26

619 77 4
                                        



"Ada apa?" tanya Sean ketika ia mendapati Marko hanya diam setelah cukup lama dengannya.

Hari itu, Sean baru saja menyelesaikan sesi konsul yang selalu Marko sarankan. Sean bahkan datang pada Marko duluan, dia tidak dipaksa dan melakukan semuanya dengan baik. Dia menjadi mudah setelah sekian lama.

Hasil konsul yang dokter sampaikan juga baik. Katanya Sean membaik, banyak.

Sean tau kalau Marko juga pasti tau hal ini. Dokter itu bekerja untuk Marko.

Satu hal yang Sean tidak mengerti adalah kenapa Marko menjadi sediam ini sekarang. Dia jelas tidak melakukan kesalahan yang merugikan.

Tapi alih - alih menjawab pertanyaan itu, Marko hanya melirik sebentar kearah Sean.

"Sekarang sepertinya aku mengerti sebesar apa Atlan menginginkanmu."

Sean tak mengerti. Tiba - tiba?

"Konteks?"

Marko tidak mengatakan apapun setelahnya. Dijelaskan juga sepertinya Sean tidak akan mengerti.

Kalian tidak kenal Tiffany, jadi kalian tidak akan setertekan Marko. Dia jenis wanita ambisius yang melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.

Dan wanita ini adalah wanita yang sama yang menghukum anak orang lain yang masih berusia 18 tahun di negeri asing.

Marko melihat terlalu banyak hal, cukup banyak untuk membuatnya mengerti bahwa Tiffany bukan seseorang yang bisa ia tentang.


"Kalau kau punya pikiran itu, harusnya kau tidak melakukannya sejak awal."

Renan duduk dengan wajah tertekuk diruang kerja ayahnya.

"Ayah sudah bilang tidak usah kembali, sekolahlah di sana dengan tenang,."

Apa harusnya Renan tak melapor? Tapi mereka berdua terlalu menyebalkan. Termasuk pria centil yang sekarang sepertinya berhasil mengambil atensi Atlan. Itu menyebalkan.

Satu helaan nafas dan Renan mengubah wajah tertekuknya jadi memelas. Dia bisa saja keras pada semua orang, tapi ayahnya adalah orang yang memegang kendali atas seluruh hidup, pria yang sebaiknya tidak ia tentang "Aku hanya minta pertunangan resminya disegerakan ayah."

"Kau pikir pihak mereka akan setuju untuk mempercepat pertunangan resmi itu?" ada jeda, ayah Renan memegang punggung kepalanya yang tiba - tiba berdenyut nyeri "Seolah meminta pertunangan dengan keluarga Argon tidak cukup, sekarang kau ingin mempercepat acara resminya?"Dan selanjutnya ucapan ayahnya jadi panjang.

Satu hal yang Renan tangkap, itu tidak berjalan seperti maunya. Karenanya, Renan meninggalkan ruang kerja sang ayah dengan wajah semakin tertekuk, moodnya memburuk dan rasanya ia hanya ingin memukul seseorang.

Mungkin karena itu pula, dia segera kembali kekampus setelahnya.

Dia harus melampiaskan marahnya, kan? Dia harus melampiaskannya keorang itu lansung, cara paling efektif memperbaiki perasaannya.

Jadi waktu sibuk mencari target (tentu saja Sean) yang berhasil membuat moodnya berantakan, ia berpapasan dengan Celo yang sedang berkumpul dengan teman - temannya.

Sebenarnya Renan tidak tertarik, tapi Celo yang menghentikannya pertama kali.

"Kak Renan, kau hampir mengabaikanku." ucap Celo protes melihat bagaimana Renan memapasnya tak tertarik.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang