32

724 80 14
                                        


Sesuai ucapannya, Marko menjemput Sean dini hari, hari itu.

Sean keluar dari apart Hago tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang melekat pada tubuhnya.

"Ayo." ucap Marko.

Sean diam, ia berjalan masuk kedalam mobil.

Hening.

Tak banyak pembicaraan setelah itu.

Mereka berkendara dengan tenang. Marko menyetir dan Sean duduk dibangku penumpang belakang, menatap keluar tanpa mengatakan apapun, bertindak seperti dua orang asing.

Jalanan agak longgar waktu itu. Tapi Marko menyetir dengan kecepatan standar, Seolah memberi Sean kesempatan untuk berada disana sedikit lebih lama.

Meski yah, mereka berdua tau bahwa itu tidak akan berarti banyak.

"Apa kata Samudra?" Sean.

"Kau punya permintaan?" Marko.

Dari hening yang panjang, kalimat itu terlempar bersamaan.

Hening sebentar kesebelum Sean menjadi yang pertama tertawa pelan, lalu Marko ikut tertawa.

Miris yang sayangnya entah bagaimana menjadi lucu dengan cara aneh.

"Sean,."

"Apa kau benar - benar kalah?" potong Sean.

Sekarang, gantian Marko yang diam.

Lalu hening kembali diantara mereka.

Cukup lama sampai mobil memasuki gerbang bandara. Baru saat itu Sean menjadi yang pertama angkat bicara.

"Hari itu, sebenarnya, aku tak berniat mati." ucap Sean kemudian.

Marko melirik kearah Sean dari kaca spion. Sean masih sama, pada posisinya menatap keluar jendela.

"Mark, ini adalah pengakuan dosa." Tambah Sean.

Marko diam, dia menunggu Sean untuk membuka mulutnya lebih banyak.

"Aku melompat karena putus asa. Terima kasih sudah menyelamatkanku."

"Mark, aku sebenarnya cukup jahat. Malam kecelakaan itu terjadi,." Sean mencakar tangannya kuat "Aku disana." aku Sean kemudian.

"Alasan kenapa nyonya Tiffany begitu membenciku, itu karena aku adalah penyebabnya."

"Nalend,."

"Aku tidak hanya kabur dari pestanya, malam itu, Samudra mengejar taxi yang mengantarku kebandara." Sean semakin keras menancapkan kukunya di tangannya mengingat moment itu.

Sementara mobil masih melaju stabil dan tatapannya masih menatap keluar, ingatan Sean menjelajah jauh kepristiwa lama yang tidak mungkin ia lupa.

Flashback:

Malam itu hujan, Atlan sudah menunggu dilobby dengan jas putihnya.

Sebenarnya malam itu cukup spesial. Ulang tahun sekaligus pengumuman pertunangan Atlan dan Nalend. Sesuatu yang Atlan rencanakan dengan cukup berani di usianya yang baru akan genap 19.

Keluarga Atlan tau kok rencana Atlan. Sudah ia umumkan di makan malam keluarga dan sudah dapat ijin dari kakeknya.

Seandainya semuanya berjalan lancar, maka Nalend akan resmi menjadi seseorang yang akan mendampinginya.

Impian mereka kuliah di luar negeri, dan menciptakan keluarga kecil yang harmonis pasti akan terwujud.

Senyum Atlan tak luntur - luntur mengingat sejauh mana ia sudah merencanakan kehidupan mereka dimasa depan. Malam itu, semuanya berjalan terlalu sempurna untuk Atlan.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang