"Lalu, apa kau mau tidur denganku?" -Atlan
Tatapan Sean naik menatap kearah Atlan setelah mendengar kalimat itu.
Sepersekian detik setelah mata mereka bertemu, Sean tertegun.
Rasanya seperti mengulang waktu.
Di situasi yang berbeda, di masalalu, orang ini pernah mengatakan kalimat yang sama.
"Hei, apa kau mau tidur denganku?" -Samudra
Berkedip pelan, Sean melihat itu disana.
Dulu, kalimat itu keluar dari seorang laki - laki muda yang baru berusia 17, tatapannya malu - malu tapi penuh harapan. Sedangkan kalimat ini keluar dari mulut pria dua puluh tahunan, dengan tatapan datar, tampak meremehkan.
Siapa yang peduli tentang tatapan remeh itu? Yang Sean tau, Samudranya disana. Entah Atlan ingat atau tidak, lagipula mereka orang yang sama.
Jadi mengabaikan tatapan Atlan yang menatapnya rendah, Sean berakhir mengekori Atlan. Dilorong panjang menuju kamar yang sudah Atlan pesan di sebuah hotel, tak sedikitpun Sean melepaskan pandangannya dari punggung lebar milik sang dominan.
Sean tak peduli, jika Atlan akan merusaknya banyak, menanggalkan harga dirinya atau membuatnya hancur malam itu.
Yang Sean tau, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa jika waktu di ulang, dan mereka punya kesempatan untuk bertemu kembali, bahkan jika dia harus membayar itu dengan nyawanya, Sean tidak masalah sama sekali.
Karena semuanya sudah Sean putuskan sebelum dia memberanikan diri mengambil langkah untuk mendekati Atlan.
—"—
Marko sedang bersama Hago saat itu.
Mereka menikmati makan malam mewah dengan orang tua mereka yang duduk di sisi lain meja.
Semuanya tampak baik.
Orang tua sesekali melempar lelucon dan Hago yang memang handal di bagian itu selalu berhasil membuat semuanya tampak sempurna.
"Ku dengar, kau baru saja mendapat hadiah lebih awal dari tuan Lee, (kakek Marko, pemilik Argon) aku jadi penasaran calon menantu kami mendapat apa." ini papa tiri Marko, submissive yang di nikahi oleh ayah Marko.
Hago tersenyum malu - malu mendapati pertanyaan itu "Apa kakek tidak mengatakannya paman?" tanya Hago, mungkin karena tidak tau. Tapi hubungan keluarga Argon tidak seakrap itu untuk seorang menantu tau urusan mertuanya.
"Itu sebuah pulau." Ini Marko yang menjawab pertanyaan sang papa dengan wajah datar, senyumnya baru muncul ketika ia melirik krarah Hago yang duduk tepat disampingnya "Apa kau senang dengan itu?"
Hago mengangguk bersemangat membuat orang - orang di meja makan ikut tersenyum hangat "Aku rasa kakek sangat menyukaiku."
"Tentu saja dia sangat menyukaimu sayang." jawab ayah Marko.
"Renan bahkan tidak mendapat hadiah apapun dari tuan Lee, tentu saja ketua sangat menyukaimu." tambah papa tiri Marko.
Marko memutar bola mata malas, berbanding terbalik dengan Hago yang tampak bersemangat dengan kalimat calon mertuanya.
"Benarkah?"
Sekilas, semuanya tampak berjalan baik dimeja makan itu sampai Marko berdiri dari duduknya.
"Aku butuh ke toilet." ucap Marko sebelum meninggalkan tempat itu.
Satu pesan singkat yang masuk beberapa saat lalu kedalam ponsel Marko adalah apa yang membawa pria itu meninggalkan ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ATLAN || NOMIN
FanficSean, si mahasiswa kupu - kupu tiba - tiba mencari masalah dengan presma kampus. Jm as Seanda Alwis Jn as Atlanta Samudra
