22

743 85 8
                                        




Angin bertiup pelan, suara deru ombak yang terdengar sayup - sayup, tenang untuk sesaat.

Dari bibir tipisnya, satu senyuman muncul di wajah tampan Atlan.

"Sam, menurutmu seberapa jauh manusia bisa mengarungi lautan?"

Atlan membuka matanya yang terpejam mendengar kalimat itu.

"Aku penasaran." tambah suara itu.

Lalu mengalihkan tatapannya dari laut lepas di depannya kearah kepala yang bersandar nyaman di bahunya, berfikir sebentar sebelum tersenyum pelan dan mengembalikan pandangannya kelautan lepas didepan mereka.

Saat itu, senja.

Kedua anak manusia itu sedang duduk dipinggir pantai dengan Atlan yang membiarkan bahunya menjadi sandaran.

"Entah." jawab Atlan.

Orang yang bersandar pada Atlan mengerutkan alisnya, dia tampak tak puas dengan jawaban Atlan.

"Ulangi." ucapnya. Meski tampak tak senang, nadanya tetap terdengar lembut, Atlan suka, itu menyenangkan. "Kau harus menjawabnya dengan benar. Apapun, kecuali kata 'tidak tau' dan 'entah.'" protesnya.

Jadi orang itu berdehem pelan sebelum "Sam, menurut,."

"Nalend,." potong Atlan.

Nalend menghentikan pertanyaannya ketika Atlan memotong ucapannya "Em?" matanya berkedip lucu.

"Aku tidak peduli seberapa jauh manusia bisa mengarungi lautan." ucap Atlan, terdengar menggantung, jadi Nalend menunggu untuk mendengar lebih banyak.

Sayangnya Atlan tidak melanjutkan ucapannya.

Nalend berkedip pelan di tempatnya duduk "Samudra, apa itu? Apa kau baru saja bertingkah menyebalkan dengan cara yang lain?"

"I love you." ucap Atlan tepat setelah pertanyaan Nalend selesai.

"Tiba - tiba?"

Samudra terkekeh pelan "Apanya yang tiba - tiba? Aku selalu mencintaimu, jadi itu tak tiba - tiba."

Samudra kemudian bangkit dari duduknya. Nalend yang tiba - tiba kehilangan sandaran ikut mendonggak mengikuti gerakan Samudra.

Samudra memberikan tangannya, agak tak paham, tapi meski begitu Nalend tersenyum dengan sangat cantik sebelum meraih uluran tangan itu tanpa bertanya.





"Hei."

Atlan tersentak pelan dari tidurnya.

Saat membuka matanya, wajah Celo adalah yang pertama ia temukan.

"Sebenarnya apa yang kau mimpikan?" tanya Karina begitu Atlan mendapatkan kesadarannya kembali.

"Kau tersenyum tapi kemudian meneteskan air matamu seperti itu."

Mendengar ucapan itu, Atlan memegang wajahnya sendiri, dan benar saja, ada sedikit basah di sana. Dia menangis(?) tapi kenapa?

Orang dalam mimpinya, yang bahkan wajahnya saja tidak bisa ia ingat,. tunggu.

"Nalend?" ucap Atlan kemudian, berhasil mengingat sesuatu dari mimpinya.

Celo yang sudah hampir bangkit meninggalkan Atlan untuk melanjutkan bermain gim nya menghentikan gerakannya mendengar nama itu disebut, sedang Karina tak banyak bereaksi.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang