yang sebenarnya tidak begitu penting.
Kadang itu tentang guru mereka yang tampak menyebalkan, hari yang terlampau terik, lalu hanya hal - hal sederhana yang mereka tukar untuk bercerita.
Noah mungkin tampak diam, tapi dia menyimpan banyak keluhan pada guru matematika mereka. Pun Samudra. Dia mungkin akan tampak tenang pada kakak kelas yang datang kekelas untuk sekedar menyapa dan mengajaknya makan, tapi sebenarnya dia sama muaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ATLAN || NOMIN
Fiksi PenggemarSean, si mahasiswa kupu - kupu tiba - tiba mencari masalah dengan presma kampus. Jm as Seanda Alwis Jn as Atlanta Samudra
