31

788 87 19
                                        




Sean berdiri tepat didepan base Atlan.

Dia menatap pintu itu lama.

Entah apa yang ada didalam pikirannya, tapi setelah beberapa menit, dia menekan beberapa pin dan.. yap, pintu didepannya terbuka.

Senang? Tidak, bibirnya melengkung kebawah.

Tidak lansung masuk, Sean menggerutu dengan suara pelan "Ini menyebalkan." katanya.

"Apanya?" tapi suara itu mengagetkan Sean. Dan yah, setelah pintu terbuka lebih lebar, Sean menemukan Samudranya disana, berdiri dengan tampang angkuh, seolah memang menunggunya membuka pintu itu.

Tidak salah sih, toh Atlan memang sudah berdiri disana beberapa saat. Dia memperhatikan dari cctv sebelum memutuskan untuk memantau Sean lansung dari video doorbell.

Alasan? Mungkin karena Sean berdiri terlalu lama disana, cukup lama untuk membuat seorang Atlan penasaran apa yang sedang sosok itu pikirkan dengan wajah yang tampak sejelek itu.

Wajah Sean yang sejak tadi Atlan lihat tampak sedih berubah cerah saat menemukan dirinya disana.

Sean tak mengatakan apapun setelahnya. Dia hanya tersenyum lebar, tapi matanya berbinar dengan cara yang tak Atlan pahami.

Tadinya, Atlan ingin mempertanyakan soal Marko, tapi melihat ini, Atlan seketika dibuat yakin bahwa; mustahil Sean tak menyukainya. Entah ini trik atau sesuatu yang semisal dengan itu, tapi binar ini membuat Atlan merasa menang atas rasa penasarannya tentang Marko dan Sean.

Sean diam, Atlan juga demikian, tapi mata mereka terkunci satu sama lain.

Hening, hampir 10 detik mereka hanya begitu, sampai Sean menjadi yang pertama merusak hening antara mereka.

"Hei, aku tau ini terdengar kocak karena rusukku bahkan belum pulih seutuhnya, " ada jeda, mereka masih pada posisi yang sama "Sam, ayo tidur denganku, lagi." ucap Sean terdengar ringan, enteng, mudah, penuh percaya diri.

Sama seperti saat ia menjawab ajakan Atlan waktu itu.

Atlan mengerutkan alis mendengar pernyataan. Tiba - tiba? Oke Atlan mulai ragu dengan apa yang sebelumnya sempat ia pikirkan.

"Apa ini sogokan? Atau,." ada jeda "Seana, apa kau memang semesum ini?"

"Kau bisa menganggapnya apapun." ucap Sean sebelum melangkah, mendekat, mengalunkan lengannya pada bahu Atlan dan mencium Atlan pelan.

Atlan tak bereaksi banyak, dia masih pada posisinya.

Gerakan Sean amatir, sepertinya dia tidak semesum itu. Entah apa yang dia cari dari ciuman itu tapi Atlan tidak menolaknya.

Sean menarik diri "Hei, bisakah kau sedikit ramah? Aku mulai putus asa." ucap Sean dengan nada pelan. Berbeda dengan binar yang ia lihat tadi, Atlan mulai memperhatikan tiap detail dan kali ini, Atlan melihat itu dimata Sean, dia putus asa seperti ucapannya. Ada sendu yang tak bisa Atlan pahami dengan baik.

Sejujurnya dia masih kesal, dan rasa penasarannya belum terjawab, hanya saja wajah sendu ini terlalu menarik dimata Atlan.

Sean mungkin saja menipunya. Hanya saja sesuatu dalam dirinya bergerak lebih cepat dari isi kepalanya, pun bibirnya. Tapi Atlan bersumpah, dia yakin 100%, jika kalian berada diposisinya, kalian tidak akan bisa menolak Sean. Atau mungkin Atlan hanya denial. Mungkin itu hanya pikirannya, karena dia mulai jatuh disana, semua tentang Sean mulai tampak terlalu menarik untuk bisa ia abaikan.

Tidak lama setelah ucapan Sean, Atlan mendorong pintu dibelakang Sean bersamaan dengan bibirnya yang kembali mendarat dibibir simanis.

Pintu terkunci otomatis, dan Atlan menuntun Sean untuk masuk lebih dalam.

SAMUDRA ATLAN || NOMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang