27

720 85 6
                                        



Sean tumbuh dengan kekerasan.

Sean tau apa yang dia hadapi. Tapi apa yang akan dia terima dari Renan, bukan hal baru. Dulu, saking seringnya mendapat itu dari ayahnya, Sean sampai merasa rasa sakit yang ia rasakan tidak lagi memukul kulitnya, tapi sesuatu yang lain dalam dirinya.

Kau mungkin tidak akan paham karena kau tidak pernah mengalami ini. Untuk orang yang terbiasa dengan kekerasan; dissosiasi, penyangkalan, atau mekanisme koping lain (termasuk kondisi trauma/PTSD) dapat membuat orang itu 'tampak' tidak merasakan sakit meski tubuhnya menerima pukulan.

Ini adalah dampak psikologis dan mungkin beberapa kerusakan saraf.

Alasan lain yang membuat Marko membawa Sean rutin untuk memiliki janji bertemu dengan psikolog dikamar hotel.

Sean tak sehat, sesuatu dalam kepalanya bermasalah.

Ini adalah hal lain yang membuat Renan kesal. Sean tidak tampak kesakitan atau semenderita itu dibawah pukulannya.

Padahal darah sudah menetes dari pelipisnya, Sean tersungkur disana, tapi tanpa permohonan padanya untuk berhenti.

Dia gila, bukan mainan yang menyenangkan, itu melecehkan ego Renan. Sesuatu dalam dirinya tidak terima tentang beberapa kali Sean masih berusaha  bangkit dan terkekeh pelan bahkan dengan pakaian yang sudah kotor dan wajahnya luka.

Renan hanya berniat menjadikan Sean samsat. Tapi kekehan dan senyuman pelan di wajah berantakan yang sialnya masih tampak cantik itu berhasil membangkitkan sesuatu dalam diri Renan.

Dia tak terima.

Satu pukulan lain dan Sean jatuh terkulai kelantai, lagi.

Berusaha melawan? Sedikit, sedikit sekali.

Kebanyakan, ia hanya mempertahan tubuhnya dari serangan untuk beberapa titik penting ditubuhnya.

Dulu, Samudra pernah mengajarinya itu.

Tentang bagian mana saja yang harus ia sembunyikan jika ia mengalami tindak kekerasan dari ayahnya.

Ah, Samudra yah?

Kepalanya memberat, tapi ingatan lain tentang masalalunya menerobos masuk dalam ingatan Sean.

Tau tidak, Samudra itu selalu menangis untuk Nalend. Entah untuk luka kecil yang Nalend punya atau kesalahan tak sengaja yang ia lakukan.

Samudra itu, sesayang itu pada Sean. Kejadian seperti ini pernah terjadi, tidak separah ini tapi Nalend ingat Samudranya pernah memukul anak - anak di sekolah hanya untuknya.

Ah sial. Dengan masalalu sebaik itu, bagaimana Sean memulai hidupnya dengan tidak memperjuangkan Atlan sekarang?

Semakin banyak tubuhnya terluka, semakin dalam rasa rindu Sean pada Samudranya.

Lalu ketepat ketika kepalanya semakin berat, dari balik pintu toilet, Sean mendengar namanya di sebut. Dan tidak lama, pintu itu terbuka secara paksa.

Tidak jelas, tidak detail, ia tidak bisa melihat pun mengingat lebih banyak, karena detik ketika pintu itu berhasil terbuka, semuanya menggelap. Sean kehilangan kesadarannya.

Lalu hari ketika dunia menjadi terang adalah ketika ia ia melihat langit - langit lorong.

Suara tangis Hago,

Dan wajah datar Marko.

Hanya sebentar, karena kantuk yang menyerangnya berhasil menang atas kesadarannya.

🍃

Hidup itu singkat.

Tapi itu lucu bagaimana orang - orang berjuang begitu keras untuk tetap bertahan sedang sebenarnya mati, jauh lebih mudah.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang