Jika kalian pikir Atlan masuk kedalam indekos mewah berlantai dua itu secara suka rela, kalian salah.
Karena faktanya, ia harus masuk karena Sean mengatakan ia lapar dan tidak bisa melakukan apapun karena tangannya cedera.
"Aku kidal." katanya dengan raut sedih yang berlebihan.
Sangat manja, tapi pada akhirnya Atlan berakhir disana.
Alasannya? Jangan tanya dulu.
Lagipula, tidak akan ada yang terjadi antara mereka.
Hitung - hitung bertanggung jawab.
"Tapi dengan satu syarat."
Mata Sean berbinar, dia tidak tau akan semudah itu.
"Mulutmu, tutup itu." Lirik Atlan dengan tatapan yang sama seperti tadi - tadi.
Lalu Sean dengan cepat membuat gerakan menarik zip imajinasi pada mulutnya sebelum kemudian mengangguk ribut.
Itu mudah, pikir Sean.
Lalu disanalah Atlan akhirnya.
Duduk sembari menyuap Sean yang tampak tak luntur senyumannya.
Dan jika sekali lagi kalian pikir Atlan suka rela, kalian tetap salah. Atlan tidak suka diperintah oleh siapapun terlebih orang asing.
Tapi sekeras - kerasnya Atlan menolak, Sean kembali berhasil membuat Atlan melakukan itu.
"Tapi katanya kamu akan tanggung jawab." ucap Sean dengan wajah memelas.
Tidak berhenti disitu, bocah bodoh itu menumpahkan makanannya, dan makan dengan berantakan.
Atlan tau Sean sengaja, tapi itu menjijikkan dan selanjutnya Atlan melakukan itu.
Jangan tanya kenapa Atlan mau, itu terjadi hanya,..
Begitu saja.
Atlan kembali sesaat setelah Hago datang dan disinilah dia sekarang, berbaring diatas kasurnya sembari mengingat kembali hal bodoh yang ia alami hari ini.
Itu lumayan melelahkan. Tapi sepertinya hari ini tidak akan ada apa - apanya di bandingkan hari selanjutnya yang akan dia lalui. Tapi tau apa yang Atlan sedang pikirkan? Ia pikir, itu cukup menarik.
"Aku pasti sudah gila." ucap Atlan sebagai respon dari pikirannya sendiri.
Wajar, rasanya seperti bukan dia.
Hanya saja, ini lumayan menarik, dan Atlan penasaran.
Jujur, ini bukan pertama kalinya ia berhadapan dengan manusia yang bersikeras padanya seperti yang Sean lakukan.
Jujur lagi, Atlan bisa saja menyingkirkan Sean. Bukan dengan tangannya, tapi dengan kuasanya. Menyuruh satu anak dari sekian banyak penjilat yang berusaha memenangkan perhatiannya untuk membuli Sean jelas bukan hal yang sulit.
Dan, sebenarnya ini tidak seberat itu.
Ini rahasia. Hanya saja, satu tatapan yang ia tangkap pada pertemuan pertama yang mereka punya, dan Atlan tidak bisa berhenti memikirkan orang itu.
Ada alasan kenapa Atlan tidak bisa mengingat nama orang itu ketika mereka pertama kali bertemu. Itu karena mata orang itu menguncinya disana. Membuat indra Atlan seolah mengambang di udara disekitar mereka.
Kemudian satu tatapan lain yang menyusul ketika ia keluar kelas dan mendapati sosok itu melambai padanya, satu tatapan berikutnya ketika mereka berhadapan secara lansung tempo hari di kelas Sean dan selanjutnya Atlan membiarkan semuanya berjalan begini.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ATLAN || NOMIN
FanfictionSean, si mahasiswa kupu - kupu tiba - tiba mencari masalah dengan presma kampus. Jm as Seanda Alwis Jn as Atlanta Samudra
