9

1.9K 182 12
                                        



Itu kelas pagi, saat Hago menyelinap masuk kedalam ruang kelas dan mengambil posisi tepat disamping Sean.

"Apa aku ketinggalan banyak?" tanya Hago setengah berbisik.

Meski Hago salah satu dari sekian anak konglomerat yang bersekolah disana, itu tidak berarti ia mendapat kelonggaran sehingga bisa seenaknya melanggar aturan disana. Di sekolah tempat mereka belajar, siapapun tidak bisa seenaknya jika bersangkutan dengan jam pelajaran, mata kuliah dan semacamnya. Bahkan jika dia anak pemilik yayasan sekalipun. (Atlan, yayasan tempat mereka bersekolah terdaftar di bawah nama mba Tiffany)

"Menurutmu?"

Hago menghela nafas pelan "Aku terlalu banyak minum semalam." dia memberi alasan, meski tak yakin Sean akan benar - benar peduli.

"Kau harus menghentikan kebiasaan burukmu itu." tegur Sean, berhasil membuat Hago melirik sedikit tak percaya kearah sang sahabat.

Btw, Sean ini bukan orang yang peduli banyak. Bahkan ketika peduli pada sesuatu, dia tidak banyak menunjukkannya dengan kata - kata.

Tapi lihat itu. Hago sebenarnya pernah dengar, tapi apa jatuh hati benar - benar seampuh itu mengubah seseorang?

"Waw, hari keberapa ini?"

Sean melirik kearah Hago mendengar pertanyaan aneh itu.

"Kau membuatku merinding. Apa jatuh cinta mengubah seseorang menjadi lembut?"

Sean menggeleng pelan sebelum kemudian mengembalikan fokusnya pada layar besar didepan sana.

"Kau tidak kelihatan beberapa hari ini." ucap Hago lagi.

Wajar, soalnya Sean tiba - tiba tidak kembali kekost mereka 2 hari ini.

"Apa kau menginap ditempat kak Atlan?"

"Kau memanggil kekasihmu dengan nama tapi memanggil orang lain dengan lebih sopan. Tunanganmu pasti akan terluka."

"Ah dia? Tenang saja, dia terlalu mencintaiku hehe." ucap Hago terkekeh pelan di tengah bisiknya.

Sean melirik sebentar kearah Hago, menatap Hago yang mulai fokus dengan buku miliknya sebelum mengembalikan fokusnya kembali pada layar didepan sana.

"Bagaimana tanganmu?" tanya Hago kemudian.

Sean melirik tangannya yang sejujurnya mulai sembuh. Tapi meski tatapannya melirik kesana, kepala Sean sibuk mempertanyakan hal lain: Kalau Hago tau lebih banyak tentang Marko, apa dia masih akan sepercaya diri ini?

Sean menghela nafas sebelum kemudian kepalanya berkelana lebih jauh.



"Hari ini apa?" tanya Atlan ketika mendapati Sean menghalangi langkahnya yang baru akan keluar kelas.

Sean tersenyum lebar mendapati pertanyaan Atlan. Itu baru beberapa hari, tapi tingkah Samudra yang familiar dengan mereka membuat dadanya sedikit penuh.

"Sam, kau tampak terlalu bersemangat. Apa kau menungguku?" tanya Sean dengan binar yang jelas kesenangan.

Tapi point mana yang membuat Atlan tampak bersemangat? Apakah Sean menyebut wajah datar itu 'bersemangat'?

Tapi kemudian Atlan menyeringai pelan, "Yah, aku menunggumu. Jadi mari lihat apa yang akan kau lakukan untuk membuatku tertarik hari ini."

Sean tersenyum mendengar ucapan Atlan. Tapi tidak lama, senyum itu cepat luntur ketika dari arah belakang Atlan, Marko datang dan merangkul Atlan.

"Jadi kita makan dimana?" tanya Marko bersemangat, "Waw, lihat siapa itu." ucap Marko begitu menemukan Sean berdiri disana.

Sean berdiri dengan wajah datar ditempatnya. Senyumnya hilang entah kemana, dan tentu saja itu menarik perhatian Atlan.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang